Oleh Arda Dinatahttp://ardaiq.blogspot.com
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta orang lain dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku sukarela di antara kamu.” (QS. 4: 29).
Berniaga atau berdagang dalam memenuhi biaya kehidupan sangat dianjurkan. Dalam sabdanya, Rasulullah Saw. mengungkapkan, “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”
Memang, bila kita baca riwayat hidup Rasulullah akan diketahui bahwa Nabi Saw. betul-betul sosok pedagang yang profesional. Namun, bedanya dengan kebanyakan pedagang saat ini adalah ia mengambil pekerjaan berdagang itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, buka untuk menjadi seorang jutawan.
Dalam setiap transaksi dagangnya, entah itu kecil ataupun besar, Nabi tidak pernah memberikan kesempatan pada para pelanggannya untuk mengeluh. Ia selalu menempati janji dari setiap transaksi yang dilakukannya dengan tepat waktu. Kalau pun ada permasalahan, Nabi selalu menyelesaikannya dengan jalan damai dan adil, tanpa unsur penipuan.
Dari aaktivitas dagang yang pernah dilakukan Rasulullah, sesungguhnya terdapat prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur. Kejujuran, keadilan, dan konsistensi merupakan tiga kata yang selalu dipegang teguh oleh Nabi dalam melakukan transaksi perdagangan. Inilah sesungguhnya yang perlu diteladani umatnya.
Berdasarkan beberapa keterangan Nabi, berikut ini ada beberapa etika berniaga/dagang yang sangat dijaganya. Pertama, penjual harus menjauhi sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Nabi berkata, “Hati-hatilah terhadap sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Meskipun ia meningkatkan pemasaran, tetapi ia juga mengurangi berkahnya.”
Kedua, hanya dengan kesepakatan bersama, tidak menipu, atau dengan usulan dan penerimaan, penjualan suatu barang akan sempurna. Nabi berkata, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah tidak ada penipuan.” Pada bagian lain disebutkan, “Keduanya tidak boleh terpisah kecuali dengan kesepakatan bersama.”
Ketiga, orang yang membayar dimuka untuk pembelian suatu barang tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya. Nabi berkata, “Barangsiapa membayar di muka untuk suatu barang, jangan biarkan ia menyerahkan barang tersebut pada orang lain sebelum barang itu menjadi miliknya.”
Keempat, tidak ada harga komoditi yang boleh dibatasi. Selain itu, kita juga dilarang segala bentuk monopoli dalam perdagangan. Nabi mengatakan, “Barangsiapa melakukan monopoli, maka ia adalah seorang pendosa.”
Kelima, para pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan, hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Dan pengampunan hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membayar. Nabi berkata, “Seseorang akan dimasukkan ke surga, karena pernah berdagang di dunia, dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang, memberikan tempo untuk melunasi hutangnya, serta membebaskan pembayaran bagi yang sangat membutuhkan.” Semoga, kita termasuk di dalamnya. Wallahu’alam.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Showing posts with label MIQRA OPTIMIS. Show all posts
Showing posts with label MIQRA OPTIMIS. Show all posts
16 September 2008
Silaturahim, Persahabatan Hakiki dan Terbukanya Rahmat
Oleh: Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com/
RASULULLAH s.a.w. bersabda, “Orang yang bersilaturahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang bersilaturahim adalah orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Silaturahim meupakan kata majemuk, terdiri dari kata shilat yang berarti menyambung yang putus. Sedangkan rahim berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang. Berkait dengan ini, kita tahu bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah berhati hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah ia berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya. Ia akan ternyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin serta mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan.
Adanya kondisi seperti itu, tentu akan berdampak pada terhindarnya dari usaha untuk menyakiti orang lain. Apalagi melakukan kejahatan. Sebaliknya ia tentu akan menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi kebaikan, keberuntungan dan kedamaian orang lain, masyarakat serta lingkungannya.
Sementara itu, dalam kamus umum bahasa Indonesia, silaturahim diartikan sebagai persaudaraan, persahabatan. Dari sini, kita bisa kembangkan menjadi berkunjung, mendatangi, mengeratkan tali kasih (termasuk berdoa), bahkan bisa diperluas lagi menjadi saling berkomunikasi (tukar pikiran), curhat, dan saling memaafkan.
Pada konteks budaya Indonesia, kegiatan silaturahim ini akan terasa sekali pada awal-awal bulan Syawal atau saat Idul Fitri, bila kita bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Padahal, seharusnya pemahaman silaturahim dan perilaku tersebut tidak terbatas pada perbedaan bulan dan situasional. Tapi, setiap saat kita harus berusaha membangun dan melakukannya, karena aktivitas ini akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira.
Keterangan berikut ini, setidaknya dapat menyakinkan kita tentang hal itu. “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” tanya Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabatnya.
Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka adalah amal salah yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenungi hadis tersebut, maka jelas Islam telah lebih dulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakan rizkinya. Yakni dengan cara menyambung persaudaraan (baca: menjalin persahabatan hakiki). Lalu, bagaimana aplikasinya?
Ilmu Barat mengatakan, “Inti dari hidup adalah bergerak.” Dengan demikian, siapa pun orangnya yang sering melakukan gerak, maka ia hidup. Sebab dengan melakukan gerak, tentu organ tubuh juga ikut bergerak. Dampaknya membuat jantung akan memompakan darah ke seluruh tubuh kita.
Kaitannya dengan silaturahim, maka orang yang sering melakukan aktivitas tersebut terhadap Sang Pencipta, manusia lain, dan lingkungannya, maka ia akan melakukan gerak pada organ tubuhnya (baik fisik maupun psikisnya). Otomatis organ tubuhnya menjadi hidup, yang pada akhirnya berkolerasi positif terhadap “dipanjangkan” usianya. Artinya bukan jatah hidupnya yang telah ditentukan-Nya menjadi bertambah, tetapi nama kita (dikemudian hari) walau telah meninggal dunia akan terus dikenang oleh orang lain karena kebaikan-kebaikan yang telah kita kerjakan.
Aktivitas silaturahim ini, selanjutnya juga akan mendatangkan rizki yang tidak disangka-sangka kepada siapa pun yang melakukannya. Rizki yang bagaimana? Itu adalah hak perogratif Allah. Yang jelas dalam silaturahim itu akan terjadi dialog, pembicaraan tentang sesuatu hal. Di sini, tentunya akan terjadi transfer ilmu pengetahuan. Bukankah ini merupakan suatu rizki? Lalu, kita juga kadangkala dalam silaturahim itu ada jamuan. Sehingga dari pertemuan santai model ini juga biasanya ada yang berlanjut pada kesepakatan kerjasama untuk berusaha dan bisnis. Bukankah hal ini suatu rizki? Dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang pasti, niatkan hati kita dengan iklas mengharap ridha-Nya. Karena Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dan Allah Maha Kaya lagi tahu segala-galanya.
Lebih dari itu, aktivitas silaturahim ini tentu akan mengokohkan jalinan persahabatan hakiki bagi setiap orang yang mampu membangunnya. Dan kondisi bangsa saat ini, kelihatannya sangat membutuhkan sosok anak bangsa yang mampu menjalin ikatan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini.
Persahabatan hakiki
Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah. Apalagi saat senang, memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.
Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang suci (fithriyyah) bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar banyak mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat, karakter manusia dan pola kehidupannya. Dan dari sini pula diharapkan kedewasaan serta kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.
Untuk mencapai makom persahabatan hakiki tersebut, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapainya. Yakni melalui persahabatan yang dibalut dengan Sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran nur Islam, yaitu bukan hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seakidah (baca: ibarat satu tubuh). Tapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, meminjam bahasa Aa Gym adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan di antara keduanya. Yaitu Allah zat yang maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.
Sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan perselisihan tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat. Sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan.
Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---. Jadi, kunci bagi dipanjangkannya usia dan terbukanya rahmat serta pertolongan Allah untuk keluar dari jeratan krisis yang melilit bangsa ini, tidak lain adalah membangun ukhuwah islamiyah dan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini. Karena bagaimana pun besarnya umat Islam di Indonesia, sama sekali tidak ada artinya, benar-benar laksana buih di lautan yang dengan mudah terombang-ambing gelombang, bila kita tidak mau berpegang teguh pada tali Allah dan menegakkan persatuan umat. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com/
RASULULLAH s.a.w. bersabda, “Orang yang bersilaturahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang bersilaturahim adalah orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Silaturahim meupakan kata majemuk, terdiri dari kata shilat yang berarti menyambung yang putus. Sedangkan rahim berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang. Berkait dengan ini, kita tahu bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah berhati hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah ia berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya. Ia akan ternyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin serta mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan.
Adanya kondisi seperti itu, tentu akan berdampak pada terhindarnya dari usaha untuk menyakiti orang lain. Apalagi melakukan kejahatan. Sebaliknya ia tentu akan menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi kebaikan, keberuntungan dan kedamaian orang lain, masyarakat serta lingkungannya.
Sementara itu, dalam kamus umum bahasa Indonesia, silaturahim diartikan sebagai persaudaraan, persahabatan. Dari sini, kita bisa kembangkan menjadi berkunjung, mendatangi, mengeratkan tali kasih (termasuk berdoa), bahkan bisa diperluas lagi menjadi saling berkomunikasi (tukar pikiran), curhat, dan saling memaafkan.
Pada konteks budaya Indonesia, kegiatan silaturahim ini akan terasa sekali pada awal-awal bulan Syawal atau saat Idul Fitri, bila kita bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Padahal, seharusnya pemahaman silaturahim dan perilaku tersebut tidak terbatas pada perbedaan bulan dan situasional. Tapi, setiap saat kita harus berusaha membangun dan melakukannya, karena aktivitas ini akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira.
Keterangan berikut ini, setidaknya dapat menyakinkan kita tentang hal itu. “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” tanya Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabatnya.
Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka adalah amal salah yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenungi hadis tersebut, maka jelas Islam telah lebih dulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakan rizkinya. Yakni dengan cara menyambung persaudaraan (baca: menjalin persahabatan hakiki). Lalu, bagaimana aplikasinya?
Ilmu Barat mengatakan, “Inti dari hidup adalah bergerak.” Dengan demikian, siapa pun orangnya yang sering melakukan gerak, maka ia hidup. Sebab dengan melakukan gerak, tentu organ tubuh juga ikut bergerak. Dampaknya membuat jantung akan memompakan darah ke seluruh tubuh kita.
Kaitannya dengan silaturahim, maka orang yang sering melakukan aktivitas tersebut terhadap Sang Pencipta, manusia lain, dan lingkungannya, maka ia akan melakukan gerak pada organ tubuhnya (baik fisik maupun psikisnya). Otomatis organ tubuhnya menjadi hidup, yang pada akhirnya berkolerasi positif terhadap “dipanjangkan” usianya. Artinya bukan jatah hidupnya yang telah ditentukan-Nya menjadi bertambah, tetapi nama kita (dikemudian hari) walau telah meninggal dunia akan terus dikenang oleh orang lain karena kebaikan-kebaikan yang telah kita kerjakan.
Aktivitas silaturahim ini, selanjutnya juga akan mendatangkan rizki yang tidak disangka-sangka kepada siapa pun yang melakukannya. Rizki yang bagaimana? Itu adalah hak perogratif Allah. Yang jelas dalam silaturahim itu akan terjadi dialog, pembicaraan tentang sesuatu hal. Di sini, tentunya akan terjadi transfer ilmu pengetahuan. Bukankah ini merupakan suatu rizki? Lalu, kita juga kadangkala dalam silaturahim itu ada jamuan. Sehingga dari pertemuan santai model ini juga biasanya ada yang berlanjut pada kesepakatan kerjasama untuk berusaha dan bisnis. Bukankah hal ini suatu rizki? Dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang pasti, niatkan hati kita dengan iklas mengharap ridha-Nya. Karena Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dan Allah Maha Kaya lagi tahu segala-galanya.
Lebih dari itu, aktivitas silaturahim ini tentu akan mengokohkan jalinan persahabatan hakiki bagi setiap orang yang mampu membangunnya. Dan kondisi bangsa saat ini, kelihatannya sangat membutuhkan sosok anak bangsa yang mampu menjalin ikatan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini.
Persahabatan hakiki
Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah. Apalagi saat senang, memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.
Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang suci (fithriyyah) bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar banyak mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat, karakter manusia dan pola kehidupannya. Dan dari sini pula diharapkan kedewasaan serta kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.
Untuk mencapai makom persahabatan hakiki tersebut, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapainya. Yakni melalui persahabatan yang dibalut dengan Sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran nur Islam, yaitu bukan hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seakidah (baca: ibarat satu tubuh). Tapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, meminjam bahasa Aa Gym adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan di antara keduanya. Yaitu Allah zat yang maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.
Sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan perselisihan tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat. Sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan.
Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---. Jadi, kunci bagi dipanjangkannya usia dan terbukanya rahmat serta pertolongan Allah untuk keluar dari jeratan krisis yang melilit bangsa ini, tidak lain adalah membangun ukhuwah islamiyah dan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini. Karena bagaimana pun besarnya umat Islam di Indonesia, sama sekali tidak ada artinya, benar-benar laksana buih di lautan yang dengan mudah terombang-ambing gelombang, bila kita tidak mau berpegang teguh pada tali Allah dan menegakkan persatuan umat. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Pastikan Kita Masuk “Surga”!
Oleh: Arda Dinata
DARI Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah bersabda kepada umat yang sedang mengelilinginya, “Pastikanlah kamu melaksanakan enam hal, aku pastikan kamu masuk surga!” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi, "Apa-apa saja (yang enam tersebut), wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Shalat, zakat, amanah, kehormatan, perut, lidah.” (HR. Ath-Thabrani).
Hadis tersebut sangat inspiratif dalam mengarahkan manusia dalam mencapai kehidupan yang surgawi. Artinya kata “jannah” –surga-- tidaklah terbatas pada makna konotasi surga di akhirat saja. Tapi, ia lebih merupakan simbol dari segala kenikmatan, baik di dunia maupun akhirat.
Hal senada diakui Dr. H. Muslim Nasution, pencapaian surga itu tidaklah terbatas pada pencapaian surga dalam arti di akhirat saja, tetapi juga pencapaian surga dalam arti dimensi duniawi. Yakni kebahagiaan dunia, ketenangan, kedamaian, kesuksesan dan lainnya. Sehingga bila surga di akhirat bisa diperoleh, mengapa surga di dunia tak bisa diperoleh?
Setiap orang pasti ingin bahagia. Namun, adakalanya orang berjalan hanya mengikuti nafsunya semata-mata tanpa memperdulikan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Dan kebahagiaan itu, janganlah diposisikan dalam kaca mata manusia. Sebab, kebahagiaan yang hakiki hanyalah milik Allah SWT., sehingga kebahagiaan inilah yang harus umat Islam gapai.
Adapun langkah pertama yang perlu dilakukan untuk masuk surga (baca: menuju bahagia) ialah melaksanakan shalat. Makna shalat ini bila kita pahami dengan baik, sungguh amat dalam nilai yang dikandungnya. Shalat, selain berdimensi ibadah ritual dengan nilai pahala kemuliaan, juga berdimensi sosial-kemanusiaan. Dalam konteks hidup manusia, shalat juga dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan negatif. Sehingga, pantas saja ketika seseorang meninggal dunia, pemeriksaan amal perbuatan yang pertama dinilai adalah amalan shalatnya.
“Sesungguhnya, pekerjaan seorang hamba Allah, yang paling pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, bahagia dan sukseslah dia. Apabila shalatnya rusak, hancur dan rugilah dia …” (HR. At-Tirmidzi).
Langkah lain menuju kebahagiaan ialah membayar zakat dan melaksanakan amanah/amanat. Membayar zakat (zakat mal dan fitrah) merupakan rukun Islam yang harus dilaksanakan bila telah mencukupi syarat-syaratnya. Pelaksanaan zakat, menurut Muslim Nasution, berarti memberi sejumlah harta atau benda kepada orang-orang tertentu yang pada umumnya dikategorikan orang-orang yang memerlukan bantuan finansial dan materi.
Dalam ajaran Islam, harta yang kita miliki bukanlah milik kita secara hakiki. Namun, harta itu merupakan amanat dari Allah SWT. Lebih dari itu, di dalam harta yang dimiliki seorang muslim terdapat sejumlah hak orang lain. Hak itulah yang kemudian direalisasikan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.
Sementara itu, amanat diartikan tidak sekedar memelihara atau menjaga sesuatu yang dititipkan. Tapi, dalam pandangan Al-Ghazali, amanat mempunyai makna yang luas. Bisa berupa perhatian seseorang terhadap tanggung jawab yang dipikulnya. Baik dalam bentuk pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang disyariatkan Allah SWT. dalam Alquran maupun hadis.
Sehingga dapat dikatakan, bila seseorang melaksanakan amanat berarti melaksanakan berbagai ketentuan Allah yang telah diamanatkan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. menjelaskan, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta milik tuannya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).
Syarat masuk surga lainnya ialah berupa memelihara kehormatan dan menjaga perut. Orang yang menjaga kehormatan dirinya secara baik akan mendapat kedudukan yang mulia dalam masyarakat. Realitasnya memperlihatkan, betapa banyak orang yang hancur kehidupan dan masa depannya akibat dari tidak mampu menjaga kehormatannya. Singkatnya, kehormatan merupakan harga diri yang mulia. Dalam Islam sendiri, perilaku memelihara kehormatan diri ini digolongkan wajib hukumnya.
Kata kehormatan (baca: al-farj) di dalam hadis tersebut, sebenarnya memiliki arti lebih khusus sebagai alat kelamin (seks). Artinya, orang haruslah memelihara alat kelamin agar tidak digunakan pada yang haram. Dampaknya, apabila seks bebas berkembang di masyarakat akan timbul kegoncangan di dalam kehidupannya.
Sedangkan kata perut sendiri, lebih merupakan simbol dari sesuatu yang masuk ke dalam perut (baca: makanan). Sehingga makanan harus menjadi perhatian yang serius. Tepatnya, setiap muslim harus hati-hati terhadap segala sesuatu yang dikonsumsi tubuhnya. Apakah halal atau haram, sebab ketidak halalan tersebut akan berakibat buruk bagi jiwanya.
Dalam konteks ini, Rasulullah pernah mengatakan, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka nerakalah tempatnya.” Di sini, kata neraka itu tidak hanya berarti neraka di akhirat, tapi juga “neraka dunia” (kegoncangan jiwa, kekerasan, kehancuran, dll). Lebih jauh, menurut Muslim Nasution, makanan yang haram akan membuat jiwa selalu tak pernah puas, malas beramal saleh, tak mau beribadah, tak patuh pada aturan, tumpul rasa jiwanya, dll.
Langkah terakhir untuk masuk surga menurut hadis di atas adalah berupa menjaga/mengawasi lidah. Sebab, lidah merupakan simbol dari kata atau ucapan manusia. Arti lainnya, kata-kata atau ucapan yang dikeluarkan haruslah dijaga jangan sampai menggoncangkan, menggelisahkan masyarakat, tidak mengucapkan yang batil dan tidak benar. Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, dengan melaksanakan keenam langkah atau perilaku tersebut, semoga seperti kata Nabi Saw. pastikan kita masuk surga! Amin. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
DARI Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah bersabda kepada umat yang sedang mengelilinginya, “Pastikanlah kamu melaksanakan enam hal, aku pastikan kamu masuk surga!” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi, "Apa-apa saja (yang enam tersebut), wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Shalat, zakat, amanah, kehormatan, perut, lidah.” (HR. Ath-Thabrani).
Hadis tersebut sangat inspiratif dalam mengarahkan manusia dalam mencapai kehidupan yang surgawi. Artinya kata “jannah” –surga-- tidaklah terbatas pada makna konotasi surga di akhirat saja. Tapi, ia lebih merupakan simbol dari segala kenikmatan, baik di dunia maupun akhirat.
Hal senada diakui Dr. H. Muslim Nasution, pencapaian surga itu tidaklah terbatas pada pencapaian surga dalam arti di akhirat saja, tetapi juga pencapaian surga dalam arti dimensi duniawi. Yakni kebahagiaan dunia, ketenangan, kedamaian, kesuksesan dan lainnya. Sehingga bila surga di akhirat bisa diperoleh, mengapa surga di dunia tak bisa diperoleh?
Setiap orang pasti ingin bahagia. Namun, adakalanya orang berjalan hanya mengikuti nafsunya semata-mata tanpa memperdulikan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Dan kebahagiaan itu, janganlah diposisikan dalam kaca mata manusia. Sebab, kebahagiaan yang hakiki hanyalah milik Allah SWT., sehingga kebahagiaan inilah yang harus umat Islam gapai.
Adapun langkah pertama yang perlu dilakukan untuk masuk surga (baca: menuju bahagia) ialah melaksanakan shalat. Makna shalat ini bila kita pahami dengan baik, sungguh amat dalam nilai yang dikandungnya. Shalat, selain berdimensi ibadah ritual dengan nilai pahala kemuliaan, juga berdimensi sosial-kemanusiaan. Dalam konteks hidup manusia, shalat juga dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan negatif. Sehingga, pantas saja ketika seseorang meninggal dunia, pemeriksaan amal perbuatan yang pertama dinilai adalah amalan shalatnya.
“Sesungguhnya, pekerjaan seorang hamba Allah, yang paling pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, bahagia dan sukseslah dia. Apabila shalatnya rusak, hancur dan rugilah dia …” (HR. At-Tirmidzi).
Langkah lain menuju kebahagiaan ialah membayar zakat dan melaksanakan amanah/amanat. Membayar zakat (zakat mal dan fitrah) merupakan rukun Islam yang harus dilaksanakan bila telah mencukupi syarat-syaratnya. Pelaksanaan zakat, menurut Muslim Nasution, berarti memberi sejumlah harta atau benda kepada orang-orang tertentu yang pada umumnya dikategorikan orang-orang yang memerlukan bantuan finansial dan materi.
Dalam ajaran Islam, harta yang kita miliki bukanlah milik kita secara hakiki. Namun, harta itu merupakan amanat dari Allah SWT. Lebih dari itu, di dalam harta yang dimiliki seorang muslim terdapat sejumlah hak orang lain. Hak itulah yang kemudian direalisasikan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.
Sementara itu, amanat diartikan tidak sekedar memelihara atau menjaga sesuatu yang dititipkan. Tapi, dalam pandangan Al-Ghazali, amanat mempunyai makna yang luas. Bisa berupa perhatian seseorang terhadap tanggung jawab yang dipikulnya. Baik dalam bentuk pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang disyariatkan Allah SWT. dalam Alquran maupun hadis.
Sehingga dapat dikatakan, bila seseorang melaksanakan amanat berarti melaksanakan berbagai ketentuan Allah yang telah diamanatkan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. menjelaskan, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta milik tuannya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).
Syarat masuk surga lainnya ialah berupa memelihara kehormatan dan menjaga perut. Orang yang menjaga kehormatan dirinya secara baik akan mendapat kedudukan yang mulia dalam masyarakat. Realitasnya memperlihatkan, betapa banyak orang yang hancur kehidupan dan masa depannya akibat dari tidak mampu menjaga kehormatannya. Singkatnya, kehormatan merupakan harga diri yang mulia. Dalam Islam sendiri, perilaku memelihara kehormatan diri ini digolongkan wajib hukumnya.
Kata kehormatan (baca: al-farj) di dalam hadis tersebut, sebenarnya memiliki arti lebih khusus sebagai alat kelamin (seks). Artinya, orang haruslah memelihara alat kelamin agar tidak digunakan pada yang haram. Dampaknya, apabila seks bebas berkembang di masyarakat akan timbul kegoncangan di dalam kehidupannya.
Sedangkan kata perut sendiri, lebih merupakan simbol dari sesuatu yang masuk ke dalam perut (baca: makanan). Sehingga makanan harus menjadi perhatian yang serius. Tepatnya, setiap muslim harus hati-hati terhadap segala sesuatu yang dikonsumsi tubuhnya. Apakah halal atau haram, sebab ketidak halalan tersebut akan berakibat buruk bagi jiwanya.
Dalam konteks ini, Rasulullah pernah mengatakan, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka nerakalah tempatnya.” Di sini, kata neraka itu tidak hanya berarti neraka di akhirat, tapi juga “neraka dunia” (kegoncangan jiwa, kekerasan, kehancuran, dll). Lebih jauh, menurut Muslim Nasution, makanan yang haram akan membuat jiwa selalu tak pernah puas, malas beramal saleh, tak mau beribadah, tak patuh pada aturan, tumpul rasa jiwanya, dll.
Langkah terakhir untuk masuk surga menurut hadis di atas adalah berupa menjaga/mengawasi lidah. Sebab, lidah merupakan simbol dari kata atau ucapan manusia. Arti lainnya, kata-kata atau ucapan yang dikeluarkan haruslah dijaga jangan sampai menggoncangkan, menggelisahkan masyarakat, tidak mengucapkan yang batil dan tidak benar. Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, dengan melaksanakan keenam langkah atau perilaku tersebut, semoga seperti kata Nabi Saw. pastikan kita masuk surga! Amin. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Penyakit, Musibah dan Perahu Kesabaran
Oleh ARDA DINATA
http://ardanews.blogspot.com/
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna Ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)
BERBAGAI penyakit terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan yang rendah, dewasa ini masih mendera masyarakat Indonesia, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), kusta, filariasis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lainnya. Kondisi rendahnya kualitas kesehatan lingkungan itu, tidak saja mendatangkan jatuhnya banyak korban karena serangan penyakit tersebut, tapi bahkan telah mendatangkan (musibah) bencana alam (seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan, dll).
Adanya fenomena alam seperti itu, kita selaku umat beragama tentu harus merenungi, sikapi dan maknai secara benar. Ada hikmah apa dibalik segala “musibah” dan kejadian tersebut. sehingga dengan pola pikir seperti ini, kita dapat berbuat lebih baik lagi dan menyikapi alam semesta ini dengan benar lagi bijaksana.
Berbicara musibah, dalam khazanah keilmuan Islam disebutkan kalau musibah itu sebenarnya ada dua macam. Pertama, musibah yang di luar pilihan manusia. Contohnya adanya penyakit yang menimpa seseorang atau terjadinya kefakiran. Sedangkan terkait posisi manusia dalam menghadapi musibah macam ini, Dr. Akrim Ridha membaginya menjadi empat macam. (1) Ada manusia yang lemah sehingga ia tampak gundah dan sedih, serta ia suka mengaduh dan sedih, serta ia suka mengaduh bahkan merasa tidak suka atau benci; (2) ada yang sabar; (3) yang lebih tinggi dari bersabar adalah ridha atau menerima; (4) bahkan ada juga yang syukur, dan ini merupakan makom (kedudukan) yang paling tinggi.
Kategori musibah kedua, adalah musibah yang mengenai seseorang karena perlakuan orang lain. Contohnya perbuatan zalim, merampas harta, atau mencela. Sementara itu, terkait kedudukan manusia ketika menghadapi musibah kategori ini, dalam bahasa Akrim Ridha, selain kedudukan seperti kategori sebelumnya, juga ditambah dengan kedudukan berikut: (1) memaafkan; (2) kalbunya bersih dari keinginan balas dendam; (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; (4) berusaha untuk menghadapi pelbagai aspek yang menjadi sebab timbulnya musibah dan menghilangkannya, di samping berusaha maksimal untuk bangkit dari keterpurukan dan kegagalan. Terkait dengan hal itu, pantas saja para psikolog berkata: ”Keluh kesah (gundah) itu karib dan saudaranya sikap lemah (loyo), sedangkan sabar itu saudara kandung dan sahabat terdekatnya kecerdasan dan akal.”
* *
SESUNGGUHNYA kalau kita mau jujur, kedudukan “berusaha” dalam menghadapi segala kejadian dalam hidup manusia (terjadi penyakit, musibah, dll.) merupakan sikap yang harus tertanam dalam tindakan hidup seorang muslim. Sebab, makom “berusaha” inilah yang menghimpun semua makom atau posisi-posisi sebelumnya serta berlaku dan berguna untuk semuanya, bahkan semua posisi itu ditentukan oleh adanya usaha.
Pada tataran berusaha inilah, manusia harus dibekali dengan “perahu kesabaran”. Kata sabar itu sendiri berasal dari bahasa Arab shabara. Huruf yang membentuknya, yaitu shad, ba’, dan ra’. Adapun makna asalnya berarti berusaha menahan diri dan melatihnya. Dalam hal ini, Ibn Al Qayyim menyatakan: “Dalam kata sabar itu dikandung tiga makna, yaitu menahan, tegar, dan menggabungkan.”
Dengan demikian, sabar bagi manusia bukan berarti pasrah. Sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Kata lainnya, kesabaran itu merupakan proses aktif, gabungan antara ridha dan ikhtiar. Jadi, kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif baik akal, tubuh dan iman dalam hati manusia. Justru, dari musibah yang disikapi dengan sabarlah akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.
Lebih jauh lagi diungkapkan dalam kamus bahasa Arab, makna kesabaran itu ada tiga. (1) Sabar adalah al man’u wa al habsu, mencegah dan menahan. Yakni mencegah jiwa supaya tidak gundah, dan menahan lidah supaya tidak suka mengadu. (2) Sabar berarti tegar dan kuat. Shubru, di mana kata shad-nya didammahkan, berarti tanah yang sangat tegar dan subur. Obat yang dikenal sangat pahit disebut shabir, sedangkan pohonnya adalah shabar. Seorang penyair pernah mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”
(3) Ash-shabr, juga berarti al jam’u wa al dhamm. Artinya menghimpun dan menggabungkan. Arti lainnya, orang yang bersabar adalah orang yang mampu untuk menghimpun potensi dirinya, sehingga tidak gampang sedih dan keluh kesah.
Secara demikian, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup manusia. Adapun langkah strategis yang akan membantu kesabaran itu, kata Ibn Al Qayyim, tiang penyangganya adalah ilmu dan amal. Ilmu adalah pengenal terhadap segala akibat dari berbagai hal bila dilakukan dan menimbang kelebihannya bila ditinggalkan. Sedangkan amal adalah keinginan kuat atau ambisi yang benar dan semangat yang tinggi.
Terkait dengan kesabaran tersebut, almarhum Prof. KH. Anwar Musaddad, pernah menulis bahwa wilayah sabar itu ada empat, yaitu (1) dalam taat –lakukanlah--; (2) dalam maksiat –jauhilah--; (3) menghadapi musibah –tahanlah dirimu dan terimalah itu sebagai ujian dari Allah--; dan (4) sabar dalam berjihad.
Akhirnya, harus kita tanamkan bahwa “perahu kesabaran” itu bukanlah suatu kehinaan dan bukan pula ridha dengan kezaliman. Justru, sesungguhnya kesabaran itu merupakan suatu potensi yang memberikan dorongan kuat untuk mengembalikan kebenaran dan melakukan usaha untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com/
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna Ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)
BERBAGAI penyakit terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan yang rendah, dewasa ini masih mendera masyarakat Indonesia, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), kusta, filariasis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lainnya. Kondisi rendahnya kualitas kesehatan lingkungan itu, tidak saja mendatangkan jatuhnya banyak korban karena serangan penyakit tersebut, tapi bahkan telah mendatangkan (musibah) bencana alam (seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan, dll).
Adanya fenomena alam seperti itu, kita selaku umat beragama tentu harus merenungi, sikapi dan maknai secara benar. Ada hikmah apa dibalik segala “musibah” dan kejadian tersebut. sehingga dengan pola pikir seperti ini, kita dapat berbuat lebih baik lagi dan menyikapi alam semesta ini dengan benar lagi bijaksana.
Berbicara musibah, dalam khazanah keilmuan Islam disebutkan kalau musibah itu sebenarnya ada dua macam. Pertama, musibah yang di luar pilihan manusia. Contohnya adanya penyakit yang menimpa seseorang atau terjadinya kefakiran. Sedangkan terkait posisi manusia dalam menghadapi musibah macam ini, Dr. Akrim Ridha membaginya menjadi empat macam. (1) Ada manusia yang lemah sehingga ia tampak gundah dan sedih, serta ia suka mengaduh dan sedih, serta ia suka mengaduh bahkan merasa tidak suka atau benci; (2) ada yang sabar; (3) yang lebih tinggi dari bersabar adalah ridha atau menerima; (4) bahkan ada juga yang syukur, dan ini merupakan makom (kedudukan) yang paling tinggi.
Kategori musibah kedua, adalah musibah yang mengenai seseorang karena perlakuan orang lain. Contohnya perbuatan zalim, merampas harta, atau mencela. Sementara itu, terkait kedudukan manusia ketika menghadapi musibah kategori ini, dalam bahasa Akrim Ridha, selain kedudukan seperti kategori sebelumnya, juga ditambah dengan kedudukan berikut: (1) memaafkan; (2) kalbunya bersih dari keinginan balas dendam; (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; (4) berusaha untuk menghadapi pelbagai aspek yang menjadi sebab timbulnya musibah dan menghilangkannya, di samping berusaha maksimal untuk bangkit dari keterpurukan dan kegagalan. Terkait dengan hal itu, pantas saja para psikolog berkata: ”Keluh kesah (gundah) itu karib dan saudaranya sikap lemah (loyo), sedangkan sabar itu saudara kandung dan sahabat terdekatnya kecerdasan dan akal.”
* *
SESUNGGUHNYA kalau kita mau jujur, kedudukan “berusaha” dalam menghadapi segala kejadian dalam hidup manusia (terjadi penyakit, musibah, dll.) merupakan sikap yang harus tertanam dalam tindakan hidup seorang muslim. Sebab, makom “berusaha” inilah yang menghimpun semua makom atau posisi-posisi sebelumnya serta berlaku dan berguna untuk semuanya, bahkan semua posisi itu ditentukan oleh adanya usaha.
Pada tataran berusaha inilah, manusia harus dibekali dengan “perahu kesabaran”. Kata sabar itu sendiri berasal dari bahasa Arab shabara. Huruf yang membentuknya, yaitu shad, ba’, dan ra’. Adapun makna asalnya berarti berusaha menahan diri dan melatihnya. Dalam hal ini, Ibn Al Qayyim menyatakan: “Dalam kata sabar itu dikandung tiga makna, yaitu menahan, tegar, dan menggabungkan.”
Dengan demikian, sabar bagi manusia bukan berarti pasrah. Sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Kata lainnya, kesabaran itu merupakan proses aktif, gabungan antara ridha dan ikhtiar. Jadi, kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif baik akal, tubuh dan iman dalam hati manusia. Justru, dari musibah yang disikapi dengan sabarlah akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.
Lebih jauh lagi diungkapkan dalam kamus bahasa Arab, makna kesabaran itu ada tiga. (1) Sabar adalah al man’u wa al habsu, mencegah dan menahan. Yakni mencegah jiwa supaya tidak gundah, dan menahan lidah supaya tidak suka mengadu. (2) Sabar berarti tegar dan kuat. Shubru, di mana kata shad-nya didammahkan, berarti tanah yang sangat tegar dan subur. Obat yang dikenal sangat pahit disebut shabir, sedangkan pohonnya adalah shabar. Seorang penyair pernah mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”
(3) Ash-shabr, juga berarti al jam’u wa al dhamm. Artinya menghimpun dan menggabungkan. Arti lainnya, orang yang bersabar adalah orang yang mampu untuk menghimpun potensi dirinya, sehingga tidak gampang sedih dan keluh kesah.
Secara demikian, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup manusia. Adapun langkah strategis yang akan membantu kesabaran itu, kata Ibn Al Qayyim, tiang penyangganya adalah ilmu dan amal. Ilmu adalah pengenal terhadap segala akibat dari berbagai hal bila dilakukan dan menimbang kelebihannya bila ditinggalkan. Sedangkan amal adalah keinginan kuat atau ambisi yang benar dan semangat yang tinggi.
Terkait dengan kesabaran tersebut, almarhum Prof. KH. Anwar Musaddad, pernah menulis bahwa wilayah sabar itu ada empat, yaitu (1) dalam taat –lakukanlah--; (2) dalam maksiat –jauhilah--; (3) menghadapi musibah –tahanlah dirimu dan terimalah itu sebagai ujian dari Allah--; dan (4) sabar dalam berjihad.
Akhirnya, harus kita tanamkan bahwa “perahu kesabaran” itu bukanlah suatu kehinaan dan bukan pula ridha dengan kezaliman. Justru, sesungguhnya kesabaran itu merupakan suatu potensi yang memberikan dorongan kuat untuk mengembalikan kebenaran dan melakukan usaha untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Sikap Manusia Dalam Mementaskan Hidup
Oleh ARDA DINATA
http://ardanews.blogspot.com
Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i).
UNGKAPAN imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan hari-hari yang kita jalani. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak “bertanya” mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.
Untuk itu, dalam mementaskan hidup, kita hanya berusaha untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal kita. Di sini, perlu digaris bawahi bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.
Artinya, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak itu, baik yang menyenangkan (tentu baik untuk kita). Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah “paksakan” bagi diri kita. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita?
Pokoknya, hidup adalah pilihan. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana kita memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.
Untuk itu, agar kita tidak salah memilih dalam mementaskan hidup, berikut ini ada tujuh langkah yang dapat kita lakukan. Pertama, pelihara lintasan pikiran untuk tetap mengarah pada kebaikan. Lintasan pikiran adalah tangga pertama yang akan mengantarkan seseorang pada niat dan sikap. Dalam tahap ini semua orang akan mengalaminya (lintasan pikiran baik maupun yang buruk). Jika hanya sebatas lintasan berbuat buruk, itu wajar dan manusiawi. Allah SWT juga tidak mencatat hal itu sebagai suatu dosa. Namun bila kurang waspada, lintasan hati itu kerap berkembang menuju tahapan dialog batin (baca: dialog antara keinginan melakukan kebaikan atau keburukan). Terjadilah benturan antara bisikan setan untuk melakukan keburukan dengan bisikan malaikat dan akal sehat untuk tidak melakukan keburukan. Bila dalam benturan ini, nafsu keburukan dan bisikan setan yang menang, maka muncullah niat.
Kedua, pertimbangan suatu pilihan dengan ilmu. Menentukan suatu pilihan pasti dengan timbangan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Informasi yang keliru atau minimnya pengetahuan akan membawa kita pada pilihan yang salah. Setidaknya, kita harus mengetahui kategori kesalahan yang termasuk dosa besar dan dosa kecil.
Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin mengutip uraian tentang dosa besar yang disebutkan oleh Abu Thalib Al Makky. Katanya, “Dosa-dosa besar itu ada tujuh belas. Saya menghimpunnya dari sejumlah atsar. Empat macam ada di dalam hati, yaitu: syirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari tipu daya Allah. Empat macam ada di lidah, yaitu: kesaksian palsu, menuduh wanita yang baik-baik, minum khamar, makan harta anak yatim dengan zalim dan memakan riba. Dua macam ada di kemaluan yaitu zina dan seks dengan sejenis. Dua macam ada di tangan yaitu membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki yaitu melarikan diri saat pertempuran. Satu macam ada di seluruh badan yaitu durhaka pada orangtua.”
Ketiga, berdoa memohon petunjuk Allah. Permohonan petunjuk Allah saat kita memilih, adalah bukti dan cermin suasana iman yang sangat mempercayainya, membutuhkan, dan mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam segala hal. Manusia sering keliru menentukan pilihan yang menurutnya baik. Ternyata di kemudian hari pilihan itu justru menjadi awal bencana baginya. Kita kadang menilai negatif, antipati, menolak sesuatu berdasarkan logika, pikiran yang terbatas. Tapi, ternyata hal itu justru mendatangkan manfaat yang sangat luar biasa untuk Allah. Allah berfirman, “Bisa jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu yang engkau benci itu baik bagimu. Bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu yang engkau sukai itu tidak baik bagimu.”
Keempat, tumbuh dan pelihara perasaan takut pada Allah SWT. Rasa aman akan azab dari Allah juga dapat menyebabkan seseorang lalai dengan dosa, memudah-mudahkan kesalahan dan menunda-nunda pekerjaan baik, hingga akhirnya tenggelam dalam kemaksiatan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan seksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97-99).
Kelima, sadari bahwa hidup ini hanya sementara. Pilihan dalam hidup sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang hidup. Panjang angan-angan, menumpuk mimpi, terlalu berobsesi pada kehidupan dunia, akan membawa orang lupa bahwa hidup ini sementara. Kondisi inilah yang akan menjadikan orang tidak mampu memandang secara benar dalam memilih.
Keenam, tanamkan kekhawatiran su’ul khatimah. Takut dan khawatir itu bermacam-macam. Ada orang yang dalam hatinya dominan rasa takut terhadap kematian sebelum bertaubat. Ada orang yang merasa lebih takut condong pada kenikmatan dan beralih dari sikap istiqomah. Ada yang takut terhadap akhir hidup yang buruk. Yang paling tinggi adalah yang terakhir. Di antara orang yang takut adalah orang yang takut sakratul maut dan kepedihannya atau pertanyaan malaikat mungkar dan nakir. Takut meniti shirat, takut neraka dan kobarannya, takut tidak bisa masuk surga.
Ketujuh, renungi pilihan-pilihan yang lalu. Bukan untuk sekedar merenung, menyesal dan kemudian melemparkan kesalahan pada nasib. Bukan juga untuk mengatakan, kenapa tidak begini, kenapa begitu. Perenungan yang kemudian membuka celah kata-kata jika begini, seandainya begitu, sama dengan membuka celah setan untuk menyesali hidup, merasa sangat bersalah dan bersikap putus asa. Sikap seperti itu tidak ada gunanya dan dilarang. Rasulullah dalam sebuah hadis mengingatkan bahwa perkataan “jika dan seandainya” itu adalah pintu bagi setan untuk mengganggu manusia.
Akhirnya, semoga langkah-langkah penting tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi hidup yang penuh kegelapan ini. Dan pastikanlah usaha maupun sikap kita selaku manusia dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik oleh Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com
Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i).
UNGKAPAN imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan hari-hari yang kita jalani. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak “bertanya” mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.
Untuk itu, dalam mementaskan hidup, kita hanya berusaha untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal kita. Di sini, perlu digaris bawahi bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.
Artinya, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak itu, baik yang menyenangkan (tentu baik untuk kita). Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah “paksakan” bagi diri kita. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita?
Pokoknya, hidup adalah pilihan. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana kita memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.
Untuk itu, agar kita tidak salah memilih dalam mementaskan hidup, berikut ini ada tujuh langkah yang dapat kita lakukan. Pertama, pelihara lintasan pikiran untuk tetap mengarah pada kebaikan. Lintasan pikiran adalah tangga pertama yang akan mengantarkan seseorang pada niat dan sikap. Dalam tahap ini semua orang akan mengalaminya (lintasan pikiran baik maupun yang buruk). Jika hanya sebatas lintasan berbuat buruk, itu wajar dan manusiawi. Allah SWT juga tidak mencatat hal itu sebagai suatu dosa. Namun bila kurang waspada, lintasan hati itu kerap berkembang menuju tahapan dialog batin (baca: dialog antara keinginan melakukan kebaikan atau keburukan). Terjadilah benturan antara bisikan setan untuk melakukan keburukan dengan bisikan malaikat dan akal sehat untuk tidak melakukan keburukan. Bila dalam benturan ini, nafsu keburukan dan bisikan setan yang menang, maka muncullah niat.
Kedua, pertimbangan suatu pilihan dengan ilmu. Menentukan suatu pilihan pasti dengan timbangan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Informasi yang keliru atau minimnya pengetahuan akan membawa kita pada pilihan yang salah. Setidaknya, kita harus mengetahui kategori kesalahan yang termasuk dosa besar dan dosa kecil.
Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin mengutip uraian tentang dosa besar yang disebutkan oleh Abu Thalib Al Makky. Katanya, “Dosa-dosa besar itu ada tujuh belas. Saya menghimpunnya dari sejumlah atsar. Empat macam ada di dalam hati, yaitu: syirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari tipu daya Allah. Empat macam ada di lidah, yaitu: kesaksian palsu, menuduh wanita yang baik-baik, minum khamar, makan harta anak yatim dengan zalim dan memakan riba. Dua macam ada di kemaluan yaitu zina dan seks dengan sejenis. Dua macam ada di tangan yaitu membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki yaitu melarikan diri saat pertempuran. Satu macam ada di seluruh badan yaitu durhaka pada orangtua.”
Ketiga, berdoa memohon petunjuk Allah. Permohonan petunjuk Allah saat kita memilih, adalah bukti dan cermin suasana iman yang sangat mempercayainya, membutuhkan, dan mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam segala hal. Manusia sering keliru menentukan pilihan yang menurutnya baik. Ternyata di kemudian hari pilihan itu justru menjadi awal bencana baginya. Kita kadang menilai negatif, antipati, menolak sesuatu berdasarkan logika, pikiran yang terbatas. Tapi, ternyata hal itu justru mendatangkan manfaat yang sangat luar biasa untuk Allah. Allah berfirman, “Bisa jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu yang engkau benci itu baik bagimu. Bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu yang engkau sukai itu tidak baik bagimu.”
Keempat, tumbuh dan pelihara perasaan takut pada Allah SWT. Rasa aman akan azab dari Allah juga dapat menyebabkan seseorang lalai dengan dosa, memudah-mudahkan kesalahan dan menunda-nunda pekerjaan baik, hingga akhirnya tenggelam dalam kemaksiatan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan seksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97-99).
Kelima, sadari bahwa hidup ini hanya sementara. Pilihan dalam hidup sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang hidup. Panjang angan-angan, menumpuk mimpi, terlalu berobsesi pada kehidupan dunia, akan membawa orang lupa bahwa hidup ini sementara. Kondisi inilah yang akan menjadikan orang tidak mampu memandang secara benar dalam memilih.
Keenam, tanamkan kekhawatiran su’ul khatimah. Takut dan khawatir itu bermacam-macam. Ada orang yang dalam hatinya dominan rasa takut terhadap kematian sebelum bertaubat. Ada orang yang merasa lebih takut condong pada kenikmatan dan beralih dari sikap istiqomah. Ada yang takut terhadap akhir hidup yang buruk. Yang paling tinggi adalah yang terakhir. Di antara orang yang takut adalah orang yang takut sakratul maut dan kepedihannya atau pertanyaan malaikat mungkar dan nakir. Takut meniti shirat, takut neraka dan kobarannya, takut tidak bisa masuk surga.
Ketujuh, renungi pilihan-pilihan yang lalu. Bukan untuk sekedar merenung, menyesal dan kemudian melemparkan kesalahan pada nasib. Bukan juga untuk mengatakan, kenapa tidak begini, kenapa begitu. Perenungan yang kemudian membuka celah kata-kata jika begini, seandainya begitu, sama dengan membuka celah setan untuk menyesali hidup, merasa sangat bersalah dan bersikap putus asa. Sikap seperti itu tidak ada gunanya dan dilarang. Rasulullah dalam sebuah hadis mengingatkan bahwa perkataan “jika dan seandainya” itu adalah pintu bagi setan untuk mengganggu manusia.
Akhirnya, semoga langkah-langkah penting tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi hidup yang penuh kegelapan ini. Dan pastikanlah usaha maupun sikap kita selaku manusia dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik oleh Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
|
BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA: | PULSA KEKAYAAN GRATIS | Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy| | ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia | |
|
MENU ARDA EKLIPING INDONESIA: | BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN | |
|
MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA: | Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis | |
|
MENU ARDA PENULIS SUKSES: | Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis | |
|
MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG: | Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 | |
|
MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN: | Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan | |
|
MIQRA INDONESIA GROUP Kantor Pusat: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396 Telp. (0265) 630058 Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia, Email : miqra_indo@yahoo.co.id Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/ Design by Arda Dinata, Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia |