Politik Perubahan Bangsa dan Telaga Kesejukan Islam
Oleh Arda Dinata
SAAT ini --menjelang pemilihan umum (pemilu) 2009--, keadaan keamanan dan kedamaian dalam bernegara (kecenderungan) ditentukan oleh kondisi politik yang ada. Politik merupakan simpul tali yang menghubungkan diantara manusia. Menurut Kuntowijoyo, kita tidak usah hirau dengan pernyataan “politik itu kotor”. Sebab, yang sesungguhnya kotor itu bukan politik, tapi manusianya (pelakunya). Politik adalah fitrah. Ia berada dalam garis linier dengan agama. Politik dan agama, atau agama dan politik, adalah dua hal yang tidak bertentangan. Maka, adalah hal yang keliru bila orang yang memisahkan agama dengan politik.
Politik adalah tata aturan hidup yang kasat mata. Namun, bukan berarti hal itu dapat dipisahkan dari ruh agama. Sebaliknya, justru harus merupakan manifestasi dari sosok manusia beragama. Konsekuensinya, meski sama-sama beragama Islam, namun umat Islam berbeda dalam hal penafsiran, pemahaman, dan pengalaman agamanya. Perbedaan ini, sah-sah saja, sepanjang menyangkut furu’ (cabang), bukan menyangkut pokok seperti akidah (tauhidullah).
Di sinilah, kita harus membangun politik yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Politik harus menjadi sarana untuk mewujudkan ajaran Islam di muka bumi. Tanpa partisipasi politik umat Islam, yang mampu menjalankan politik Islam secara benar, maka ajaran Islam sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencapai itu, kita tidak boleh terlepas dari etika islami. Bukankah untuk mencapai sesuatu hasil yang bagus, harus menggunakan cara yang bagus pula. Mustahil, sebuah partai politik (baca: berpolitik) akan mampu membela Islam dan umat Islam, jika tega menggunakan cara curang, penuh intimidasi, manipulasi, dll. yang diharamkan. Di sinilah, perlunya kita membangun kebeningan hati dalam berpolitik. Sehingga hasil yang diperoleh benar-benar bersih. Dan dengan cara yang bersih pula, maka hasilnya akan mengandung manfaat yang penuh berkah.
Islam sendiri merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan manusia di panggung dunia, termasuk dalam hal melakukan politik perubahan bangsa. Artinya setiap kita ‘bebas’ memainkan peran apa saja, yang jelas setelah itu kita akan menjalani kehidupan sebenarnya. Di situlah, eksistensi seorang manusia menjadi taruhannya dalam menggapai hidup bahagia yang hakiki.
Aktualisasi perilaku dalam menggapai tujuan hidup itu, pada masyarakat realitasnya banyak yang keliru dan semu. Mereka dengan berbagai cara berusaha mempertahankan kedudukan, pangkat, jabatan dan status sosial lainnya, yang kadangkala mengabaikan etika dan moralitas. Padahal, Islam sendiri mengajarakan bahwa berbagai label duniawi itu hanyalah aksesoris dunia semata. Justru, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia manusia yang akan mengantarkannya pada status hidup bahagia.
Perilaku model itu, saat ini masih mengayomi pola pikir masyarakat Indonesia. Materialisme diagungkan, sementara moralitas diabaikan. Kenyataan ini, kalau kita sadar dan mau jujur sebenarnya itulah yang merupakan akar dari keterpurukan bangsa ini. Dampaknya, bila pola pikir dan perilaku semacam itu masih dilakukan masyarakat, maka jangan harap bangsa ini segera mengalami perubahan kehidupan yang lebih baik.
Oleh karena itu, pantas saja TS Eliot mengungkapkan, “Kehidupan di dunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus ke dalam masa depan yang suram, diledakan oleh konflik, menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari bentuk kehidupan yang lebih berarti.” Dengan kata lain, masyarakat saat ini sebenarnya sedang memerlukan pemahaman tentang perubahan bangsa. Untuk mencapainya, kuncinya harus berawal dari pemahaman perubahan sosial yang terjadi di masyarakat secara baik.
Perubahan sosial, kata Selo Soemardjan, diartikan sebagai perubahan-perubahan pada lembaga sosial di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok dalam masyarakat. Sementara para ahli sosiolog, membagi perubahan sosial menjadi beberapa bentuk. Pertama, perubahan lambat (evolusi) dan perubahan cepat (revolusi). Kedua, perubahan kecil dan perubahan besar. Ketiga, perubahan yang dikehendaki (direncanakan) dan perubahan yang tidak dikehendaki (tidak direncanakan).
Atas kesadaran itulah, harusnya kita ‘melek’ betul bahwa kehidupan ini pasti mengalami perubahan-perubahan, namun bentuknya bisa saling tumpang tindih atau berkolaburasi satu sama lainnya. Yang jelas, tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa.
Jadi, sangat wajar bila berawal dari berlangsungnya perubahan sosial yang baik di masayarakat itu akan berdampak terhadap perubahan bangsa yang baik pula di kemudian hari. Inilah kelihatannya sebuah kesadaran yang perlu dipahami oleh setiap kalangan pembangun bangsa, sehingga kita tidak terbawa dalam mitos perubahan yang menyesatkan.
Mitos perubahan sosial
Bagi orang Islam, hidup haruslah tidak terlepas dari aktivitas baca. Karena membaca merupakan kewajiban yang diserukan pertama kali melalui firman-Nya, seperti yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. aktivitas baca ini haruslah dimaknai secara aktif terhadap “tanda-tanda baca” yang telah diperlihatkan-Nya pada manusia. Di sinilah, fungsi akal memiliki peranan yang sangat menentukan untuk dapat membaca secara benar terhadap ayat-ayat Allah yang tertulis maupun tersirat dalam realitas alam.
Pada konteks ini, betapa banyak realitas alam yang telah mengajarkan pada makhluk berakal untuk memaknai atas sunatullah dari perubahan hidup. Misalnya, bagaimana sebuah pohon menjadi besar. Berawal dari biji, tumbuh akar, tunas, daun, buah dan kemudian mati. Begitu pun manusia, dari kandungan ibunya, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan mati. Bukankah semua itu pertanda sebuah perubahan dalam hidup manusia yang harus dijalani?
Adanya proses perubahan itu dimaksudkan untuk menggapai kedewasaan dan kesempurnaan hidup seorang hamba di hadapan Sang pemeilik kehidupan. Sayangnya, makna tersebut tidak mampu ditafsirkan secara benar dalam masyarakat kebanyakan. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa mitos yang tersebar di masyarakat berkait dengan makna perubahan tersebut.
Menurut Agus Setiaman (2000), ada tiga mitos tentang perubahan ini. Pertama, mitos penyimpangan. Sejumlah besar pemikiran sosiologis membayangkan perubahan sosial dalam arti sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Artinya keadaan normal peristiwa dalam masyarakat adalah terus menerus, institusi atau nilai-nilai kebudayaan dibayangkan stabil sepanjang waktu.
Presfektif yang dominan dalam dekade belakangan ini adalah persfektif struktural fungsional yang memusatkan perhatian dan dukungannya pada tatanan sosial yang ditandai stabilitas dan integrasi. Pemutusan perhatian pada stabilitas ini (akibatnya mengabaikan perubahan) dengan asumsi bahwa analisis statis dapat dilakukan tanpa mempersoalkan perubahan, dan untuk memahami perubahan sosial, terlebih dahulu diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat dalam keadaan statis.
Kedua, mitos tentang trauma. Pemikiran yang mengatakan perubahan adalah abnormal sering dihubungkan dengan pemikiran yang mengatakan bahwa perubahan adalah traumatis. Perubahan dipandang sebagai siksaan, krisis, dan agen asing yang tak terkendali. Dalam hal ini, Spincer memberikan pandangan mengapa orang trauma dalam menghadapi perubahan? Penyebabnya adalah perubahan itu dibayangkan dapat mengancam keamanan dasar, perubahan itu tidak dipahami masyarakat, dan perubahan itu terlalu dipaksakan.
Ketiga, mitos perubahan satu arah dan pandangan utopia. Auguste Comte dalam teori evolusi sosialnya menyatakan bahwa semua masyarakat menuju pada tujuan yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula untuk mencapai tujuan tersebut. Teori ini melukiskan urutan perkembangan masyarakat pada urutan yang tak terelakan, menjurus ke arah tujuan yang telah ditakdirkan sebelumnya.
Dalam pandangan utopia berasumsi bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertingginya dalam prestasi manusia. Karena itu, penyelesaian masalah dunia adalah terletak pada usaha membantu negara-negara berkembang memodernisasikan dirinya secepat dan sebaik mungkin sehingga serupa dengan Barat. Dengan demikian negara-negara berkembang segera menikmati perdamaian dan kesejahteraan.
Telaga kesejukan Islam
Tersebarnya mitos-mitos tersebut, tentu memberi dampak cukup berarti dengan perjalanan perubahan bangsa. Lebih-lebih hal itu didukung oleh realitas akibat perubahan sosial yang ada selama ini menyebabkan terjadinya berbagai krisis. Misalnya, ketika era reformasi muncul, banyak orang berpengharapan bahwa krisis ini akan segera teratasi.
Namun kenyatakan memperlihatkan, walaupun berbagai upaya untuk memulihkan telah dilakukan, tetapi karena parahnya kerusakan yang terjadi di hampir sisi kehidupan bangsa, hingga saat ini telah menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah belum berhasil menunjukkan tanda-tanda terang menuju perbaikan.
Konsekuensi realitas tersebut, terlihat nyata di hadapan realita perubahan saat ini sebagian manusia memilih menjadi kaum status quo. Menolak apa pun yang berbau perubahan. Di sisi lain, sebagian lainnya justru sangat bersemangat mengusung bendera perubahan. Kaum ‘pembaharu’ ini tiada henti meneriakkan ide revolusi. Salah satu yang sedang hangat menjelang pemilu 2004 adalah membuat daftar para “politisi hitam’, agar masyarakat tidak memilih figur yang memiliki “cacat secara hukum dan politik kotor”. Dengan “pedang terhunus” mereka membabat atribut-atribut kemapanan, sambil bersenandung, mengutip ungkapan filsuf Yunani, "Segala sesuatu berubah, kecuali perubahan itu sendiri.”
Keberadaan kedua kelompok itu, secara nyata telah menghiasi perjalanan “perahu bangsa” bernama Indonesia. Dan masing-maasing kekuatan itu, tentu akan berusaha membela kepentingannya. Hal ini, meminjam bahasa Joko Waskito, ide statisme yang menyakini bahwa kehidupan ini baku, tetap, berhenti dan tiada toleransi waktu sejengkal pun untuk perubahan adalah wujud kekalahan sejarah yang patut ditangisi selama kita masih memiliki air mata.
Di sisi lain, kaum revolusioner sejati yang menolak apapun yang bersifat tetap, stabil dan baku adalah kalangan yang layak dipertanyakan nalar kritisnya. Kita memahami bahwa sebuah eksistensi tidak akan muncul kecuali melalui proses. Lantas, bagaimana pandangan Islam dalam menyikapi fenomena ini?
Islam dalam banyak keterangan ditemukan sikap yang proposional. Artinya dalam memandang sesuatu persoalan itu sesuai dengan konteks hakikinya. Dalam arti lain, Islam itu adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Pada satu sisi, Islam merupakan agama yang akan melestarikan prinsip-prinsip yang telah baku, seperti prinsip ketahuidan dan realitas sunatullah di alam semesta. Namun, di sisi lain Islam membuka diri terhadap perubahan-perubahan sesuai kemajuan hidup manusia.
Pada tataran demikian, di sinilah kita temukan telaga kesejukan Islam. Atau dalam banyak hal. Pola pendekatan “jalan tengah” sering kali ditawarkan Islam. Lagian, bukankah Islam itu agama rahmatan lil alamin? Di sini, kuncinya terletak pada bagaimana sikap dan perilaku kita dalam mengaplikasikn pola-pola hidup perubahan bangsa itu secara benar atau tidak. Salah satu caranya ialah bagaimana masyarakat mampu berperan aktif untuk memilih figur-figur politik perubahan saat pemilu 2004 nanti?
Akhirnya tidaklah berlebihan, bila pendekatan “jalan tengah” –pada hal-hal di luar prinsipil—menjadi sesuatu yang perlu dibangun bersama-sama dalam memaknai sebuah perubahan bangsa menuju tatanan berbangsa dan bernegara yang lebih baik secara etis maupun moral. Untuk itu, pilihlah sosok-sosok politik pembaharu/perubaahan bangsa menuju telaga kesejukan Islam. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Showing posts with label MIQRA NEWS. Show all posts
Showing posts with label MIQRA NEWS. Show all posts
05 January 2009
16 September 2008
Etika Berdagang
Oleh Arda Dinatahttp://ardaiq.blogspot.com
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta orang lain dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku sukarela di antara kamu.” (QS. 4: 29).
Berniaga atau berdagang dalam memenuhi biaya kehidupan sangat dianjurkan. Dalam sabdanya, Rasulullah Saw. mengungkapkan, “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”
Memang, bila kita baca riwayat hidup Rasulullah akan diketahui bahwa Nabi Saw. betul-betul sosok pedagang yang profesional. Namun, bedanya dengan kebanyakan pedagang saat ini adalah ia mengambil pekerjaan berdagang itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, buka untuk menjadi seorang jutawan.
Dalam setiap transaksi dagangnya, entah itu kecil ataupun besar, Nabi tidak pernah memberikan kesempatan pada para pelanggannya untuk mengeluh. Ia selalu menempati janji dari setiap transaksi yang dilakukannya dengan tepat waktu. Kalau pun ada permasalahan, Nabi selalu menyelesaikannya dengan jalan damai dan adil, tanpa unsur penipuan.
Dari aaktivitas dagang yang pernah dilakukan Rasulullah, sesungguhnya terdapat prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur. Kejujuran, keadilan, dan konsistensi merupakan tiga kata yang selalu dipegang teguh oleh Nabi dalam melakukan transaksi perdagangan. Inilah sesungguhnya yang perlu diteladani umatnya.
Berdasarkan beberapa keterangan Nabi, berikut ini ada beberapa etika berniaga/dagang yang sangat dijaganya. Pertama, penjual harus menjauhi sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Nabi berkata, “Hati-hatilah terhadap sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Meskipun ia meningkatkan pemasaran, tetapi ia juga mengurangi berkahnya.”
Kedua, hanya dengan kesepakatan bersama, tidak menipu, atau dengan usulan dan penerimaan, penjualan suatu barang akan sempurna. Nabi berkata, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah tidak ada penipuan.” Pada bagian lain disebutkan, “Keduanya tidak boleh terpisah kecuali dengan kesepakatan bersama.”
Ketiga, orang yang membayar dimuka untuk pembelian suatu barang tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya. Nabi berkata, “Barangsiapa membayar di muka untuk suatu barang, jangan biarkan ia menyerahkan barang tersebut pada orang lain sebelum barang itu menjadi miliknya.”
Keempat, tidak ada harga komoditi yang boleh dibatasi. Selain itu, kita juga dilarang segala bentuk monopoli dalam perdagangan. Nabi mengatakan, “Barangsiapa melakukan monopoli, maka ia adalah seorang pendosa.”
Kelima, para pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan, hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Dan pengampunan hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membayar. Nabi berkata, “Seseorang akan dimasukkan ke surga, karena pernah berdagang di dunia, dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang, memberikan tempo untuk melunasi hutangnya, serta membebaskan pembayaran bagi yang sangat membutuhkan.” Semoga, kita termasuk di dalamnya. Wallahu’alam.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta orang lain dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku sukarela di antara kamu.” (QS. 4: 29).
Berniaga atau berdagang dalam memenuhi biaya kehidupan sangat dianjurkan. Dalam sabdanya, Rasulullah Saw. mengungkapkan, “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”
Memang, bila kita baca riwayat hidup Rasulullah akan diketahui bahwa Nabi Saw. betul-betul sosok pedagang yang profesional. Namun, bedanya dengan kebanyakan pedagang saat ini adalah ia mengambil pekerjaan berdagang itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, buka untuk menjadi seorang jutawan.
Dalam setiap transaksi dagangnya, entah itu kecil ataupun besar, Nabi tidak pernah memberikan kesempatan pada para pelanggannya untuk mengeluh. Ia selalu menempati janji dari setiap transaksi yang dilakukannya dengan tepat waktu. Kalau pun ada permasalahan, Nabi selalu menyelesaikannya dengan jalan damai dan adil, tanpa unsur penipuan.
Dari aaktivitas dagang yang pernah dilakukan Rasulullah, sesungguhnya terdapat prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur. Kejujuran, keadilan, dan konsistensi merupakan tiga kata yang selalu dipegang teguh oleh Nabi dalam melakukan transaksi perdagangan. Inilah sesungguhnya yang perlu diteladani umatnya.
Berdasarkan beberapa keterangan Nabi, berikut ini ada beberapa etika berniaga/dagang yang sangat dijaganya. Pertama, penjual harus menjauhi sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Nabi berkata, “Hati-hatilah terhadap sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Meskipun ia meningkatkan pemasaran, tetapi ia juga mengurangi berkahnya.”
Kedua, hanya dengan kesepakatan bersama, tidak menipu, atau dengan usulan dan penerimaan, penjualan suatu barang akan sempurna. Nabi berkata, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah tidak ada penipuan.” Pada bagian lain disebutkan, “Keduanya tidak boleh terpisah kecuali dengan kesepakatan bersama.”
Ketiga, orang yang membayar dimuka untuk pembelian suatu barang tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya. Nabi berkata, “Barangsiapa membayar di muka untuk suatu barang, jangan biarkan ia menyerahkan barang tersebut pada orang lain sebelum barang itu menjadi miliknya.”
Keempat, tidak ada harga komoditi yang boleh dibatasi. Selain itu, kita juga dilarang segala bentuk monopoli dalam perdagangan. Nabi mengatakan, “Barangsiapa melakukan monopoli, maka ia adalah seorang pendosa.”
Kelima, para pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan, hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Dan pengampunan hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membayar. Nabi berkata, “Seseorang akan dimasukkan ke surga, karena pernah berdagang di dunia, dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang, memberikan tempo untuk melunasi hutangnya, serta membebaskan pembayaran bagi yang sangat membutuhkan.” Semoga, kita termasuk di dalamnya. Wallahu’alam.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Silaturahim, Persahabatan Hakiki dan Terbukanya Rahmat
Oleh: Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com/
RASULULLAH s.a.w. bersabda, “Orang yang bersilaturahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang bersilaturahim adalah orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Silaturahim meupakan kata majemuk, terdiri dari kata shilat yang berarti menyambung yang putus. Sedangkan rahim berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang. Berkait dengan ini, kita tahu bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah berhati hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah ia berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya. Ia akan ternyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin serta mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan.
Adanya kondisi seperti itu, tentu akan berdampak pada terhindarnya dari usaha untuk menyakiti orang lain. Apalagi melakukan kejahatan. Sebaliknya ia tentu akan menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi kebaikan, keberuntungan dan kedamaian orang lain, masyarakat serta lingkungannya.
Sementara itu, dalam kamus umum bahasa Indonesia, silaturahim diartikan sebagai persaudaraan, persahabatan. Dari sini, kita bisa kembangkan menjadi berkunjung, mendatangi, mengeratkan tali kasih (termasuk berdoa), bahkan bisa diperluas lagi menjadi saling berkomunikasi (tukar pikiran), curhat, dan saling memaafkan.
Pada konteks budaya Indonesia, kegiatan silaturahim ini akan terasa sekali pada awal-awal bulan Syawal atau saat Idul Fitri, bila kita bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Padahal, seharusnya pemahaman silaturahim dan perilaku tersebut tidak terbatas pada perbedaan bulan dan situasional. Tapi, setiap saat kita harus berusaha membangun dan melakukannya, karena aktivitas ini akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira.
Keterangan berikut ini, setidaknya dapat menyakinkan kita tentang hal itu. “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” tanya Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabatnya.
Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka adalah amal salah yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenungi hadis tersebut, maka jelas Islam telah lebih dulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakan rizkinya. Yakni dengan cara menyambung persaudaraan (baca: menjalin persahabatan hakiki). Lalu, bagaimana aplikasinya?
Ilmu Barat mengatakan, “Inti dari hidup adalah bergerak.” Dengan demikian, siapa pun orangnya yang sering melakukan gerak, maka ia hidup. Sebab dengan melakukan gerak, tentu organ tubuh juga ikut bergerak. Dampaknya membuat jantung akan memompakan darah ke seluruh tubuh kita.
Kaitannya dengan silaturahim, maka orang yang sering melakukan aktivitas tersebut terhadap Sang Pencipta, manusia lain, dan lingkungannya, maka ia akan melakukan gerak pada organ tubuhnya (baik fisik maupun psikisnya). Otomatis organ tubuhnya menjadi hidup, yang pada akhirnya berkolerasi positif terhadap “dipanjangkan” usianya. Artinya bukan jatah hidupnya yang telah ditentukan-Nya menjadi bertambah, tetapi nama kita (dikemudian hari) walau telah meninggal dunia akan terus dikenang oleh orang lain karena kebaikan-kebaikan yang telah kita kerjakan.
Aktivitas silaturahim ini, selanjutnya juga akan mendatangkan rizki yang tidak disangka-sangka kepada siapa pun yang melakukannya. Rizki yang bagaimana? Itu adalah hak perogratif Allah. Yang jelas dalam silaturahim itu akan terjadi dialog, pembicaraan tentang sesuatu hal. Di sini, tentunya akan terjadi transfer ilmu pengetahuan. Bukankah ini merupakan suatu rizki? Lalu, kita juga kadangkala dalam silaturahim itu ada jamuan. Sehingga dari pertemuan santai model ini juga biasanya ada yang berlanjut pada kesepakatan kerjasama untuk berusaha dan bisnis. Bukankah hal ini suatu rizki? Dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang pasti, niatkan hati kita dengan iklas mengharap ridha-Nya. Karena Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dan Allah Maha Kaya lagi tahu segala-galanya.
Lebih dari itu, aktivitas silaturahim ini tentu akan mengokohkan jalinan persahabatan hakiki bagi setiap orang yang mampu membangunnya. Dan kondisi bangsa saat ini, kelihatannya sangat membutuhkan sosok anak bangsa yang mampu menjalin ikatan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini.
Persahabatan hakiki
Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah. Apalagi saat senang, memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.
Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang suci (fithriyyah) bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar banyak mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat, karakter manusia dan pola kehidupannya. Dan dari sini pula diharapkan kedewasaan serta kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.
Untuk mencapai makom persahabatan hakiki tersebut, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapainya. Yakni melalui persahabatan yang dibalut dengan Sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran nur Islam, yaitu bukan hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seakidah (baca: ibarat satu tubuh). Tapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, meminjam bahasa Aa Gym adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan di antara keduanya. Yaitu Allah zat yang maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.
Sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan perselisihan tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat. Sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan.
Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---. Jadi, kunci bagi dipanjangkannya usia dan terbukanya rahmat serta pertolongan Allah untuk keluar dari jeratan krisis yang melilit bangsa ini, tidak lain adalah membangun ukhuwah islamiyah dan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini. Karena bagaimana pun besarnya umat Islam di Indonesia, sama sekali tidak ada artinya, benar-benar laksana buih di lautan yang dengan mudah terombang-ambing gelombang, bila kita tidak mau berpegang teguh pada tali Allah dan menegakkan persatuan umat. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com/
RASULULLAH s.a.w. bersabda, “Orang yang bersilaturahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang bersilaturahim adalah orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Silaturahim meupakan kata majemuk, terdiri dari kata shilat yang berarti menyambung yang putus. Sedangkan rahim berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang. Berkait dengan ini, kita tahu bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah berhati hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah ia berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya. Ia akan ternyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin serta mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan.
Adanya kondisi seperti itu, tentu akan berdampak pada terhindarnya dari usaha untuk menyakiti orang lain. Apalagi melakukan kejahatan. Sebaliknya ia tentu akan menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi kebaikan, keberuntungan dan kedamaian orang lain, masyarakat serta lingkungannya.
Sementara itu, dalam kamus umum bahasa Indonesia, silaturahim diartikan sebagai persaudaraan, persahabatan. Dari sini, kita bisa kembangkan menjadi berkunjung, mendatangi, mengeratkan tali kasih (termasuk berdoa), bahkan bisa diperluas lagi menjadi saling berkomunikasi (tukar pikiran), curhat, dan saling memaafkan.
Pada konteks budaya Indonesia, kegiatan silaturahim ini akan terasa sekali pada awal-awal bulan Syawal atau saat Idul Fitri, bila kita bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Padahal, seharusnya pemahaman silaturahim dan perilaku tersebut tidak terbatas pada perbedaan bulan dan situasional. Tapi, setiap saat kita harus berusaha membangun dan melakukannya, karena aktivitas ini akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira.
Keterangan berikut ini, setidaknya dapat menyakinkan kita tentang hal itu. “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” tanya Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabatnya.
Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka adalah amal salah yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenungi hadis tersebut, maka jelas Islam telah lebih dulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakan rizkinya. Yakni dengan cara menyambung persaudaraan (baca: menjalin persahabatan hakiki). Lalu, bagaimana aplikasinya?
Ilmu Barat mengatakan, “Inti dari hidup adalah bergerak.” Dengan demikian, siapa pun orangnya yang sering melakukan gerak, maka ia hidup. Sebab dengan melakukan gerak, tentu organ tubuh juga ikut bergerak. Dampaknya membuat jantung akan memompakan darah ke seluruh tubuh kita.
Kaitannya dengan silaturahim, maka orang yang sering melakukan aktivitas tersebut terhadap Sang Pencipta, manusia lain, dan lingkungannya, maka ia akan melakukan gerak pada organ tubuhnya (baik fisik maupun psikisnya). Otomatis organ tubuhnya menjadi hidup, yang pada akhirnya berkolerasi positif terhadap “dipanjangkan” usianya. Artinya bukan jatah hidupnya yang telah ditentukan-Nya menjadi bertambah, tetapi nama kita (dikemudian hari) walau telah meninggal dunia akan terus dikenang oleh orang lain karena kebaikan-kebaikan yang telah kita kerjakan.
Aktivitas silaturahim ini, selanjutnya juga akan mendatangkan rizki yang tidak disangka-sangka kepada siapa pun yang melakukannya. Rizki yang bagaimana? Itu adalah hak perogratif Allah. Yang jelas dalam silaturahim itu akan terjadi dialog, pembicaraan tentang sesuatu hal. Di sini, tentunya akan terjadi transfer ilmu pengetahuan. Bukankah ini merupakan suatu rizki? Lalu, kita juga kadangkala dalam silaturahim itu ada jamuan. Sehingga dari pertemuan santai model ini juga biasanya ada yang berlanjut pada kesepakatan kerjasama untuk berusaha dan bisnis. Bukankah hal ini suatu rizki? Dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang pasti, niatkan hati kita dengan iklas mengharap ridha-Nya. Karena Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dan Allah Maha Kaya lagi tahu segala-galanya.
Lebih dari itu, aktivitas silaturahim ini tentu akan mengokohkan jalinan persahabatan hakiki bagi setiap orang yang mampu membangunnya. Dan kondisi bangsa saat ini, kelihatannya sangat membutuhkan sosok anak bangsa yang mampu menjalin ikatan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini.
Persahabatan hakiki
Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah. Apalagi saat senang, memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.
Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang suci (fithriyyah) bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar banyak mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat, karakter manusia dan pola kehidupannya. Dan dari sini pula diharapkan kedewasaan serta kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.
Untuk mencapai makom persahabatan hakiki tersebut, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapainya. Yakni melalui persahabatan yang dibalut dengan Sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran nur Islam, yaitu bukan hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seakidah (baca: ibarat satu tubuh). Tapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, meminjam bahasa Aa Gym adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan di antara keduanya. Yaitu Allah zat yang maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.
Sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan perselisihan tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat. Sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan.
Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---. Jadi, kunci bagi dipanjangkannya usia dan terbukanya rahmat serta pertolongan Allah untuk keluar dari jeratan krisis yang melilit bangsa ini, tidak lain adalah membangun ukhuwah islamiyah dan persahabatan hakiki di antara penghuni negeri ini. Karena bagaimana pun besarnya umat Islam di Indonesia, sama sekali tidak ada artinya, benar-benar laksana buih di lautan yang dengan mudah terombang-ambing gelombang, bila kita tidak mau berpegang teguh pada tali Allah dan menegakkan persatuan umat. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Pastikan Kita Masuk “Surga”!
Oleh: Arda Dinata
DARI Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah bersabda kepada umat yang sedang mengelilinginya, “Pastikanlah kamu melaksanakan enam hal, aku pastikan kamu masuk surga!” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi, "Apa-apa saja (yang enam tersebut), wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Shalat, zakat, amanah, kehormatan, perut, lidah.” (HR. Ath-Thabrani).
Hadis tersebut sangat inspiratif dalam mengarahkan manusia dalam mencapai kehidupan yang surgawi. Artinya kata “jannah” –surga-- tidaklah terbatas pada makna konotasi surga di akhirat saja. Tapi, ia lebih merupakan simbol dari segala kenikmatan, baik di dunia maupun akhirat.
Hal senada diakui Dr. H. Muslim Nasution, pencapaian surga itu tidaklah terbatas pada pencapaian surga dalam arti di akhirat saja, tetapi juga pencapaian surga dalam arti dimensi duniawi. Yakni kebahagiaan dunia, ketenangan, kedamaian, kesuksesan dan lainnya. Sehingga bila surga di akhirat bisa diperoleh, mengapa surga di dunia tak bisa diperoleh?
Setiap orang pasti ingin bahagia. Namun, adakalanya orang berjalan hanya mengikuti nafsunya semata-mata tanpa memperdulikan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Dan kebahagiaan itu, janganlah diposisikan dalam kaca mata manusia. Sebab, kebahagiaan yang hakiki hanyalah milik Allah SWT., sehingga kebahagiaan inilah yang harus umat Islam gapai.
Adapun langkah pertama yang perlu dilakukan untuk masuk surga (baca: menuju bahagia) ialah melaksanakan shalat. Makna shalat ini bila kita pahami dengan baik, sungguh amat dalam nilai yang dikandungnya. Shalat, selain berdimensi ibadah ritual dengan nilai pahala kemuliaan, juga berdimensi sosial-kemanusiaan. Dalam konteks hidup manusia, shalat juga dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan negatif. Sehingga, pantas saja ketika seseorang meninggal dunia, pemeriksaan amal perbuatan yang pertama dinilai adalah amalan shalatnya.
“Sesungguhnya, pekerjaan seorang hamba Allah, yang paling pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, bahagia dan sukseslah dia. Apabila shalatnya rusak, hancur dan rugilah dia …” (HR. At-Tirmidzi).
Langkah lain menuju kebahagiaan ialah membayar zakat dan melaksanakan amanah/amanat. Membayar zakat (zakat mal dan fitrah) merupakan rukun Islam yang harus dilaksanakan bila telah mencukupi syarat-syaratnya. Pelaksanaan zakat, menurut Muslim Nasution, berarti memberi sejumlah harta atau benda kepada orang-orang tertentu yang pada umumnya dikategorikan orang-orang yang memerlukan bantuan finansial dan materi.
Dalam ajaran Islam, harta yang kita miliki bukanlah milik kita secara hakiki. Namun, harta itu merupakan amanat dari Allah SWT. Lebih dari itu, di dalam harta yang dimiliki seorang muslim terdapat sejumlah hak orang lain. Hak itulah yang kemudian direalisasikan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.
Sementara itu, amanat diartikan tidak sekedar memelihara atau menjaga sesuatu yang dititipkan. Tapi, dalam pandangan Al-Ghazali, amanat mempunyai makna yang luas. Bisa berupa perhatian seseorang terhadap tanggung jawab yang dipikulnya. Baik dalam bentuk pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang disyariatkan Allah SWT. dalam Alquran maupun hadis.
Sehingga dapat dikatakan, bila seseorang melaksanakan amanat berarti melaksanakan berbagai ketentuan Allah yang telah diamanatkan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. menjelaskan, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta milik tuannya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).
Syarat masuk surga lainnya ialah berupa memelihara kehormatan dan menjaga perut. Orang yang menjaga kehormatan dirinya secara baik akan mendapat kedudukan yang mulia dalam masyarakat. Realitasnya memperlihatkan, betapa banyak orang yang hancur kehidupan dan masa depannya akibat dari tidak mampu menjaga kehormatannya. Singkatnya, kehormatan merupakan harga diri yang mulia. Dalam Islam sendiri, perilaku memelihara kehormatan diri ini digolongkan wajib hukumnya.
Kata kehormatan (baca: al-farj) di dalam hadis tersebut, sebenarnya memiliki arti lebih khusus sebagai alat kelamin (seks). Artinya, orang haruslah memelihara alat kelamin agar tidak digunakan pada yang haram. Dampaknya, apabila seks bebas berkembang di masyarakat akan timbul kegoncangan di dalam kehidupannya.
Sedangkan kata perut sendiri, lebih merupakan simbol dari sesuatu yang masuk ke dalam perut (baca: makanan). Sehingga makanan harus menjadi perhatian yang serius. Tepatnya, setiap muslim harus hati-hati terhadap segala sesuatu yang dikonsumsi tubuhnya. Apakah halal atau haram, sebab ketidak halalan tersebut akan berakibat buruk bagi jiwanya.
Dalam konteks ini, Rasulullah pernah mengatakan, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka nerakalah tempatnya.” Di sini, kata neraka itu tidak hanya berarti neraka di akhirat, tapi juga “neraka dunia” (kegoncangan jiwa, kekerasan, kehancuran, dll). Lebih jauh, menurut Muslim Nasution, makanan yang haram akan membuat jiwa selalu tak pernah puas, malas beramal saleh, tak mau beribadah, tak patuh pada aturan, tumpul rasa jiwanya, dll.
Langkah terakhir untuk masuk surga menurut hadis di atas adalah berupa menjaga/mengawasi lidah. Sebab, lidah merupakan simbol dari kata atau ucapan manusia. Arti lainnya, kata-kata atau ucapan yang dikeluarkan haruslah dijaga jangan sampai menggoncangkan, menggelisahkan masyarakat, tidak mengucapkan yang batil dan tidak benar. Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, dengan melaksanakan keenam langkah atau perilaku tersebut, semoga seperti kata Nabi Saw. pastikan kita masuk surga! Amin. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
DARI Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah bersabda kepada umat yang sedang mengelilinginya, “Pastikanlah kamu melaksanakan enam hal, aku pastikan kamu masuk surga!” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi, "Apa-apa saja (yang enam tersebut), wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Shalat, zakat, amanah, kehormatan, perut, lidah.” (HR. Ath-Thabrani).
Hadis tersebut sangat inspiratif dalam mengarahkan manusia dalam mencapai kehidupan yang surgawi. Artinya kata “jannah” –surga-- tidaklah terbatas pada makna konotasi surga di akhirat saja. Tapi, ia lebih merupakan simbol dari segala kenikmatan, baik di dunia maupun akhirat.
Hal senada diakui Dr. H. Muslim Nasution, pencapaian surga itu tidaklah terbatas pada pencapaian surga dalam arti di akhirat saja, tetapi juga pencapaian surga dalam arti dimensi duniawi. Yakni kebahagiaan dunia, ketenangan, kedamaian, kesuksesan dan lainnya. Sehingga bila surga di akhirat bisa diperoleh, mengapa surga di dunia tak bisa diperoleh?
Setiap orang pasti ingin bahagia. Namun, adakalanya orang berjalan hanya mengikuti nafsunya semata-mata tanpa memperdulikan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Dan kebahagiaan itu, janganlah diposisikan dalam kaca mata manusia. Sebab, kebahagiaan yang hakiki hanyalah milik Allah SWT., sehingga kebahagiaan inilah yang harus umat Islam gapai.
Adapun langkah pertama yang perlu dilakukan untuk masuk surga (baca: menuju bahagia) ialah melaksanakan shalat. Makna shalat ini bila kita pahami dengan baik, sungguh amat dalam nilai yang dikandungnya. Shalat, selain berdimensi ibadah ritual dengan nilai pahala kemuliaan, juga berdimensi sosial-kemanusiaan. Dalam konteks hidup manusia, shalat juga dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan negatif. Sehingga, pantas saja ketika seseorang meninggal dunia, pemeriksaan amal perbuatan yang pertama dinilai adalah amalan shalatnya.
“Sesungguhnya, pekerjaan seorang hamba Allah, yang paling pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, bahagia dan sukseslah dia. Apabila shalatnya rusak, hancur dan rugilah dia …” (HR. At-Tirmidzi).
Langkah lain menuju kebahagiaan ialah membayar zakat dan melaksanakan amanah/amanat. Membayar zakat (zakat mal dan fitrah) merupakan rukun Islam yang harus dilaksanakan bila telah mencukupi syarat-syaratnya. Pelaksanaan zakat, menurut Muslim Nasution, berarti memberi sejumlah harta atau benda kepada orang-orang tertentu yang pada umumnya dikategorikan orang-orang yang memerlukan bantuan finansial dan materi.
Dalam ajaran Islam, harta yang kita miliki bukanlah milik kita secara hakiki. Namun, harta itu merupakan amanat dari Allah SWT. Lebih dari itu, di dalam harta yang dimiliki seorang muslim terdapat sejumlah hak orang lain. Hak itulah yang kemudian direalisasikan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.
Sementara itu, amanat diartikan tidak sekedar memelihara atau menjaga sesuatu yang dititipkan. Tapi, dalam pandangan Al-Ghazali, amanat mempunyai makna yang luas. Bisa berupa perhatian seseorang terhadap tanggung jawab yang dipikulnya. Baik dalam bentuk pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang disyariatkan Allah SWT. dalam Alquran maupun hadis.
Sehingga dapat dikatakan, bila seseorang melaksanakan amanat berarti melaksanakan berbagai ketentuan Allah yang telah diamanatkan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. menjelaskan, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta milik tuannya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).
Syarat masuk surga lainnya ialah berupa memelihara kehormatan dan menjaga perut. Orang yang menjaga kehormatan dirinya secara baik akan mendapat kedudukan yang mulia dalam masyarakat. Realitasnya memperlihatkan, betapa banyak orang yang hancur kehidupan dan masa depannya akibat dari tidak mampu menjaga kehormatannya. Singkatnya, kehormatan merupakan harga diri yang mulia. Dalam Islam sendiri, perilaku memelihara kehormatan diri ini digolongkan wajib hukumnya.
Kata kehormatan (baca: al-farj) di dalam hadis tersebut, sebenarnya memiliki arti lebih khusus sebagai alat kelamin (seks). Artinya, orang haruslah memelihara alat kelamin agar tidak digunakan pada yang haram. Dampaknya, apabila seks bebas berkembang di masyarakat akan timbul kegoncangan di dalam kehidupannya.
Sedangkan kata perut sendiri, lebih merupakan simbol dari sesuatu yang masuk ke dalam perut (baca: makanan). Sehingga makanan harus menjadi perhatian yang serius. Tepatnya, setiap muslim harus hati-hati terhadap segala sesuatu yang dikonsumsi tubuhnya. Apakah halal atau haram, sebab ketidak halalan tersebut akan berakibat buruk bagi jiwanya.
Dalam konteks ini, Rasulullah pernah mengatakan, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka nerakalah tempatnya.” Di sini, kata neraka itu tidak hanya berarti neraka di akhirat, tapi juga “neraka dunia” (kegoncangan jiwa, kekerasan, kehancuran, dll). Lebih jauh, menurut Muslim Nasution, makanan yang haram akan membuat jiwa selalu tak pernah puas, malas beramal saleh, tak mau beribadah, tak patuh pada aturan, tumpul rasa jiwanya, dll.
Langkah terakhir untuk masuk surga menurut hadis di atas adalah berupa menjaga/mengawasi lidah. Sebab, lidah merupakan simbol dari kata atau ucapan manusia. Arti lainnya, kata-kata atau ucapan yang dikeluarkan haruslah dijaga jangan sampai menggoncangkan, menggelisahkan masyarakat, tidak mengucapkan yang batil dan tidak benar. Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, dengan melaksanakan keenam langkah atau perilaku tersebut, semoga seperti kata Nabi Saw. pastikan kita masuk surga! Amin. Wallahu’alam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Penyakit, Musibah dan Perahu Kesabaran
Oleh ARDA DINATA
http://ardanews.blogspot.com/
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna Ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)
BERBAGAI penyakit terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan yang rendah, dewasa ini masih mendera masyarakat Indonesia, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), kusta, filariasis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lainnya. Kondisi rendahnya kualitas kesehatan lingkungan itu, tidak saja mendatangkan jatuhnya banyak korban karena serangan penyakit tersebut, tapi bahkan telah mendatangkan (musibah) bencana alam (seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan, dll).
Adanya fenomena alam seperti itu, kita selaku umat beragama tentu harus merenungi, sikapi dan maknai secara benar. Ada hikmah apa dibalik segala “musibah” dan kejadian tersebut. sehingga dengan pola pikir seperti ini, kita dapat berbuat lebih baik lagi dan menyikapi alam semesta ini dengan benar lagi bijaksana.
Berbicara musibah, dalam khazanah keilmuan Islam disebutkan kalau musibah itu sebenarnya ada dua macam. Pertama, musibah yang di luar pilihan manusia. Contohnya adanya penyakit yang menimpa seseorang atau terjadinya kefakiran. Sedangkan terkait posisi manusia dalam menghadapi musibah macam ini, Dr. Akrim Ridha membaginya menjadi empat macam. (1) Ada manusia yang lemah sehingga ia tampak gundah dan sedih, serta ia suka mengaduh dan sedih, serta ia suka mengaduh bahkan merasa tidak suka atau benci; (2) ada yang sabar; (3) yang lebih tinggi dari bersabar adalah ridha atau menerima; (4) bahkan ada juga yang syukur, dan ini merupakan makom (kedudukan) yang paling tinggi.
Kategori musibah kedua, adalah musibah yang mengenai seseorang karena perlakuan orang lain. Contohnya perbuatan zalim, merampas harta, atau mencela. Sementara itu, terkait kedudukan manusia ketika menghadapi musibah kategori ini, dalam bahasa Akrim Ridha, selain kedudukan seperti kategori sebelumnya, juga ditambah dengan kedudukan berikut: (1) memaafkan; (2) kalbunya bersih dari keinginan balas dendam; (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; (4) berusaha untuk menghadapi pelbagai aspek yang menjadi sebab timbulnya musibah dan menghilangkannya, di samping berusaha maksimal untuk bangkit dari keterpurukan dan kegagalan. Terkait dengan hal itu, pantas saja para psikolog berkata: ”Keluh kesah (gundah) itu karib dan saudaranya sikap lemah (loyo), sedangkan sabar itu saudara kandung dan sahabat terdekatnya kecerdasan dan akal.”
* *
SESUNGGUHNYA kalau kita mau jujur, kedudukan “berusaha” dalam menghadapi segala kejadian dalam hidup manusia (terjadi penyakit, musibah, dll.) merupakan sikap yang harus tertanam dalam tindakan hidup seorang muslim. Sebab, makom “berusaha” inilah yang menghimpun semua makom atau posisi-posisi sebelumnya serta berlaku dan berguna untuk semuanya, bahkan semua posisi itu ditentukan oleh adanya usaha.
Pada tataran berusaha inilah, manusia harus dibekali dengan “perahu kesabaran”. Kata sabar itu sendiri berasal dari bahasa Arab shabara. Huruf yang membentuknya, yaitu shad, ba’, dan ra’. Adapun makna asalnya berarti berusaha menahan diri dan melatihnya. Dalam hal ini, Ibn Al Qayyim menyatakan: “Dalam kata sabar itu dikandung tiga makna, yaitu menahan, tegar, dan menggabungkan.”
Dengan demikian, sabar bagi manusia bukan berarti pasrah. Sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Kata lainnya, kesabaran itu merupakan proses aktif, gabungan antara ridha dan ikhtiar. Jadi, kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif baik akal, tubuh dan iman dalam hati manusia. Justru, dari musibah yang disikapi dengan sabarlah akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.
Lebih jauh lagi diungkapkan dalam kamus bahasa Arab, makna kesabaran itu ada tiga. (1) Sabar adalah al man’u wa al habsu, mencegah dan menahan. Yakni mencegah jiwa supaya tidak gundah, dan menahan lidah supaya tidak suka mengadu. (2) Sabar berarti tegar dan kuat. Shubru, di mana kata shad-nya didammahkan, berarti tanah yang sangat tegar dan subur. Obat yang dikenal sangat pahit disebut shabir, sedangkan pohonnya adalah shabar. Seorang penyair pernah mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”
(3) Ash-shabr, juga berarti al jam’u wa al dhamm. Artinya menghimpun dan menggabungkan. Arti lainnya, orang yang bersabar adalah orang yang mampu untuk menghimpun potensi dirinya, sehingga tidak gampang sedih dan keluh kesah.
Secara demikian, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup manusia. Adapun langkah strategis yang akan membantu kesabaran itu, kata Ibn Al Qayyim, tiang penyangganya adalah ilmu dan amal. Ilmu adalah pengenal terhadap segala akibat dari berbagai hal bila dilakukan dan menimbang kelebihannya bila ditinggalkan. Sedangkan amal adalah keinginan kuat atau ambisi yang benar dan semangat yang tinggi.
Terkait dengan kesabaran tersebut, almarhum Prof. KH. Anwar Musaddad, pernah menulis bahwa wilayah sabar itu ada empat, yaitu (1) dalam taat –lakukanlah--; (2) dalam maksiat –jauhilah--; (3) menghadapi musibah –tahanlah dirimu dan terimalah itu sebagai ujian dari Allah--; dan (4) sabar dalam berjihad.
Akhirnya, harus kita tanamkan bahwa “perahu kesabaran” itu bukanlah suatu kehinaan dan bukan pula ridha dengan kezaliman. Justru, sesungguhnya kesabaran itu merupakan suatu potensi yang memberikan dorongan kuat untuk mengembalikan kebenaran dan melakukan usaha untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com/
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna Ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)
BERBAGAI penyakit terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan yang rendah, dewasa ini masih mendera masyarakat Indonesia, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), kusta, filariasis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lainnya. Kondisi rendahnya kualitas kesehatan lingkungan itu, tidak saja mendatangkan jatuhnya banyak korban karena serangan penyakit tersebut, tapi bahkan telah mendatangkan (musibah) bencana alam (seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan, dll).
Adanya fenomena alam seperti itu, kita selaku umat beragama tentu harus merenungi, sikapi dan maknai secara benar. Ada hikmah apa dibalik segala “musibah” dan kejadian tersebut. sehingga dengan pola pikir seperti ini, kita dapat berbuat lebih baik lagi dan menyikapi alam semesta ini dengan benar lagi bijaksana.
Berbicara musibah, dalam khazanah keilmuan Islam disebutkan kalau musibah itu sebenarnya ada dua macam. Pertama, musibah yang di luar pilihan manusia. Contohnya adanya penyakit yang menimpa seseorang atau terjadinya kefakiran. Sedangkan terkait posisi manusia dalam menghadapi musibah macam ini, Dr. Akrim Ridha membaginya menjadi empat macam. (1) Ada manusia yang lemah sehingga ia tampak gundah dan sedih, serta ia suka mengaduh dan sedih, serta ia suka mengaduh bahkan merasa tidak suka atau benci; (2) ada yang sabar; (3) yang lebih tinggi dari bersabar adalah ridha atau menerima; (4) bahkan ada juga yang syukur, dan ini merupakan makom (kedudukan) yang paling tinggi.
Kategori musibah kedua, adalah musibah yang mengenai seseorang karena perlakuan orang lain. Contohnya perbuatan zalim, merampas harta, atau mencela. Sementara itu, terkait kedudukan manusia ketika menghadapi musibah kategori ini, dalam bahasa Akrim Ridha, selain kedudukan seperti kategori sebelumnya, juga ditambah dengan kedudukan berikut: (1) memaafkan; (2) kalbunya bersih dari keinginan balas dendam; (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; (4) berusaha untuk menghadapi pelbagai aspek yang menjadi sebab timbulnya musibah dan menghilangkannya, di samping berusaha maksimal untuk bangkit dari keterpurukan dan kegagalan. Terkait dengan hal itu, pantas saja para psikolog berkata: ”Keluh kesah (gundah) itu karib dan saudaranya sikap lemah (loyo), sedangkan sabar itu saudara kandung dan sahabat terdekatnya kecerdasan dan akal.”
* *
SESUNGGUHNYA kalau kita mau jujur, kedudukan “berusaha” dalam menghadapi segala kejadian dalam hidup manusia (terjadi penyakit, musibah, dll.) merupakan sikap yang harus tertanam dalam tindakan hidup seorang muslim. Sebab, makom “berusaha” inilah yang menghimpun semua makom atau posisi-posisi sebelumnya serta berlaku dan berguna untuk semuanya, bahkan semua posisi itu ditentukan oleh adanya usaha.
Pada tataran berusaha inilah, manusia harus dibekali dengan “perahu kesabaran”. Kata sabar itu sendiri berasal dari bahasa Arab shabara. Huruf yang membentuknya, yaitu shad, ba’, dan ra’. Adapun makna asalnya berarti berusaha menahan diri dan melatihnya. Dalam hal ini, Ibn Al Qayyim menyatakan: “Dalam kata sabar itu dikandung tiga makna, yaitu menahan, tegar, dan menggabungkan.”
Dengan demikian, sabar bagi manusia bukan berarti pasrah. Sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Kata lainnya, kesabaran itu merupakan proses aktif, gabungan antara ridha dan ikhtiar. Jadi, kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif baik akal, tubuh dan iman dalam hati manusia. Justru, dari musibah yang disikapi dengan sabarlah akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.
Lebih jauh lagi diungkapkan dalam kamus bahasa Arab, makna kesabaran itu ada tiga. (1) Sabar adalah al man’u wa al habsu, mencegah dan menahan. Yakni mencegah jiwa supaya tidak gundah, dan menahan lidah supaya tidak suka mengadu. (2) Sabar berarti tegar dan kuat. Shubru, di mana kata shad-nya didammahkan, berarti tanah yang sangat tegar dan subur. Obat yang dikenal sangat pahit disebut shabir, sedangkan pohonnya adalah shabar. Seorang penyair pernah mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”
(3) Ash-shabr, juga berarti al jam’u wa al dhamm. Artinya menghimpun dan menggabungkan. Arti lainnya, orang yang bersabar adalah orang yang mampu untuk menghimpun potensi dirinya, sehingga tidak gampang sedih dan keluh kesah.
Secara demikian, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup manusia. Adapun langkah strategis yang akan membantu kesabaran itu, kata Ibn Al Qayyim, tiang penyangganya adalah ilmu dan amal. Ilmu adalah pengenal terhadap segala akibat dari berbagai hal bila dilakukan dan menimbang kelebihannya bila ditinggalkan. Sedangkan amal adalah keinginan kuat atau ambisi yang benar dan semangat yang tinggi.
Terkait dengan kesabaran tersebut, almarhum Prof. KH. Anwar Musaddad, pernah menulis bahwa wilayah sabar itu ada empat, yaitu (1) dalam taat –lakukanlah--; (2) dalam maksiat –jauhilah--; (3) menghadapi musibah –tahanlah dirimu dan terimalah itu sebagai ujian dari Allah--; dan (4) sabar dalam berjihad.
Akhirnya, harus kita tanamkan bahwa “perahu kesabaran” itu bukanlah suatu kehinaan dan bukan pula ridha dengan kezaliman. Justru, sesungguhnya kesabaran itu merupakan suatu potensi yang memberikan dorongan kuat untuk mengembalikan kebenaran dan melakukan usaha untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Sikap Manusia Dalam Mementaskan Hidup
Oleh ARDA DINATA
http://ardanews.blogspot.com
Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i).
UNGKAPAN imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan hari-hari yang kita jalani. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak “bertanya” mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.
Untuk itu, dalam mementaskan hidup, kita hanya berusaha untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal kita. Di sini, perlu digaris bawahi bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.
Artinya, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak itu, baik yang menyenangkan (tentu baik untuk kita). Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah “paksakan” bagi diri kita. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita?
Pokoknya, hidup adalah pilihan. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana kita memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.
Untuk itu, agar kita tidak salah memilih dalam mementaskan hidup, berikut ini ada tujuh langkah yang dapat kita lakukan. Pertama, pelihara lintasan pikiran untuk tetap mengarah pada kebaikan. Lintasan pikiran adalah tangga pertama yang akan mengantarkan seseorang pada niat dan sikap. Dalam tahap ini semua orang akan mengalaminya (lintasan pikiran baik maupun yang buruk). Jika hanya sebatas lintasan berbuat buruk, itu wajar dan manusiawi. Allah SWT juga tidak mencatat hal itu sebagai suatu dosa. Namun bila kurang waspada, lintasan hati itu kerap berkembang menuju tahapan dialog batin (baca: dialog antara keinginan melakukan kebaikan atau keburukan). Terjadilah benturan antara bisikan setan untuk melakukan keburukan dengan bisikan malaikat dan akal sehat untuk tidak melakukan keburukan. Bila dalam benturan ini, nafsu keburukan dan bisikan setan yang menang, maka muncullah niat.
Kedua, pertimbangan suatu pilihan dengan ilmu. Menentukan suatu pilihan pasti dengan timbangan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Informasi yang keliru atau minimnya pengetahuan akan membawa kita pada pilihan yang salah. Setidaknya, kita harus mengetahui kategori kesalahan yang termasuk dosa besar dan dosa kecil.
Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin mengutip uraian tentang dosa besar yang disebutkan oleh Abu Thalib Al Makky. Katanya, “Dosa-dosa besar itu ada tujuh belas. Saya menghimpunnya dari sejumlah atsar. Empat macam ada di dalam hati, yaitu: syirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari tipu daya Allah. Empat macam ada di lidah, yaitu: kesaksian palsu, menuduh wanita yang baik-baik, minum khamar, makan harta anak yatim dengan zalim dan memakan riba. Dua macam ada di kemaluan yaitu zina dan seks dengan sejenis. Dua macam ada di tangan yaitu membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki yaitu melarikan diri saat pertempuran. Satu macam ada di seluruh badan yaitu durhaka pada orangtua.”
Ketiga, berdoa memohon petunjuk Allah. Permohonan petunjuk Allah saat kita memilih, adalah bukti dan cermin suasana iman yang sangat mempercayainya, membutuhkan, dan mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam segala hal. Manusia sering keliru menentukan pilihan yang menurutnya baik. Ternyata di kemudian hari pilihan itu justru menjadi awal bencana baginya. Kita kadang menilai negatif, antipati, menolak sesuatu berdasarkan logika, pikiran yang terbatas. Tapi, ternyata hal itu justru mendatangkan manfaat yang sangat luar biasa untuk Allah. Allah berfirman, “Bisa jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu yang engkau benci itu baik bagimu. Bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu yang engkau sukai itu tidak baik bagimu.”
Keempat, tumbuh dan pelihara perasaan takut pada Allah SWT. Rasa aman akan azab dari Allah juga dapat menyebabkan seseorang lalai dengan dosa, memudah-mudahkan kesalahan dan menunda-nunda pekerjaan baik, hingga akhirnya tenggelam dalam kemaksiatan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan seksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97-99).
Kelima, sadari bahwa hidup ini hanya sementara. Pilihan dalam hidup sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang hidup. Panjang angan-angan, menumpuk mimpi, terlalu berobsesi pada kehidupan dunia, akan membawa orang lupa bahwa hidup ini sementara. Kondisi inilah yang akan menjadikan orang tidak mampu memandang secara benar dalam memilih.
Keenam, tanamkan kekhawatiran su’ul khatimah. Takut dan khawatir itu bermacam-macam. Ada orang yang dalam hatinya dominan rasa takut terhadap kematian sebelum bertaubat. Ada orang yang merasa lebih takut condong pada kenikmatan dan beralih dari sikap istiqomah. Ada yang takut terhadap akhir hidup yang buruk. Yang paling tinggi adalah yang terakhir. Di antara orang yang takut adalah orang yang takut sakratul maut dan kepedihannya atau pertanyaan malaikat mungkar dan nakir. Takut meniti shirat, takut neraka dan kobarannya, takut tidak bisa masuk surga.
Ketujuh, renungi pilihan-pilihan yang lalu. Bukan untuk sekedar merenung, menyesal dan kemudian melemparkan kesalahan pada nasib. Bukan juga untuk mengatakan, kenapa tidak begini, kenapa begitu. Perenungan yang kemudian membuka celah kata-kata jika begini, seandainya begitu, sama dengan membuka celah setan untuk menyesali hidup, merasa sangat bersalah dan bersikap putus asa. Sikap seperti itu tidak ada gunanya dan dilarang. Rasulullah dalam sebuah hadis mengingatkan bahwa perkataan “jika dan seandainya” itu adalah pintu bagi setan untuk mengganggu manusia.
Akhirnya, semoga langkah-langkah penting tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi hidup yang penuh kegelapan ini. Dan pastikanlah usaha maupun sikap kita selaku manusia dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik oleh Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://ardanews.blogspot.com
Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i).
UNGKAPAN imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan hari-hari yang kita jalani. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak “bertanya” mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.
Untuk itu, dalam mementaskan hidup, kita hanya berusaha untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal kita. Di sini, perlu digaris bawahi bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.
Artinya, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak itu, baik yang menyenangkan (tentu baik untuk kita). Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah “paksakan” bagi diri kita. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita?
Pokoknya, hidup adalah pilihan. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana kita memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.
Untuk itu, agar kita tidak salah memilih dalam mementaskan hidup, berikut ini ada tujuh langkah yang dapat kita lakukan. Pertama, pelihara lintasan pikiran untuk tetap mengarah pada kebaikan. Lintasan pikiran adalah tangga pertama yang akan mengantarkan seseorang pada niat dan sikap. Dalam tahap ini semua orang akan mengalaminya (lintasan pikiran baik maupun yang buruk). Jika hanya sebatas lintasan berbuat buruk, itu wajar dan manusiawi. Allah SWT juga tidak mencatat hal itu sebagai suatu dosa. Namun bila kurang waspada, lintasan hati itu kerap berkembang menuju tahapan dialog batin (baca: dialog antara keinginan melakukan kebaikan atau keburukan). Terjadilah benturan antara bisikan setan untuk melakukan keburukan dengan bisikan malaikat dan akal sehat untuk tidak melakukan keburukan. Bila dalam benturan ini, nafsu keburukan dan bisikan setan yang menang, maka muncullah niat.
Kedua, pertimbangan suatu pilihan dengan ilmu. Menentukan suatu pilihan pasti dengan timbangan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Informasi yang keliru atau minimnya pengetahuan akan membawa kita pada pilihan yang salah. Setidaknya, kita harus mengetahui kategori kesalahan yang termasuk dosa besar dan dosa kecil.
Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin mengutip uraian tentang dosa besar yang disebutkan oleh Abu Thalib Al Makky. Katanya, “Dosa-dosa besar itu ada tujuh belas. Saya menghimpunnya dari sejumlah atsar. Empat macam ada di dalam hati, yaitu: syirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari tipu daya Allah. Empat macam ada di lidah, yaitu: kesaksian palsu, menuduh wanita yang baik-baik, minum khamar, makan harta anak yatim dengan zalim dan memakan riba. Dua macam ada di kemaluan yaitu zina dan seks dengan sejenis. Dua macam ada di tangan yaitu membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki yaitu melarikan diri saat pertempuran. Satu macam ada di seluruh badan yaitu durhaka pada orangtua.”
Ketiga, berdoa memohon petunjuk Allah. Permohonan petunjuk Allah saat kita memilih, adalah bukti dan cermin suasana iman yang sangat mempercayainya, membutuhkan, dan mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam segala hal. Manusia sering keliru menentukan pilihan yang menurutnya baik. Ternyata di kemudian hari pilihan itu justru menjadi awal bencana baginya. Kita kadang menilai negatif, antipati, menolak sesuatu berdasarkan logika, pikiran yang terbatas. Tapi, ternyata hal itu justru mendatangkan manfaat yang sangat luar biasa untuk Allah. Allah berfirman, “Bisa jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu yang engkau benci itu baik bagimu. Bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu yang engkau sukai itu tidak baik bagimu.”
Keempat, tumbuh dan pelihara perasaan takut pada Allah SWT. Rasa aman akan azab dari Allah juga dapat menyebabkan seseorang lalai dengan dosa, memudah-mudahkan kesalahan dan menunda-nunda pekerjaan baik, hingga akhirnya tenggelam dalam kemaksiatan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan seksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97-99).
Kelima, sadari bahwa hidup ini hanya sementara. Pilihan dalam hidup sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang hidup. Panjang angan-angan, menumpuk mimpi, terlalu berobsesi pada kehidupan dunia, akan membawa orang lupa bahwa hidup ini sementara. Kondisi inilah yang akan menjadikan orang tidak mampu memandang secara benar dalam memilih.
Keenam, tanamkan kekhawatiran su’ul khatimah. Takut dan khawatir itu bermacam-macam. Ada orang yang dalam hatinya dominan rasa takut terhadap kematian sebelum bertaubat. Ada orang yang merasa lebih takut condong pada kenikmatan dan beralih dari sikap istiqomah. Ada yang takut terhadap akhir hidup yang buruk. Yang paling tinggi adalah yang terakhir. Di antara orang yang takut adalah orang yang takut sakratul maut dan kepedihannya atau pertanyaan malaikat mungkar dan nakir. Takut meniti shirat, takut neraka dan kobarannya, takut tidak bisa masuk surga.
Ketujuh, renungi pilihan-pilihan yang lalu. Bukan untuk sekedar merenung, menyesal dan kemudian melemparkan kesalahan pada nasib. Bukan juga untuk mengatakan, kenapa tidak begini, kenapa begitu. Perenungan yang kemudian membuka celah kata-kata jika begini, seandainya begitu, sama dengan membuka celah setan untuk menyesali hidup, merasa sangat bersalah dan bersikap putus asa. Sikap seperti itu tidak ada gunanya dan dilarang. Rasulullah dalam sebuah hadis mengingatkan bahwa perkataan “jika dan seandainya” itu adalah pintu bagi setan untuk mengganggu manusia.
Akhirnya, semoga langkah-langkah penting tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi hidup yang penuh kegelapan ini. Dan pastikanlah usaha maupun sikap kita selaku manusia dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik oleh Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
07 September 2008
Eksplorasi Kelautan dan Pilar Keimanan
Oleh: ARDA DINATA
KONDISI kekayaan laut di Indonesia masih sangat besar, karena selama ini hanya sumber daya darat “semata” yang lebih dominan digarap oleh masyarakat. Seiring dengan kondisi kian “menipisnya” kekayaan di darat, masyarakat Indonesia sudah semestinya melirik kegiatan pengeksplorasian sumber daya laut.
WJS. Poerwadarminta, mengartikan eksplorasi sebagai: penyelidikan; penjajagan; penjelajahan bagian-bagian dunia (benua, negara, wilayah) dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak tentang keadaan atau sumber-sumber yang terdapat itu (baca: di dalam wilayah kelautan).
Dari sini, bila kita kaitkan dengan situasi sosial masyarakat Indonesia yang terpuruk saat ini, maka setidaknya ada dua alasan yang mendasari mengapa kita harus melakukan eksplorasi kelautan. Pertama, segi aqidah. Yakni melalui kegiatan kelautan ini, kita dapat memetik hikmah berupa bukti nyata kebesaran dan kekuasaan Allah atas segala kehidupan di alam ini, agar kita selalu bersyukur. Hal ini dapat kita rasakan saat kita berada di tengah-tengah samudra/laut yang luas itu.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Allah yang menjadikan lautan untuk kamu, guna melayarkan kapal di atasnya dengan perintah-Nya, dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu pandai berterima kasih.” (QS. Al-Jatsiyah: 12).
Kedua, segi ekonomi. Melalui kegiatan eksplorasi kelautan, kita dapat menggarap dan menggali berbagai sumber daya yang dapat dinikmati oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara baik dan bijaksana. Untuk itu kita mendapat tuntutan agar menjadi umat yang pandai untuk selalu bereksplorasi terhadap seisi alam yang telah diberikan-Nya.
Dalam hal ini, kita telah diingatkan Allah dalam Q.S An-Nahl: 14, yaitu: “Dan Dialah (Allah) yang melapangkan lautan, agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang lembut dan kamu dapat mengeluarkan dari padanya perhiasan yang bisa kamu pakai. Engkau lihat kapal-kapal berjalan padanya supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu berterima kasih.”
***
Bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, seharusnya bangsa ini menjadi bangsa yang maju dalam bidang kebahrian. Pasalnya, jauh-jauh hari umat Islam telah diajarkan melalui tuntunan Al-Qur’an berkaitan dengan masalah kebaharian. Dalam Al-Qur’an, kalau kita teliti dan pelajari ternyata telah banyak berbicara masalah bahari. Terdapat kurang lebih 40 ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah kebaharian. Fakta ini menunjukkan porsi yang begitu besar dorongan Allah agar manusia mengambil manfaat yang besar, tentunya dalam konteks untuk memperkuat iman dan menggali sumber daya yang ada di dalamnya.
Dalam bukunya, Dr.H.Hamzah Ya’qub (1985), tersirat beberapa fungsi bahari ini. Pertama, sebagai kegiatan ekonomi (baca: QS. Al-Jatsiyah: 12 dan An-Nahl: 14) dan tempat berlayar yang memungkinkan manusia dapat mencapai suatu daerah dengan mudah dan juga mempercepat perjalanannya. Fakta di lapangan juga memperlihatkan ada banyak daerah yang susah dicapai dengan transportasi darat, tetapi justru dapat dengan mudah dijangkau melalui transportasi laut. Dalam Al-Qur’an Surat Yunus: 22, terungkap isyarat kemudahan transportasi laut ini. Yakni, “Dialah yang memudahkan kamu berjalan di darat dan di laut.”
Kedua, sebagai kegiatan perikanan. Sektor bahari selain sebagai lalu lintas pelayaran, juga mempunyai fungsi dan peranan yang utama dalam bidang perikanan. Allah telah mengisyaratkan dalam QS. Al-Maidah: 96 berkait dengan kekayaan ikan ini. “Dibolehkan kepadamu buruan lautan dan makanan lautan (ikan-ikan) sebagai kesenangan bagimu.”
Ketiga, pengolahan mutiara. Di dalam lautan juga dapat ditemukan barang-barang bernilai tinggi (sebagai perhiasan). “Dan dari laut Kami keluarkan perhiasan yang kamu pakai.”(QS. Al-Fathir: 12).
Keempat, sektor pertahanan negara. Dalam segi pertahanan dan keamanan negara, bidang bahari merupakan salah satu faktor dan unsur mutlak, disamping tentu adanya pertahanan darat dan udara. “Persiapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh) apa-apa yang kamu sanggupi dari perbagai kekuatan.” (QS. Al-Anfal: 60).
Kelima, pusat produksi garam. Kita tahu zat garam merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Berdasarkan hasil penelitian diketahui air laut yang asin itu mengandung 34,37 % zat garam. Dalam Al-Qur’an dinyatakan: “Dan Dialah (Allah) yang membatasi dua lautan. Ini tawar dan yang lain asin. Tuhan mengadakan antara keduanya dinding dan batas yang tertutup.” (QS. Al-Furqan: 53). Untuk itu sangat ironis kondisi bangsa Indonesia yang memiliki dua pertiga wilayahnya berupa lautan, tetapi nyatanya kita masih mengimpor garam dari negara lain?
Keenam, pusat studi dan penelitian (Research). Di antara banyaknya sumber daya laut dan problematikanya, sebagian rahasianya telah kita ketahui dan sebagian lainnya belum terungkap. Sehingga dalam pelataran pemikiran ini, kita dituntut untuk melakukan research kelautan. Hal ini diisyaratkan dalam QS. Ath-Thuur: 6, “Perhatikan lautan yang penuh gelombang.” Inilah tugas-tugas setiap anak bangsa untuk mengungkap kekayaan sumber daya laut melalui peningkatan IPTEK kelautan.
***
Berbicara masalah bahari di Indonesia, tidak akan terpisah dari kondisi perairan yang ada di negara-negara Asia Tenggara. Sebuah sumber menyebutkan bahwa kawasan perairan Asia Tenggara memiliki ekosistem terkaya di dunia. Menurut Pusat International untuk Manajemen Sumber Daya Kehidupan Air di Manila, Filipina, Asia Tenggara memiliki 30 persen terumbu karang dunia, 25 persen hutan bakau dunia dan memproduksi 10 persen ikan di dunia.
Dalam hal ini, Sarwono Kusumaatmadja, mengatakan Indonesia yang terletak di daerah ekutorial dengan luas lautan sekitar 5,8 juta km2, lebih besar dibanding dengan luas daratan seluas 1,9 juta km2 atau 75% dari seluruh wilayah Indonesia, memiliki ekosistem perairan tawar yang cukup luas terdiri dari 5,886 sungai, 186 danau dan waduk serta sekitar 33 juta hektar rawa.
Apabila sumber daya hayati itu, diartikan sebagai keanekaragaman kehidupan pada tingkat gen, spesies, ekosistem dan proses-proses eko biologis, maka Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar kedua setelah Brazil. Sementara itu dalam hal keanekaragaman hayati laut, Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar di dunia. Hal ini bisa dipahami, pasalnya negara Indonesia memiliki seluruh ekosistem bahari tropis yang terlengkap di dunia. Mulai dari hutan mengrove, padang lamun, rumput laut sampai terumbu karang.
Data lain mengungkapkan bahwa jumlah spesies hewan karang keras (batu) atau hard coral yang hidup di perairan laut Indonesia adalah sekitar 350 spesies. Sementara itu, karang lunak (soft coral) berjumlah 210 spesies, dan gorgonians sekitar 350 spesies. Sementara itu, kalangan ahli Belanda (Blecker; 1859) mengemukakan, jumlah spesies ikan laut di Indonesia lebih dari 2000 spesies atau 37 persen dari jumlah spesies ikan laut dunia.
***
Aktivitas eksplorasi laut ini, akan berdampak terhadap kehidupan manusia dan bangsa yang melakukan kegiatan tersebut. Yakni sebagai pilar keimanan seseorang. Efek positif yang paling mendasar ini, kalau dipahami benar-benar, maka ia akan merupakan sebuah “oase” yang di dalamnya akan membangkitkan semangat hidup bagi manusia. Melalui kegiatan eksplorasi kelautan ini, bagi seorang Muslim akan menjadi ajang dalam membangun pilar (tiang penguat) keimanannya terhadap Sang pencipta (Baca: QS. Asy-Syura: 32-34).
Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman dalam kehidupan manusia, yaitu: (1) Kekuatan berpikir (quwatul idraak), (2) Kekuatan fisik (quwatul jismi), dan (3) Kekuatan ruh (quwatur ruuh).
Sedangkan M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda, menanamkan semangat berani menghadapi maut, menanamkan self help dalam kehidupan, membentuk ketentraman jiwa, dan membentuk kehidupan yang baik.
Sudah seharusnya bangsa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam ini, menjadi bangsa yang menonjol dalam industri maritim. Karena merekalah (Islam) yang paling banyak memperoleh sugesti kelautan dari ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an. Sebaliknya para kaum bahariwan itu menjadi kuat imannya, karena merekalah yang sering menyaksikan kebesaran dan kekuasaan Allah di lautan. Dan seharusnya mereka tergolong makhluk yang paling pandai bersyukur. Waallahu A’lam bishshawab.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
KONDISI kekayaan laut di Indonesia masih sangat besar, karena selama ini hanya sumber daya darat “semata” yang lebih dominan digarap oleh masyarakat. Seiring dengan kondisi kian “menipisnya” kekayaan di darat, masyarakat Indonesia sudah semestinya melirik kegiatan pengeksplorasian sumber daya laut.
WJS. Poerwadarminta, mengartikan eksplorasi sebagai: penyelidikan; penjajagan; penjelajahan bagian-bagian dunia (benua, negara, wilayah) dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak tentang keadaan atau sumber-sumber yang terdapat itu (baca: di dalam wilayah kelautan).
Dari sini, bila kita kaitkan dengan situasi sosial masyarakat Indonesia yang terpuruk saat ini, maka setidaknya ada dua alasan yang mendasari mengapa kita harus melakukan eksplorasi kelautan. Pertama, segi aqidah. Yakni melalui kegiatan kelautan ini, kita dapat memetik hikmah berupa bukti nyata kebesaran dan kekuasaan Allah atas segala kehidupan di alam ini, agar kita selalu bersyukur. Hal ini dapat kita rasakan saat kita berada di tengah-tengah samudra/laut yang luas itu.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Allah yang menjadikan lautan untuk kamu, guna melayarkan kapal di atasnya dengan perintah-Nya, dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu pandai berterima kasih.” (QS. Al-Jatsiyah: 12).
Kedua, segi ekonomi. Melalui kegiatan eksplorasi kelautan, kita dapat menggarap dan menggali berbagai sumber daya yang dapat dinikmati oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara baik dan bijaksana. Untuk itu kita mendapat tuntutan agar menjadi umat yang pandai untuk selalu bereksplorasi terhadap seisi alam yang telah diberikan-Nya.
Dalam hal ini, kita telah diingatkan Allah dalam Q.S An-Nahl: 14, yaitu: “Dan Dialah (Allah) yang melapangkan lautan, agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang lembut dan kamu dapat mengeluarkan dari padanya perhiasan yang bisa kamu pakai. Engkau lihat kapal-kapal berjalan padanya supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu berterima kasih.”
***
Bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, seharusnya bangsa ini menjadi bangsa yang maju dalam bidang kebahrian. Pasalnya, jauh-jauh hari umat Islam telah diajarkan melalui tuntunan Al-Qur’an berkaitan dengan masalah kebaharian. Dalam Al-Qur’an, kalau kita teliti dan pelajari ternyata telah banyak berbicara masalah bahari. Terdapat kurang lebih 40 ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah kebaharian. Fakta ini menunjukkan porsi yang begitu besar dorongan Allah agar manusia mengambil manfaat yang besar, tentunya dalam konteks untuk memperkuat iman dan menggali sumber daya yang ada di dalamnya.
Dalam bukunya, Dr.H.Hamzah Ya’qub (1985), tersirat beberapa fungsi bahari ini. Pertama, sebagai kegiatan ekonomi (baca: QS. Al-Jatsiyah: 12 dan An-Nahl: 14) dan tempat berlayar yang memungkinkan manusia dapat mencapai suatu daerah dengan mudah dan juga mempercepat perjalanannya. Fakta di lapangan juga memperlihatkan ada banyak daerah yang susah dicapai dengan transportasi darat, tetapi justru dapat dengan mudah dijangkau melalui transportasi laut. Dalam Al-Qur’an Surat Yunus: 22, terungkap isyarat kemudahan transportasi laut ini. Yakni, “Dialah yang memudahkan kamu berjalan di darat dan di laut.”
Kedua, sebagai kegiatan perikanan. Sektor bahari selain sebagai lalu lintas pelayaran, juga mempunyai fungsi dan peranan yang utama dalam bidang perikanan. Allah telah mengisyaratkan dalam QS. Al-Maidah: 96 berkait dengan kekayaan ikan ini. “Dibolehkan kepadamu buruan lautan dan makanan lautan (ikan-ikan) sebagai kesenangan bagimu.”
Ketiga, pengolahan mutiara. Di dalam lautan juga dapat ditemukan barang-barang bernilai tinggi (sebagai perhiasan). “Dan dari laut Kami keluarkan perhiasan yang kamu pakai.”(QS. Al-Fathir: 12).
Keempat, sektor pertahanan negara. Dalam segi pertahanan dan keamanan negara, bidang bahari merupakan salah satu faktor dan unsur mutlak, disamping tentu adanya pertahanan darat dan udara. “Persiapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh) apa-apa yang kamu sanggupi dari perbagai kekuatan.” (QS. Al-Anfal: 60).
Kelima, pusat produksi garam. Kita tahu zat garam merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Berdasarkan hasil penelitian diketahui air laut yang asin itu mengandung 34,37 % zat garam. Dalam Al-Qur’an dinyatakan: “Dan Dialah (Allah) yang membatasi dua lautan. Ini tawar dan yang lain asin. Tuhan mengadakan antara keduanya dinding dan batas yang tertutup.” (QS. Al-Furqan: 53). Untuk itu sangat ironis kondisi bangsa Indonesia yang memiliki dua pertiga wilayahnya berupa lautan, tetapi nyatanya kita masih mengimpor garam dari negara lain?
Keenam, pusat studi dan penelitian (Research). Di antara banyaknya sumber daya laut dan problematikanya, sebagian rahasianya telah kita ketahui dan sebagian lainnya belum terungkap. Sehingga dalam pelataran pemikiran ini, kita dituntut untuk melakukan research kelautan. Hal ini diisyaratkan dalam QS. Ath-Thuur: 6, “Perhatikan lautan yang penuh gelombang.” Inilah tugas-tugas setiap anak bangsa untuk mengungkap kekayaan sumber daya laut melalui peningkatan IPTEK kelautan.
***
Berbicara masalah bahari di Indonesia, tidak akan terpisah dari kondisi perairan yang ada di negara-negara Asia Tenggara. Sebuah sumber menyebutkan bahwa kawasan perairan Asia Tenggara memiliki ekosistem terkaya di dunia. Menurut Pusat International untuk Manajemen Sumber Daya Kehidupan Air di Manila, Filipina, Asia Tenggara memiliki 30 persen terumbu karang dunia, 25 persen hutan bakau dunia dan memproduksi 10 persen ikan di dunia.
Dalam hal ini, Sarwono Kusumaatmadja, mengatakan Indonesia yang terletak di daerah ekutorial dengan luas lautan sekitar 5,8 juta km2, lebih besar dibanding dengan luas daratan seluas 1,9 juta km2 atau 75% dari seluruh wilayah Indonesia, memiliki ekosistem perairan tawar yang cukup luas terdiri dari 5,886 sungai, 186 danau dan waduk serta sekitar 33 juta hektar rawa.
Apabila sumber daya hayati itu, diartikan sebagai keanekaragaman kehidupan pada tingkat gen, spesies, ekosistem dan proses-proses eko biologis, maka Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar kedua setelah Brazil. Sementara itu dalam hal keanekaragaman hayati laut, Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar di dunia. Hal ini bisa dipahami, pasalnya negara Indonesia memiliki seluruh ekosistem bahari tropis yang terlengkap di dunia. Mulai dari hutan mengrove, padang lamun, rumput laut sampai terumbu karang.
Data lain mengungkapkan bahwa jumlah spesies hewan karang keras (batu) atau hard coral yang hidup di perairan laut Indonesia adalah sekitar 350 spesies. Sementara itu, karang lunak (soft coral) berjumlah 210 spesies, dan gorgonians sekitar 350 spesies. Sementara itu, kalangan ahli Belanda (Blecker; 1859) mengemukakan, jumlah spesies ikan laut di Indonesia lebih dari 2000 spesies atau 37 persen dari jumlah spesies ikan laut dunia.
***
Aktivitas eksplorasi laut ini, akan berdampak terhadap kehidupan manusia dan bangsa yang melakukan kegiatan tersebut. Yakni sebagai pilar keimanan seseorang. Efek positif yang paling mendasar ini, kalau dipahami benar-benar, maka ia akan merupakan sebuah “oase” yang di dalamnya akan membangkitkan semangat hidup bagi manusia. Melalui kegiatan eksplorasi kelautan ini, bagi seorang Muslim akan menjadi ajang dalam membangun pilar (tiang penguat) keimanannya terhadap Sang pencipta (Baca: QS. Asy-Syura: 32-34).
Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman dalam kehidupan manusia, yaitu: (1) Kekuatan berpikir (quwatul idraak), (2) Kekuatan fisik (quwatul jismi), dan (3) Kekuatan ruh (quwatur ruuh).
Sedangkan M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda, menanamkan semangat berani menghadapi maut, menanamkan self help dalam kehidupan, membentuk ketentraman jiwa, dan membentuk kehidupan yang baik.
Sudah seharusnya bangsa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam ini, menjadi bangsa yang menonjol dalam industri maritim. Karena merekalah (Islam) yang paling banyak memperoleh sugesti kelautan dari ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an. Sebaliknya para kaum bahariwan itu menjadi kuat imannya, karena merekalah yang sering menyaksikan kebesaran dan kekuasaan Allah di lautan. Dan seharusnya mereka tergolong makhluk yang paling pandai bersyukur. Waallahu A’lam bishshawab.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Dzikir Meningkatkan Imunitas Manusia
Oleh ARDA DINATA
MANUSIA dalam hidupnya butuh daya tahan tubuh (imunitas). Kondisi imunitas ini dipengaruhi oleh keadaan psikis dan suasana hati seseorang. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mencapai ketentraman hati.
Untuk mencapai ketentraman hati, orang banyak melakukan caranya sendiri-sendiri. Bahkan, sebagian masyarakat ada pula yang melakukan meditasi untuk mendapatkan ketengan hati. Padahal dalam Alquran Allah SWT telah memberikan jalan untuk mencapainya.
Bagi umat Islam sendiri, ketentraman hati dapat diperoleh melalui dzikir (mengingat Allah). Allah SWT berfirman, “…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Hakikat dzikir berarti ingat kepada Allah SWT. Manusia yang selalu ingat kepada Allah SWT, hatinya akan merasa tentram dan damai. Dampaknya, manusia yang hatinya merasa tentram dan damai akan memiliki pikiran jernih dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kalangan medis menjelaskan, manusia yang senantiasa melakukan dzikir, hatinya akan menjadi tenteram, pikirannya jernih dan emosinya stabil. Lebih jauh, tubuhnya pun akan sehat dan bagi orang yang sakit, dzikir akan merangsang tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.
Dzikir pun menyebabkan tercapainya kondisi keseimbangan otak (homeostatik). Artinya hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi meningkatkan fungsi hormon. Pada keadaan semacam ini, antibodi pada tubuh manusia akan bereaksi dan bekerja secara optimal. Kondisi ini akan merangsang tubuh menyembuhkan diri sendiri.
Jadi, daya tahan tubuh (imunitas) seseorang itu dapat ditingkatkan dengan dzikir disertai keyakinan, afirmasi, imaginatif dan relaksasi.
Dari sini, manusia yang diberkati dengan akal-pikiran harusnya memandang dzikir (mengingat Allah) merupakan kebutuhannya. Bermodal pengetahuan tersebut, maka ia memandang dzikir sebagai metode paling efektif untuk menentramkan hati.
Apalagi, dewasa ini kancah kehidupan sarat dengan persaingan yang kadang memunculkan banyak orang yang mengalami apatis, demotivasi, khawatir, kecemasan, frustasi, dan stress. Dalam situasi inilah, bagi orang mukmin seharusnya lebih merasa penting untuk selalu mengingat Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran.
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah Allah) dengan dzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Hazab: 41-42).
Makna “mengingat” Allah di atas, menurut Mujahid, adalah apa saja yang tidak bisa dilupakan dalam keadaan bagaimanapun (baca: terus-menerus mengingat). Dalam Alquran diungkapkan, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring ….” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Dalam menjelaskan QS. Ali ‘Imran: 191, Ibn Abbas mengatakan, “Mengingat Allah diperintahkan dalam keadaan siang dan malam hari, di darat dan di lautan, selama dalam perjalanan, disaat kelapangan dan kesempitan, disaat sakit dan sehat, secara lahiriah dan batiniah”.
Pada bagian lain Alquran menyebutkan, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, ….” (QS. Al-Baqarah: 152). Bagi mereka yang mampu melakukan hal ini, Allah SWT telah menjanjikan ampunan dan pahala.
“…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis al-Hikam, membagi dzikir dalam tiga bagian. Pertama, dzikir Jalie. Yaitu suatu amal ibadah mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan-ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur, dan doa kepada Allah SWT yang lebih merupakan suara yang jelas untuk menuntut gerak hati. Misalanya, mengucapkan tahlil (kalimat La ilaha illa Allah), tasbih (kalimat Subhanallah), membaca Alquran dan doa lainnya.
Kedua, dzikir khafi. Yakni dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang melakukan dzikir ini, hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehadiran-Nya kapan dan di mana saja.
Ketiga, dzikir hakiki. Yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan-Nya dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Untuk mencapai tingkatan dzikir hakiki ini perlu latihan-latihan mulai dari dzikir Jalie dan Khafi.
Akhirnya bagi manusia berakal dan beriman, tentu tidak akan mensia-siakan kesempatan yang diberikan Allah SWT seperti itu. Lebih-lebih dzikir ini dapat kita lakukan setiap saat. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
MANUSIA dalam hidupnya butuh daya tahan tubuh (imunitas). Kondisi imunitas ini dipengaruhi oleh keadaan psikis dan suasana hati seseorang. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mencapai ketentraman hati.
Untuk mencapai ketentraman hati, orang banyak melakukan caranya sendiri-sendiri. Bahkan, sebagian masyarakat ada pula yang melakukan meditasi untuk mendapatkan ketengan hati. Padahal dalam Alquran Allah SWT telah memberikan jalan untuk mencapainya.
Bagi umat Islam sendiri, ketentraman hati dapat diperoleh melalui dzikir (mengingat Allah). Allah SWT berfirman, “…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Hakikat dzikir berarti ingat kepada Allah SWT. Manusia yang selalu ingat kepada Allah SWT, hatinya akan merasa tentram dan damai. Dampaknya, manusia yang hatinya merasa tentram dan damai akan memiliki pikiran jernih dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kalangan medis menjelaskan, manusia yang senantiasa melakukan dzikir, hatinya akan menjadi tenteram, pikirannya jernih dan emosinya stabil. Lebih jauh, tubuhnya pun akan sehat dan bagi orang yang sakit, dzikir akan merangsang tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.
Dzikir pun menyebabkan tercapainya kondisi keseimbangan otak (homeostatik). Artinya hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi meningkatkan fungsi hormon. Pada keadaan semacam ini, antibodi pada tubuh manusia akan bereaksi dan bekerja secara optimal. Kondisi ini akan merangsang tubuh menyembuhkan diri sendiri.
Jadi, daya tahan tubuh (imunitas) seseorang itu dapat ditingkatkan dengan dzikir disertai keyakinan, afirmasi, imaginatif dan relaksasi.
Dari sini, manusia yang diberkati dengan akal-pikiran harusnya memandang dzikir (mengingat Allah) merupakan kebutuhannya. Bermodal pengetahuan tersebut, maka ia memandang dzikir sebagai metode paling efektif untuk menentramkan hati.
Apalagi, dewasa ini kancah kehidupan sarat dengan persaingan yang kadang memunculkan banyak orang yang mengalami apatis, demotivasi, khawatir, kecemasan, frustasi, dan stress. Dalam situasi inilah, bagi orang mukmin seharusnya lebih merasa penting untuk selalu mengingat Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran.
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah Allah) dengan dzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Hazab: 41-42).
Makna “mengingat” Allah di atas, menurut Mujahid, adalah apa saja yang tidak bisa dilupakan dalam keadaan bagaimanapun (baca: terus-menerus mengingat). Dalam Alquran diungkapkan, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring ….” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Dalam menjelaskan QS. Ali ‘Imran: 191, Ibn Abbas mengatakan, “Mengingat Allah diperintahkan dalam keadaan siang dan malam hari, di darat dan di lautan, selama dalam perjalanan, disaat kelapangan dan kesempitan, disaat sakit dan sehat, secara lahiriah dan batiniah”.
Pada bagian lain Alquran menyebutkan, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, ….” (QS. Al-Baqarah: 152). Bagi mereka yang mampu melakukan hal ini, Allah SWT telah menjanjikan ampunan dan pahala.
“…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis al-Hikam, membagi dzikir dalam tiga bagian. Pertama, dzikir Jalie. Yaitu suatu amal ibadah mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan-ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur, dan doa kepada Allah SWT yang lebih merupakan suara yang jelas untuk menuntut gerak hati. Misalanya, mengucapkan tahlil (kalimat La ilaha illa Allah), tasbih (kalimat Subhanallah), membaca Alquran dan doa lainnya.
Kedua, dzikir khafi. Yakni dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang melakukan dzikir ini, hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehadiran-Nya kapan dan di mana saja.
Ketiga, dzikir hakiki. Yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan-Nya dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Untuk mencapai tingkatan dzikir hakiki ini perlu latihan-latihan mulai dari dzikir Jalie dan Khafi.
Akhirnya bagi manusia berakal dan beriman, tentu tidak akan mensia-siakan kesempatan yang diberikan Allah SWT seperti itu. Lebih-lebih dzikir ini dapat kita lakukan setiap saat. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Kesempitan Menjadi Keleluasaan
Oleh: ARDA DINATA
“Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
* * *
Pada tanggal 14 Agustus 2007, jam 21:48, saya menerima pesan pendek (SMS) dari seseorang yang belum pernah ketemu wajah. Namun, SMS itu baru saya ketahui dan dibaca setelah shalat subuh pagi harinya. Isi SMS itu adalah:
“Saya Hamzah, saya mau tanya Pak.Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah berat, tapi kita ragu dan takut untuk menghadapinya karena merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah itu?”
Begitulah isi SMS-nya kurang lebih. Tadinya, saya langsung ingin menjawab lewat SMS lagi, tapi saya berpikir kayanya jawabannya tidak akan maksimal, apalagi harus pijit-pijit huruf lewat HP kayanya lama sekali dan butuh beberapa SMS. Makanya, saya memutuskan untuk memberi saran atas pertanyaan tersebut lewat tulisan ini. Semoga saudara Hamzah dapat berkenan dan teman-teman yang suka baca blog-ku di: MIQRA INDONESIA, juga dapat mengambil manfaatnya. Amin….
* * *
TIAP manusia, saya yakin tidak bisa terlepas dari masalah dalam hidupnya. Begitu pun yang saat ini lagi dirasakan oleh saudara Hamzah. Pertanyaanya, apa yang meski kita lakukan ketika menghadapi masalah (berat) dalam hidup ini?
Dalam kaca mata Hasan Al-Bashri, masalah itu dipetakan dalam tiga kelompok besar, yaitu: masalah lingkungan hidup, masalah sarana atau kebutuhan hidup, dan masalah teman hidup.
Masalah lingkungan hidup ini, bisa menyangkut tentang masalah kekeringan, kesulitan air bersih, banjir, bencana alam, dan lainnya. Adapun yang menyangkut masalah sarana atau kebutuhan hidup itu biasanya terkait dengan kesulitan mendapatkan penghasilan dan masalah kemiskinan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, menyangkut masalah teman hidup, tidak lain adalah seputar problematika dan romantika dalam usaha mendapatkan pasangan hidup yang halal dan kita perlukan dalam hidup bermasyarakat.
Untuk itu, dalam kehidupan ini seharusnya kita tidak usah takut dan ragu dalam menyikapi suatu masalah. Dan sebaliknya, kita pun tidak boleh meyepelekan suatu masalah yang kita hadapi, sekecil apa pun masalah itu. Pokoknya, bersikaplah secara proposional dan bijaksana.
Di sini, kuncinya kita harus berusaha berfikir secara menyeluruh dan terbuka. Artinya, sesungguhnya masalah itu muncul kepermukaan, pasti sadar ataupun tidak sadar ada pemicunya. Ada sebab musababnya, ada aksi ada reaksi. Dan dari kesadaran inilah, makanya kita harus mencari jalan keluar (jawabannya) dan menyelesaikan masalah tersebut. Bukannya sebaliknya, kita menyerah begitu saja tanpa ada usaha yang berarti. Ingat janji Allah, inna ma’al ‘usri yusran, sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan.
Kiat Menghadapi Masalah
Kalau kita mau jujur, sesungguhnya masalah atau kesusahan itu diapit oleh dua kemudahan sebagai solusinya. Dan di sini, kuncinya tergantung dari sikap kita dalam menyikapi masalah tersebut. Bukankah, Allah itu menimpakan suatu masalah pada umatnya, hal itu sesuai dengan kemampuan umat yang bersangkutan?
Berikut ini ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu masalah dalam hidup manusia, yaitu:
1. Memetakan Masalah
Langkah pertama yang dapat Anda lakukan agar dapat keluar dari suatu masalah adalah dengan melakukan pemetaan terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dengan melakukan pemetaan masalah tersebut, maka kita dapat mengetahui: masalah-masalah apa saja yang sedang kita hadapi, derajat ringan-beratnya dari masalah, apakah masalah itu bersifat pribadi atau umum dirasakan oleh orang banyak, dan lainnya?
Dengan terpetakannya masalah yang kita hadapi, tentu sedikit banyak secara psikologis telah mengurangi beban masalah itu sendiri. Sebab, adakalanya masalah itu muncul dari suatu masalah sebelumnya yang tidak terselesaikan. Untuk itu, segera lakukan pemetaan masalah yang Anda hadapi dalam hidup ini.
2. Mencari Alternatif Penyelesaian Masalah
Saya punya keyakinan, kalau setiap masalah itu ada jalan penyelesaiannya. Di sini, kuncinya tergantung masalah waktu saja. Semakin gigih kita berusaha keluar dari masalah itu, maka semakin cepat masalah hidup itu kita selesaikan. Untuk itu, setelah kita mampu menyusun peta masalah yang kita hadapi, lalu kita coba segera menyusun alternatif-alternatif apa saja yang dapat menjadi jalan keluar dari penyelesaian masalah tersebut.
Apalagi, pada era globalisasai saat ini, sungguh banyak sarana dan referensi yang dapat menjadi inspirasi dan masukkan dalam menyusun alternatif sebagai jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Kuncinya, ada pada mau tidak kita berusaha mencari sumber-sumber solusi tersebut. Lagi pula, dalam hidup ini kita hanya dituntut untuk selalu berusaha, dan hasil akhirnya kita serahkan pada keputusan Allah SWT.
Semakin banyak kita mendapatkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah, maka kita akan semakin optimis untuk keluar dari masalah tersebut dan yang jelas, makin berkurang saja beban (pikiran) kita dari problem masalah tersebut. Bukankah dengan banyaknya alternatif itu, kita bisa mencoba dari beberapa alternatif (yang telah kita susun) itu, mulai dari yang ringan sampai dengan yang tersulit sekalipun.
3. Berusaha dan Bersabar
Langkah ketiga ini merupakan langkah perwujudan dari langkah-langkah sebelumnya. Inilah langkah nyata yang harus dilakukan oleh Anda yang ingin keluar dari suatu masalah. Caranya, berusahalah Anda untuk mencoba menerapkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah yang telah disusun sebelumnya secara sungguh-sungguh. Sebab, melalui usaha sungguh-sungguh itulah suatu perubahan akan didapat. Begitu pun, bila Anda menginginkan keluar dari suatu masalah, maka berusahalah secara maksimal dan sungguh-sungguh untuk ke luar dari masalah yang dihadapi tersebut.
Setelah kita berusaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi, maka tugas kita selanjutnya adalah berdoa kepada pemilik jalan keluar dari masalah itu, yaitu Allah SWT, agar diberi jalan keluar secepatnya. Untuk itu, setelah berusaha dengan keras dan cerdas agar keluar dari masalah, maka kita harus bersabar menerima hasilnya. Karena Allah itu bersama orang-orang yang sabar.
4. Lakukan Istighfar
Langkah selanjutnya, yang tidak boleh dilupakan ketika kita menghadapi suatu masalah dalam hidup ini adalah melakukan istighfar. Yakni mengucapkan “Astaghfirullah”. Inilah amalan baik yang dilakukan setelah kita melakukan amal tercela.
Beristighfar itu perlu dan harus, bukan karena kita sering berbuat khilaf. Namun, karena istighfar itu sendiri memiliki kemuliaan dan punya banyak keutamaan tersendiri, yang barang kali tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan membiasakannya selalu beristighfar.
Pokoknya, istighfar itu selalu memberi jalan ke luar bagi suatu masalah. Islam tidak pernah membiarkan satu lubang kesulitan pada manusia (lebih-lebih hal itu terkait dengan masalah karakter kemanusia yang memiliki banyak kekurangan), lalu lubang itu dibiarkannya menganga tanpa upaya untuk menutupnya.
Akhirnya, beristigfahlah setiap saat, karena ia mengangkat bencana, menghilangkan kesusahan, dan memudahkan rezeki. Untuk itu, bila kita ingin kesempitan (baca: masalah) menjadi keleluasaan, maka beristighfarlah. “Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Catatan:
Khusus buat Hamzah dan Pembaca MIQRA Indonesia, semoga penjelasan ini memuaskan dan menjadi jalan kebaikan buat siapa pun yang mempraktekkan. Amin …..
“Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
* * *
Pada tanggal 14 Agustus 2007, jam 21:48, saya menerima pesan pendek (SMS) dari seseorang yang belum pernah ketemu wajah. Namun, SMS itu baru saya ketahui dan dibaca setelah shalat subuh pagi harinya. Isi SMS itu adalah:
“Saya Hamzah, saya mau tanya Pak.Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah berat, tapi kita ragu dan takut untuk menghadapinya karena merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah itu?”
Begitulah isi SMS-nya kurang lebih. Tadinya, saya langsung ingin menjawab lewat SMS lagi, tapi saya berpikir kayanya jawabannya tidak akan maksimal, apalagi harus pijit-pijit huruf lewat HP kayanya lama sekali dan butuh beberapa SMS. Makanya, saya memutuskan untuk memberi saran atas pertanyaan tersebut lewat tulisan ini. Semoga saudara Hamzah dapat berkenan dan teman-teman yang suka baca blog-ku di: MIQRA INDONESIA, juga dapat mengambil manfaatnya. Amin….
* * *
TIAP manusia, saya yakin tidak bisa terlepas dari masalah dalam hidupnya. Begitu pun yang saat ini lagi dirasakan oleh saudara Hamzah. Pertanyaanya, apa yang meski kita lakukan ketika menghadapi masalah (berat) dalam hidup ini?
Dalam kaca mata Hasan Al-Bashri, masalah itu dipetakan dalam tiga kelompok besar, yaitu: masalah lingkungan hidup, masalah sarana atau kebutuhan hidup, dan masalah teman hidup.
Masalah lingkungan hidup ini, bisa menyangkut tentang masalah kekeringan, kesulitan air bersih, banjir, bencana alam, dan lainnya. Adapun yang menyangkut masalah sarana atau kebutuhan hidup itu biasanya terkait dengan kesulitan mendapatkan penghasilan dan masalah kemiskinan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, menyangkut masalah teman hidup, tidak lain adalah seputar problematika dan romantika dalam usaha mendapatkan pasangan hidup yang halal dan kita perlukan dalam hidup bermasyarakat.
Untuk itu, dalam kehidupan ini seharusnya kita tidak usah takut dan ragu dalam menyikapi suatu masalah. Dan sebaliknya, kita pun tidak boleh meyepelekan suatu masalah yang kita hadapi, sekecil apa pun masalah itu. Pokoknya, bersikaplah secara proposional dan bijaksana.
Di sini, kuncinya kita harus berusaha berfikir secara menyeluruh dan terbuka. Artinya, sesungguhnya masalah itu muncul kepermukaan, pasti sadar ataupun tidak sadar ada pemicunya. Ada sebab musababnya, ada aksi ada reaksi. Dan dari kesadaran inilah, makanya kita harus mencari jalan keluar (jawabannya) dan menyelesaikan masalah tersebut. Bukannya sebaliknya, kita menyerah begitu saja tanpa ada usaha yang berarti. Ingat janji Allah, inna ma’al ‘usri yusran, sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan.
Kiat Menghadapi Masalah
Kalau kita mau jujur, sesungguhnya masalah atau kesusahan itu diapit oleh dua kemudahan sebagai solusinya. Dan di sini, kuncinya tergantung dari sikap kita dalam menyikapi masalah tersebut. Bukankah, Allah itu menimpakan suatu masalah pada umatnya, hal itu sesuai dengan kemampuan umat yang bersangkutan?
Berikut ini ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu masalah dalam hidup manusia, yaitu:
1. Memetakan Masalah
Langkah pertama yang dapat Anda lakukan agar dapat keluar dari suatu masalah adalah dengan melakukan pemetaan terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dengan melakukan pemetaan masalah tersebut, maka kita dapat mengetahui: masalah-masalah apa saja yang sedang kita hadapi, derajat ringan-beratnya dari masalah, apakah masalah itu bersifat pribadi atau umum dirasakan oleh orang banyak, dan lainnya?
Dengan terpetakannya masalah yang kita hadapi, tentu sedikit banyak secara psikologis telah mengurangi beban masalah itu sendiri. Sebab, adakalanya masalah itu muncul dari suatu masalah sebelumnya yang tidak terselesaikan. Untuk itu, segera lakukan pemetaan masalah yang Anda hadapi dalam hidup ini.
2. Mencari Alternatif Penyelesaian Masalah
Saya punya keyakinan, kalau setiap masalah itu ada jalan penyelesaiannya. Di sini, kuncinya tergantung masalah waktu saja. Semakin gigih kita berusaha keluar dari masalah itu, maka semakin cepat masalah hidup itu kita selesaikan. Untuk itu, setelah kita mampu menyusun peta masalah yang kita hadapi, lalu kita coba segera menyusun alternatif-alternatif apa saja yang dapat menjadi jalan keluar dari penyelesaian masalah tersebut.
Apalagi, pada era globalisasai saat ini, sungguh banyak sarana dan referensi yang dapat menjadi inspirasi dan masukkan dalam menyusun alternatif sebagai jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Kuncinya, ada pada mau tidak kita berusaha mencari sumber-sumber solusi tersebut. Lagi pula, dalam hidup ini kita hanya dituntut untuk selalu berusaha, dan hasil akhirnya kita serahkan pada keputusan Allah SWT.
Semakin banyak kita mendapatkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah, maka kita akan semakin optimis untuk keluar dari masalah tersebut dan yang jelas, makin berkurang saja beban (pikiran) kita dari problem masalah tersebut. Bukankah dengan banyaknya alternatif itu, kita bisa mencoba dari beberapa alternatif (yang telah kita susun) itu, mulai dari yang ringan sampai dengan yang tersulit sekalipun.
3. Berusaha dan Bersabar
Langkah ketiga ini merupakan langkah perwujudan dari langkah-langkah sebelumnya. Inilah langkah nyata yang harus dilakukan oleh Anda yang ingin keluar dari suatu masalah. Caranya, berusahalah Anda untuk mencoba menerapkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah yang telah disusun sebelumnya secara sungguh-sungguh. Sebab, melalui usaha sungguh-sungguh itulah suatu perubahan akan didapat. Begitu pun, bila Anda menginginkan keluar dari suatu masalah, maka berusahalah secara maksimal dan sungguh-sungguh untuk ke luar dari masalah yang dihadapi tersebut.
Setelah kita berusaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi, maka tugas kita selanjutnya adalah berdoa kepada pemilik jalan keluar dari masalah itu, yaitu Allah SWT, agar diberi jalan keluar secepatnya. Untuk itu, setelah berusaha dengan keras dan cerdas agar keluar dari masalah, maka kita harus bersabar menerima hasilnya. Karena Allah itu bersama orang-orang yang sabar.
4. Lakukan Istighfar
Langkah selanjutnya, yang tidak boleh dilupakan ketika kita menghadapi suatu masalah dalam hidup ini adalah melakukan istighfar. Yakni mengucapkan “Astaghfirullah”. Inilah amalan baik yang dilakukan setelah kita melakukan amal tercela.
Beristighfar itu perlu dan harus, bukan karena kita sering berbuat khilaf. Namun, karena istighfar itu sendiri memiliki kemuliaan dan punya banyak keutamaan tersendiri, yang barang kali tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan membiasakannya selalu beristighfar.
Pokoknya, istighfar itu selalu memberi jalan ke luar bagi suatu masalah. Islam tidak pernah membiarkan satu lubang kesulitan pada manusia (lebih-lebih hal itu terkait dengan masalah karakter kemanusia yang memiliki banyak kekurangan), lalu lubang itu dibiarkannya menganga tanpa upaya untuk menutupnya.
Akhirnya, beristigfahlah setiap saat, karena ia mengangkat bencana, menghilangkan kesusahan, dan memudahkan rezeki. Untuk itu, bila kita ingin kesempitan (baca: masalah) menjadi keleluasaan, maka beristighfarlah. “Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Catatan:
Khusus buat Hamzah dan Pembaca MIQRA Indonesia, semoga penjelasan ini memuaskan dan menjadi jalan kebaikan buat siapa pun yang mempraktekkan. Amin …..
Cara Menyampaikan Kebenaran
Oleh: ARDA DINATA
PRIHATIN, begitulah kondisi sebagian masyarakat sekarang. Tak ada lagi sikap santun. Moral dan akhlak dianggapnya hanya layak untuk bumbu pidato dan basa-basi pergaulan hidup. Begitu pula seruan agar supermasi hukum ditegakkan seolah hanya sedap didengar di seminar dan obrolan warung kopi. Law enforcement hanya kata-kata indah untuk menghiasi buku-buku, kenyataan di lapangan, hukum amburadul yang ada “peradilan jalanan.”
Berbicara tentang korban dari adanya peradilan jalanan. Korbannya, tidak hanya pencuri, penjambret, penodong dan orang-orang yang dianggap dukun santet saja, melainkan juga aparat kepolisian. Di Majalengka misalnya, tepatnya di Desa Sidangpanji, Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka belum lama ini, dua anggota Polres Kuningan tewas dikeroyok massa, seorang di antaranya dibakar hidup-hidup. Naudzubillah.
Sungguh benar-benar memprihatinkan kondisi masyarakat demikian. Di manakah diletakkannya kesadaran moral dan etika komunikasi dalam hidup bermasyarakat kita? Kejadian tersebut, setidaknya harus dapat menyadarkan kita akan kualitas komunikasi yang kita miliki. Karena, bisa jadi hal itu merupakan ikon yang menggambarkan kondisi kualitas komunikasi dari masyarakat kita.
Bagi umat Islam sendiri, komunikasi tidak lain merupakan sarana penyampaian pesan-pesan yang dilihat dari kaca mata Islam haruslah berdasarkan pada Alquran dan As-Sunah. Artinya, Islam jauh-jauh hari memandang begitu penting keberadaan komunikasi dalam masyarakat (baca: sebagai dakwah Islam). Sehingga, kejadian-kejadian pengadilan jalanan seperti itu tidak akan terjadi, bila masyarakat menggunakan etika komunikasi Islam secara baik dan benar.
Ada beberapa landasan akan pentingnya komunikasi bagi umat Islam dan adanya nilai-nilai Islam dalam komunikasi. Pertama, tugas setiap insan untuk menjadikan setiap perbuatan kita semata-mata sebagai ibadah kepada Allah SWT. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Kedua, komunikasi dilakukan sebagai amal saleh dalam rangka saling mengenal satu dengan lainnya. Dalam QS. Al-Hujurat: 13, Allah menginformasikan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ….”
Ketiga, komunikasi semata-mata dilakukan untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).
Secara demikian, komunikasi Islami tidak lain merupakan proses komunikasi yang bersendikan ajaran Islam, yaitu ukhuwwah Islamiyah. Atau dapat dikatakan bahwa prinsip dasar dari ajaran komunikasi Islam itu ialah regulasi komunikasi antara sesama manusia (hablum minannas) dan komunikasi dengan Allah (hablum minallah).
Keberhasilan komunikasi ini, tidak saja terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara pengemasan dan penyampaiannya. Karena suatu pesan yang benar jika tidak dikemas dengan benar akan membuahkan hasil yang tidak baik. Dalam Islam, kita diperintahkan untuk menyampaikan yang benar dengan cara yang benar. Hal ini, telah diseru oleh Allah dalam QS. An-Nahl: 125, yang artinya: “Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Untuk itu, agar pesan dan tujuan komunikasi yang kita inginkan tersebut dapat tercapai, maka ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan dalam berkomunikasi (baca: etika komunikasi dalam Islam). (1) Berkomunikasi dengan jujur. Menurut Jum’ah Abdul Aziz (1996; 88), jujur merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memelihara tutur katanya. Ia tidak berbicara kecuali dengan jujur dan kesempurnaan. Kejujuran merupakan modal hidup yang dapat membimbing kita dalam mengerjakan.segala sesuatu dalam kehidupan ini.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga Allah menetapkannya sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa dan dosa itu mengantarkannya ke neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga Allah menetapkannya sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim).
(2) Mendengarkan dengan baik. Orang bijak mengatakan seorang pembicara yang baik, seharusnya adalah sebagai pendengar yang baik. Oleh karena itu, untuk dapat berkomunikasi dengan baik maka jadilah kita sebagai pendengar yang baik.
Banyak di antara kita yang tidak berhasil melakukan komunikasi secara produktif dan efesien disebabkan karena kita tidak mau memberikan perhatian kepadanya. Salah satunya, yaitu dengan menjadi pendengar yang baik.
Dalam hal ini, Hasan bin Ali ra pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan ulama, hendaklah engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik, sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah kamu memotong pembicaraan seseorang meski panjang lebar, sehingga ia menyelesaikannya sendiri.”
(3) Menyampaikan/ berkomunikasi dengan cara yang baik. Pada dasarnya manusia itu menyukai yang baik-baik dan menyenangkan terhadap dirinya. Sebaliknya, ia membenci pada orang yang kasar lagi tidak menerapkan etika berbicara yang baik.
Dalam hal ini, sebenarnya Allah juga mencintai orang-orang yang mengasihi dan dikasihi. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu maha lembut, mencintai kelemahlembutan. Ia memberikan kepada kelemahlembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada kekerasan dan yang tidak diberikan kepada lainnya.” (HR. Muslim).
Dalam keterangan lain, imam Al Ghazali pernah bercerita bahwa: Datanglah seorang lelaki kepada khalifah Al Ma’mun, menasehatinya dengan cara yang keras dan kasar. Al Ma’mun adalah seorang yang mempunyai fiqh cukup mendalam, maka diapun menjawab: “Wahai Fulan, berlemahlembutlah, sesungguhnya dahulu Allah pernah mengutus dua orang yang jauh lebih baik dari Anda kepada orang yang jauh lebih jahat dari saya. Tapi, Allah memerintahkan keduanya untuk berkata yang lembut. Dia mengutus Musa dan Harun yang jauh lebih baik dari Anda kepada Fir’aun yang jauh lebih jahat dari saya dengan wasiatnya: ‘Pergilah engkau berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia telah berbuat melampaui batas. Berkatalah kepadanya dengan kata-kata yang lembut semoga dia mau ingat atau takut.’ Dengan jawaban Al Ma’mun ini, maka laki-laki tadi terdiam tak mampu berkata sepatah kata pun.”
(4) Mengakui adanya perbedaan pendapat. Perbedaan itu adalah sunnatullah. Justru, dengan perbedaan itu maka hidup dan komunikasi dengan orang lain menjadi indah. Yakni bagi mereka yang mampu menjadikan perbedaan tersebut sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup bermasyarakat.
Untuk itu, dalam menyikapi adanya perbedaan tersebut yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita memahami etika berbeda pendapat dan berusaha untuk mempertemukannya. Allah dalam QS. An Nisaa: 59, telah membimbing kita ketika menjumpai perselisihan pendapat, yaitu: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(5) Melakukan tabayyun. Yakni perilaku seseorang dengan melakukan cek dan rechek terhadap sesuatu informasi yang akan ia sampaikan. Dalam QS. Al Hujurat: 6, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Akhirnya, seandainya kelima hal tersebut dilaksanakan oleh setiap manusia dalam melakukan komunikasi di masyarakat kita, maka kejadian berupa peradilan jalanan seperti yang terjadi di Kabupaten Majalengka itu, insya Allah tidak akan terjadi. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
PRIHATIN, begitulah kondisi sebagian masyarakat sekarang. Tak ada lagi sikap santun. Moral dan akhlak dianggapnya hanya layak untuk bumbu pidato dan basa-basi pergaulan hidup. Begitu pula seruan agar supermasi hukum ditegakkan seolah hanya sedap didengar di seminar dan obrolan warung kopi. Law enforcement hanya kata-kata indah untuk menghiasi buku-buku, kenyataan di lapangan, hukum amburadul yang ada “peradilan jalanan.”
Berbicara tentang korban dari adanya peradilan jalanan. Korbannya, tidak hanya pencuri, penjambret, penodong dan orang-orang yang dianggap dukun santet saja, melainkan juga aparat kepolisian. Di Majalengka misalnya, tepatnya di Desa Sidangpanji, Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka belum lama ini, dua anggota Polres Kuningan tewas dikeroyok massa, seorang di antaranya dibakar hidup-hidup. Naudzubillah.
Sungguh benar-benar memprihatinkan kondisi masyarakat demikian. Di manakah diletakkannya kesadaran moral dan etika komunikasi dalam hidup bermasyarakat kita? Kejadian tersebut, setidaknya harus dapat menyadarkan kita akan kualitas komunikasi yang kita miliki. Karena, bisa jadi hal itu merupakan ikon yang menggambarkan kondisi kualitas komunikasi dari masyarakat kita.
Bagi umat Islam sendiri, komunikasi tidak lain merupakan sarana penyampaian pesan-pesan yang dilihat dari kaca mata Islam haruslah berdasarkan pada Alquran dan As-Sunah. Artinya, Islam jauh-jauh hari memandang begitu penting keberadaan komunikasi dalam masyarakat (baca: sebagai dakwah Islam). Sehingga, kejadian-kejadian pengadilan jalanan seperti itu tidak akan terjadi, bila masyarakat menggunakan etika komunikasi Islam secara baik dan benar.
Ada beberapa landasan akan pentingnya komunikasi bagi umat Islam dan adanya nilai-nilai Islam dalam komunikasi. Pertama, tugas setiap insan untuk menjadikan setiap perbuatan kita semata-mata sebagai ibadah kepada Allah SWT. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Kedua, komunikasi dilakukan sebagai amal saleh dalam rangka saling mengenal satu dengan lainnya. Dalam QS. Al-Hujurat: 13, Allah menginformasikan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ….”
Ketiga, komunikasi semata-mata dilakukan untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).
Secara demikian, komunikasi Islami tidak lain merupakan proses komunikasi yang bersendikan ajaran Islam, yaitu ukhuwwah Islamiyah. Atau dapat dikatakan bahwa prinsip dasar dari ajaran komunikasi Islam itu ialah regulasi komunikasi antara sesama manusia (hablum minannas) dan komunikasi dengan Allah (hablum minallah).
Keberhasilan komunikasi ini, tidak saja terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara pengemasan dan penyampaiannya. Karena suatu pesan yang benar jika tidak dikemas dengan benar akan membuahkan hasil yang tidak baik. Dalam Islam, kita diperintahkan untuk menyampaikan yang benar dengan cara yang benar. Hal ini, telah diseru oleh Allah dalam QS. An-Nahl: 125, yang artinya: “Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Untuk itu, agar pesan dan tujuan komunikasi yang kita inginkan tersebut dapat tercapai, maka ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan dalam berkomunikasi (baca: etika komunikasi dalam Islam). (1) Berkomunikasi dengan jujur. Menurut Jum’ah Abdul Aziz (1996; 88), jujur merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memelihara tutur katanya. Ia tidak berbicara kecuali dengan jujur dan kesempurnaan. Kejujuran merupakan modal hidup yang dapat membimbing kita dalam mengerjakan.segala sesuatu dalam kehidupan ini.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga Allah menetapkannya sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa dan dosa itu mengantarkannya ke neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga Allah menetapkannya sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim).
(2) Mendengarkan dengan baik. Orang bijak mengatakan seorang pembicara yang baik, seharusnya adalah sebagai pendengar yang baik. Oleh karena itu, untuk dapat berkomunikasi dengan baik maka jadilah kita sebagai pendengar yang baik.
Banyak di antara kita yang tidak berhasil melakukan komunikasi secara produktif dan efesien disebabkan karena kita tidak mau memberikan perhatian kepadanya. Salah satunya, yaitu dengan menjadi pendengar yang baik.
Dalam hal ini, Hasan bin Ali ra pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan ulama, hendaklah engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik, sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah kamu memotong pembicaraan seseorang meski panjang lebar, sehingga ia menyelesaikannya sendiri.”
(3) Menyampaikan/ berkomunikasi dengan cara yang baik. Pada dasarnya manusia itu menyukai yang baik-baik dan menyenangkan terhadap dirinya. Sebaliknya, ia membenci pada orang yang kasar lagi tidak menerapkan etika berbicara yang baik.
Dalam hal ini, sebenarnya Allah juga mencintai orang-orang yang mengasihi dan dikasihi. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu maha lembut, mencintai kelemahlembutan. Ia memberikan kepada kelemahlembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada kekerasan dan yang tidak diberikan kepada lainnya.” (HR. Muslim).
Dalam keterangan lain, imam Al Ghazali pernah bercerita bahwa: Datanglah seorang lelaki kepada khalifah Al Ma’mun, menasehatinya dengan cara yang keras dan kasar. Al Ma’mun adalah seorang yang mempunyai fiqh cukup mendalam, maka diapun menjawab: “Wahai Fulan, berlemahlembutlah, sesungguhnya dahulu Allah pernah mengutus dua orang yang jauh lebih baik dari Anda kepada orang yang jauh lebih jahat dari saya. Tapi, Allah memerintahkan keduanya untuk berkata yang lembut. Dia mengutus Musa dan Harun yang jauh lebih baik dari Anda kepada Fir’aun yang jauh lebih jahat dari saya dengan wasiatnya: ‘Pergilah engkau berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia telah berbuat melampaui batas. Berkatalah kepadanya dengan kata-kata yang lembut semoga dia mau ingat atau takut.’ Dengan jawaban Al Ma’mun ini, maka laki-laki tadi terdiam tak mampu berkata sepatah kata pun.”
(4) Mengakui adanya perbedaan pendapat. Perbedaan itu adalah sunnatullah. Justru, dengan perbedaan itu maka hidup dan komunikasi dengan orang lain menjadi indah. Yakni bagi mereka yang mampu menjadikan perbedaan tersebut sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup bermasyarakat.
Untuk itu, dalam menyikapi adanya perbedaan tersebut yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita memahami etika berbeda pendapat dan berusaha untuk mempertemukannya. Allah dalam QS. An Nisaa: 59, telah membimbing kita ketika menjumpai perselisihan pendapat, yaitu: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(5) Melakukan tabayyun. Yakni perilaku seseorang dengan melakukan cek dan rechek terhadap sesuatu informasi yang akan ia sampaikan. Dalam QS. Al Hujurat: 6, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Akhirnya, seandainya kelima hal tersebut dilaksanakan oleh setiap manusia dalam melakukan komunikasi di masyarakat kita, maka kejadian berupa peradilan jalanan seperti yang terjadi di Kabupaten Majalengka itu, insya Allah tidak akan terjadi. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Menjemput Rejeki: Berpikir, Bertindak dan Berdoa
Oleh: ARDA DINATA
ALLAH SWT telah mendesain kehidupan ini sedemikian rupa, tidak lain agar manusia dapat mengambil pelajaran dari setiap episode hidup di dunia ini.
Demikian pula dengan persoalan rejeki. Setiap manusia, hendaknya secara cermat mampu menjemput rejeki yang telah disebarkan Allah di muka bumi sesuai kehendak-Nya.
Berikut ini, adalah pengalaman saya dalam merajut jemputan rejeki pada masa-masa kuliah hingga sekarang. Ceritanya, pada tahun 1992 saya mulai kuliah di Bandung adalah sebatang kara (baca: merantau ---tidak ada sanak famili---). Karenanya, biaya hidup dan kelancaran biaya kuliah pada waktu itu hanya mengandalkan dari datangnya kiriman orang tua di Indramayu.
Awal-awal kuliah, kiriman dari orang tua masih lancar. Namun, menginjak tahun kedua, ternyata kiriman dari orang tua pun mulai sering telat (karena keterbatasan pendapatan orang tua, salah satu faktornya).
Saya berpikir dan meyakini, ini semua adalah jelas-jelas skenario dari Allah. Akhirnya, dengan kejadian itu, saya mulai berpikir. Bagaimana caranya agar saya bisa membantu orang tua dan menolong diri sendiri dalam segi biaya hidup.
Waktu itu, saya berpikir, apa pun pekerjaan itu ---asalkan halal dan tidak mengganggu aktivitas kuliah---, yang penting mendatangkan rejeki (baca: uang), saya mau melakukannya.
Sejak saat itu, saya mulai berpikir: kira-kira apa yang pas dan bisa dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Singat cerita, akhirnya saya terpikat dengan dunia tulis menulis.
Melalui dunia tulis menulis ini, saya akhirnya dapat menjemput rejeki yang dapat memperlancar biaya hidup saya di Bandung. Tepatnya, setelah saya sebar beberapa puluh tulisan/artikel ke beberapa media massa, akhirnya ada yang dimuat. Waktu itu, saya benar-benar terus berusaha membuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan keinginan redaksi. Dalam pikiran saya, Allah pasti melihat setiap kegigihan (usaha kerja keras) dari setiap makhluk-Nya. Demikian juga dengan saya, pada awal-awal mulai menulis, banyak artikel/tulisan yang tidak dimuat. Tapi, saya tidak jera dan terus berusaha memperbaiki serta berdoa kepada Allah. Semoga usaha ini mendapatkan petunjuk dan ridho-Nya.
Buah dari usaha tersebut, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan rejeki dari aktivitas menulis. Dan sampai saat ini, aktivitas tersebut masih tetap saya lakukan.
Menjadi penulis, saya kira bisa dijadikan ladang amal untuk menjemput rejeki dari Allah. Selain itu, tentu melalui media tulisan, kita juga bisa berdakwah memakmurkan ruh-ruh Islamiyah.
Hikmah yang bisa kita dapatkan dari pengalaman saya ini, paling tidak adalah apa pun bentuk usaha kita dalam menjemput rejeki, tentu tidak boleh terlepas dari berusaha sungguh-sungguh (berpikir), lakukan terus (bertindak), dan berdoa setiap saat pada Sang pemilik Rejeki itu sendiri. Yakni Allah Azza wa Jalla. Dan Insya Allah, rejeki itu akan menghampiri kita. Wallahu’alam.***
Arda Dinata
Desa Tempel Kulon
Kec. Lelea Kab. Indramayu.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
ALLAH SWT telah mendesain kehidupan ini sedemikian rupa, tidak lain agar manusia dapat mengambil pelajaran dari setiap episode hidup di dunia ini.
Demikian pula dengan persoalan rejeki. Setiap manusia, hendaknya secara cermat mampu menjemput rejeki yang telah disebarkan Allah di muka bumi sesuai kehendak-Nya.
Berikut ini, adalah pengalaman saya dalam merajut jemputan rejeki pada masa-masa kuliah hingga sekarang. Ceritanya, pada tahun 1992 saya mulai kuliah di Bandung adalah sebatang kara (baca: merantau ---tidak ada sanak famili---). Karenanya, biaya hidup dan kelancaran biaya kuliah pada waktu itu hanya mengandalkan dari datangnya kiriman orang tua di Indramayu.
Awal-awal kuliah, kiriman dari orang tua masih lancar. Namun, menginjak tahun kedua, ternyata kiriman dari orang tua pun mulai sering telat (karena keterbatasan pendapatan orang tua, salah satu faktornya).
Saya berpikir dan meyakini, ini semua adalah jelas-jelas skenario dari Allah. Akhirnya, dengan kejadian itu, saya mulai berpikir. Bagaimana caranya agar saya bisa membantu orang tua dan menolong diri sendiri dalam segi biaya hidup.
Waktu itu, saya berpikir, apa pun pekerjaan itu ---asalkan halal dan tidak mengganggu aktivitas kuliah---, yang penting mendatangkan rejeki (baca: uang), saya mau melakukannya.
Sejak saat itu, saya mulai berpikir: kira-kira apa yang pas dan bisa dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Singat cerita, akhirnya saya terpikat dengan dunia tulis menulis.
Melalui dunia tulis menulis ini, saya akhirnya dapat menjemput rejeki yang dapat memperlancar biaya hidup saya di Bandung. Tepatnya, setelah saya sebar beberapa puluh tulisan/artikel ke beberapa media massa, akhirnya ada yang dimuat. Waktu itu, saya benar-benar terus berusaha membuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan keinginan redaksi. Dalam pikiran saya, Allah pasti melihat setiap kegigihan (usaha kerja keras) dari setiap makhluk-Nya. Demikian juga dengan saya, pada awal-awal mulai menulis, banyak artikel/tulisan yang tidak dimuat. Tapi, saya tidak jera dan terus berusaha memperbaiki serta berdoa kepada Allah. Semoga usaha ini mendapatkan petunjuk dan ridho-Nya.
Buah dari usaha tersebut, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan rejeki dari aktivitas menulis. Dan sampai saat ini, aktivitas tersebut masih tetap saya lakukan.
Menjadi penulis, saya kira bisa dijadikan ladang amal untuk menjemput rejeki dari Allah. Selain itu, tentu melalui media tulisan, kita juga bisa berdakwah memakmurkan ruh-ruh Islamiyah.
Hikmah yang bisa kita dapatkan dari pengalaman saya ini, paling tidak adalah apa pun bentuk usaha kita dalam menjemput rejeki, tentu tidak boleh terlepas dari berusaha sungguh-sungguh (berpikir), lakukan terus (bertindak), dan berdoa setiap saat pada Sang pemilik Rejeki itu sendiri. Yakni Allah Azza wa Jalla. Dan Insya Allah, rejeki itu akan menghampiri kita. Wallahu’alam.***
Arda Dinata
Desa Tempel Kulon
Kec. Lelea Kab. Indramayu.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Berbagi Peran dalam Bingkai Persatuan Umat
Oleh: ARDA DINATA
Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah panggung sandiwara. Di sini tersedia banyak peran yang dimunculkan, tapi itu semua demi suksesnya sebuah pertunjukan. Demikian pula dalam kehidupan manusia secara nyata, kita menyaksikan berbagai macam peran kehidupan yang dilakoninya. Tapi, harusnya realitas perbedaan peran itu tidak membuat kita menjadi terpecah belah. Karena bagi umat Islam, berbagi peran/perbedaan peran itu semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Perbedaan peran adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Allah menciptakan alam dan isinya, di atas sunah perbedaan dalam sebuah kerangka kesatuan. Pada manusia misalnya, bisa kita lihat adanya perbedaan suku bangsa, bangsa, bahasa, dll.
Perbedaan (dalam berbagi peran) tersebut, dalam ajaran Islam harus dipandang sebagai rahmat yang Allah SWT turunkan bagi makhluk-Nya. Dan berikut ini, ada beberapa faktor penyatu yang dapat memposisikan berbagi peran itu dalam bingkai persatuan umat Islam.
Penyerahan Hanya Pada Allah SWT.
Dengan kesadaran penuh bahwa apapun perbedaan peran yang dimiliki oleh seseorang itu semata-mata hanya ketentuan dari Allah, sehingga bagi umat Islam akan memposisikan peran itu semata-mata untuk tunduk dan patuh terhadap ketentuan-Nya.
Allah berfirman, “…dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau …” (QS. Al-Baqarah[2]: 128). Ayat ini, mengajarkan bahwa perbedaan peran itu tidak melupakan semata-mata dalam bingkai persatuan untuk penyerahan “wajah” kepada Allah SWT.
Mengutamakan Saling Menasehati.
Hikmah perbedaan berbagi peran ini, dimaksudkan juga sebagai lahan untuk saling melengkapi satu sama lain, termasuk di dalamnya yang diajarkan dalam Islam adalah berupa saling nasehat-menasehati di antara orang yang berbeda peran kehidupan.
Allah berfirman, “Dan, hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar …” (QS. Ali Imran [3]: 104). Hikmah dari ayat ini, tentu umat Islam harus ada yang berperan dalam sektor saling menasehati dengan kebaikan dan kesabaran dalam kesulitan; sektor mengajak kepada kebaikan; dan sektor mencegah dari kemungkaran.
Tipe Penciptaan Kehidupan yang Sama.
Sungguh Allah menciptakan kehidupan ini tidak sia-sia. Dan hanya orang-orang yang mampu menggunakan pikirnya yang dapat menangkap hikmahnya, termasuk dalam sistem penciptaan kehidupan ini. Allah SWT berfirman, “Dan, tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu …” (QS. Al-An’aam [6]: 38).
Dari ayat tersebut, kita diajarkan bahwa walaupun peran kita berbeda, tapi kita memiliki kesamaan dalam cara-cara hidup pada sektor yang lain yang bisa dikembangkan secara bersama, seperti kerjasama dari kedua sayap burung itu.
Menonjolkan Tujuan yang Sama.
Dalam hidup umat di dunia ini, tergambar berbagai jalan kehidupan yang beraneka ragam, tapi yang jelas tujuan hidup umat Islam harus sama berupa mencapai derajat ridha Allah SWT. Dan perbedaan jalan hidup seseorang tersebut, hendaknya tidak membuat kita menjauhkan diri dari satunya “tujuan hidup” yang sesungguhnya sama.
Allah SWT mengumpamakan fenomena seperti itu dalam QS. Al Qashash [28]: 23), yang artinya: “….Ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya) …”
Kesamaan Sikap dari Dakwah Rasulullah.
Segala perbedaan peran itu, hendaknya tidak diletakkan pada posisi yang bertentangan dengan kesamaan sikap dari ajaran-ajaran dakwah Rasulullah Saw. Artinya, persamaan rujukan dalam apresiasi berdakwah ini tentu akan membuahkan sebuah kekuatan umat yang satu.
Dalam arti lain, seandainya rujukan peran yang kita lakukan tersebut bertentangan dengan sunah Nabi Saw., maka peran tersebut tidak dapat menyatukan umat. Dalam salah satu hadis Nabi Saw., bersabda, “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan.” (HR. Ibnu Majah).
Akhirnya, sudah saatnya bagi umat Islam di Indonesia untuk dapat berbagi peran sesuai keahliannya berdasarkan sunah Rasulullah Saw., tapi dia hendaknya juga tetap dalam koridor mencari rahmat Allah SWT sebagai aktualisasi dari Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Waalahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah panggung sandiwara. Di sini tersedia banyak peran yang dimunculkan, tapi itu semua demi suksesnya sebuah pertunjukan. Demikian pula dalam kehidupan manusia secara nyata, kita menyaksikan berbagai macam peran kehidupan yang dilakoninya. Tapi, harusnya realitas perbedaan peran itu tidak membuat kita menjadi terpecah belah. Karena bagi umat Islam, berbagi peran/perbedaan peran itu semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Perbedaan peran adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Allah menciptakan alam dan isinya, di atas sunah perbedaan dalam sebuah kerangka kesatuan. Pada manusia misalnya, bisa kita lihat adanya perbedaan suku bangsa, bangsa, bahasa, dll.
Perbedaan (dalam berbagi peran) tersebut, dalam ajaran Islam harus dipandang sebagai rahmat yang Allah SWT turunkan bagi makhluk-Nya. Dan berikut ini, ada beberapa faktor penyatu yang dapat memposisikan berbagi peran itu dalam bingkai persatuan umat Islam.
Penyerahan Hanya Pada Allah SWT.
Dengan kesadaran penuh bahwa apapun perbedaan peran yang dimiliki oleh seseorang itu semata-mata hanya ketentuan dari Allah, sehingga bagi umat Islam akan memposisikan peran itu semata-mata untuk tunduk dan patuh terhadap ketentuan-Nya.
Allah berfirman, “…dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau …” (QS. Al-Baqarah[2]: 128). Ayat ini, mengajarkan bahwa perbedaan peran itu tidak melupakan semata-mata dalam bingkai persatuan untuk penyerahan “wajah” kepada Allah SWT.
Mengutamakan Saling Menasehati.
Hikmah perbedaan berbagi peran ini, dimaksudkan juga sebagai lahan untuk saling melengkapi satu sama lain, termasuk di dalamnya yang diajarkan dalam Islam adalah berupa saling nasehat-menasehati di antara orang yang berbeda peran kehidupan.
Allah berfirman, “Dan, hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar …” (QS. Ali Imran [3]: 104). Hikmah dari ayat ini, tentu umat Islam harus ada yang berperan dalam sektor saling menasehati dengan kebaikan dan kesabaran dalam kesulitan; sektor mengajak kepada kebaikan; dan sektor mencegah dari kemungkaran.
Tipe Penciptaan Kehidupan yang Sama.
Sungguh Allah menciptakan kehidupan ini tidak sia-sia. Dan hanya orang-orang yang mampu menggunakan pikirnya yang dapat menangkap hikmahnya, termasuk dalam sistem penciptaan kehidupan ini. Allah SWT berfirman, “Dan, tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu …” (QS. Al-An’aam [6]: 38).
Dari ayat tersebut, kita diajarkan bahwa walaupun peran kita berbeda, tapi kita memiliki kesamaan dalam cara-cara hidup pada sektor yang lain yang bisa dikembangkan secara bersama, seperti kerjasama dari kedua sayap burung itu.
Menonjolkan Tujuan yang Sama.
Dalam hidup umat di dunia ini, tergambar berbagai jalan kehidupan yang beraneka ragam, tapi yang jelas tujuan hidup umat Islam harus sama berupa mencapai derajat ridha Allah SWT. Dan perbedaan jalan hidup seseorang tersebut, hendaknya tidak membuat kita menjauhkan diri dari satunya “tujuan hidup” yang sesungguhnya sama.
Allah SWT mengumpamakan fenomena seperti itu dalam QS. Al Qashash [28]: 23), yang artinya: “….Ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya) …”
Kesamaan Sikap dari Dakwah Rasulullah.
Segala perbedaan peran itu, hendaknya tidak diletakkan pada posisi yang bertentangan dengan kesamaan sikap dari ajaran-ajaran dakwah Rasulullah Saw. Artinya, persamaan rujukan dalam apresiasi berdakwah ini tentu akan membuahkan sebuah kekuatan umat yang satu.
Dalam arti lain, seandainya rujukan peran yang kita lakukan tersebut bertentangan dengan sunah Nabi Saw., maka peran tersebut tidak dapat menyatukan umat. Dalam salah satu hadis Nabi Saw., bersabda, “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan.” (HR. Ibnu Majah).
Akhirnya, sudah saatnya bagi umat Islam di Indonesia untuk dapat berbagi peran sesuai keahliannya berdasarkan sunah Rasulullah Saw., tapi dia hendaknya juga tetap dalam koridor mencari rahmat Allah SWT sebagai aktualisasi dari Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Waalahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Label:
Inspirasi Sukses,
Inspiring,
MIQRA NEWS,
News and Article
Kiat Sukses Menuju Ummat Bersatu
Oleh: ARDA DINATA
BERSATU berarti menjadi satu; berkumpul atau bergabung menjadi satu. Sehebat apapun kekuatan, bila tercerai berai, niscaya akan menjadi sangat lemah dan mudah diperdaya. Keadaan suatu kaum tergantung dirinya, bila mereka bodoh, maka akan mudah ditipu. Bila ia lemah, maka akan mudah ditindas. Bila kita tercerai berai, maka akan mudah dijajah.
Untuk itu, silakan renungkan sendiri nasib ummat Islam di negeri ini, yang katanya merupakan ummat Islam terbesar di dunia? Buktinya, kita bisa melihat dan merasakan sendiri keadaan ekonomi, sosial, budaya, politik, ternyata kita demikian lemah sehingga dikuasai oleh pihak yang tidak menyukai kita.
Bagai sebuah lidi yang kecil mungil, bila bergabung dan diikat kuat menjadi satu, niscaya akan bisa menyapu jalanan, bahkan air selokan sekalipun atau mungkin bisa juga dipakai memukul dan mengusir seekor anjing! Artinya, bila kita, yang lemah ini mau saja bertekad untuk bersatu-padu membangun kebersamaan, niscaya akan lahir kekuatan yang akan bermanfaat, tidak saja bagi kita sendiri tapi juga bagi bangsa ini. Dampaknya, bila lahir keadilan maka akan lahir pula kasih sayang dan kesejahteraan.
Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujuraat: 10). Ukhuwah Islamiyah tumbuh dari akar akidah Islam. Dan akidah Islam ini akan menumbuhkan tunas-tunas persaudaraan Islam. Di antara upaya yang bisa mulai kita lakukan, demi suksesnya sebuah ukhuwah ini adalah sebagai berikut.
1. Komitmen membuat bangunan.
Begitu banyak bahan bangunan yang sangat lengkap di etalase toko (khusus) penjual bahan bangunan. Tapi, ia tidak dapat membentuk sebuah bangunan indah, tidak kokoh, padahal semuanya telah lengkap. Penyebabnya adalah karena memang tak ada komitmen untuk menjadi sebuah bangunan.
Kondisi itu, akan berbeda setelah ada tekad untuk membangun rumah yang dirancang oleh ahlinya, lalu secara bertahap bahan bangunan tersebut tersusun dengan rapi pada tempat yang telah direncanakan, saling menguatkan dan memperindah, sehingga hasilnya adalah sebuah bangunan kokoh, indah dan penuh manfaat.
Dengan kata lain, tidak akan pernah ada persatuan yang kokoh, indah dan penuh manfaat, sebelum di antara ummat ada tekad yang kuat, mendalam dan disertai dengan konsep perencanaan yang matang, serta pelaksanaan yang sungguh-sungguh lagi konsisten, istiqomah yang diselimuti dengan kesabaran dan pengorbanan yang tulus demi kesuksesan bersama.
Untuk itu, pada diri kita harus ada semangat bergelora berupa keinginan bersatu dan mempersatukan ummat, selalu terbayang kemaslahatan yang besar, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi generasi mendatang. Mulailah dengan persiapan ilmu yang memadai untuk berproses mempersatukan ummat dan siap dengan pengorbanan harta, tenaga maupun waktu. Tanpa kesadaran yang bergelora seperti itu pada setiap diri ummat, maka memang tipis harapan ukhuwah ini akan terwujud.
2. Perbedaan adalah bagian kekuatan.
Kekuatan akan muncul, manakala ditopang oleh komponen-komponen yang membentuk sebuah kekuatan itu sendiri. Salah satu komponen itu, tentu memiliki perbedaan-perbedaan yang satu sama lainnya saling mendukung terciptanya sebuah kekuatan.
Ibarat sebuah bangunan rumah yang kokoh, maka ia terbangun oleh adanya perbedaan-perbedaan bahan bangunan. Ada pasangan batu, bata, adukan semen, besi, kayu, genteng, dll.yang membuat dirinya berdiri kokoh. Coba kita bayangkan, bila bangunan itu hanya berupa tumpukkan batu, bata atau adukan semen saja, maka bangunan tersebut akan mudah robah dan tidak terlihat indah.
Perbedaan adalah hiasan kehidupan dan membantu orang-orang yang hidup. Ia merupakan fitrah manusia dan bagian terpenting dari beragam sisi primer kehiduan. Kita bisa melihat bahwa perbedaan itu akan terlihat indah, manakala kita dapat menyatukannya sesuai aturan dan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya era pemikiran manusia sekarang ini adalah era kematangan, karena Islam telah menjadi penutup risalah langit yang dikirim kepada manusia, ketika manusia telah mencapai taraf kedewasaan. Islam memandang perbedaan sebagai wujud kemahakuasaan Allah atas ciptaan-Nya dan rahmat yang Allah turunkan bagi makhluk-Nya. Dengan perbedaan, kehidupan menjadi dinamis dan tidak stangnan, karena akan mengantarkan sebuah kompetisi dari masing-masing elemen untuk berbuat yang terbaik.
3. Jangan menonjolkan diri.
Setiap kita memiliki aset dalam membentuk suatu kekuatan ummat. Karena setiap kesuksesan yang kita dapatkan pada hakekatnya terdapat kontribusi peran dari orang lain. Untuk itu, sangat bijaksana seandainya di antara kita dalam membangun kesatuan ummat ini, tidak berusaha saling menonjolkan diri. Biarlah nama kita tidak disebut, asalkan kita benar-benar telah berperan dalam menyukseskan kepentingan ummat. Karena balasan Allah SWT itu tidak akan keliru lagi tertukar.
Sungguh indah, seandainya kita bisa mencontoh kerjasama dari sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Misalnya, bagaimana relanya sebuah batu menjadi pondasi yang tertimbun di tanah untuk mengokohkan bangunan, pasangan bata-bata yang membentuk sekat-sekat bangunan dengan diplester adukan pasir dan semen agar terlihat indah, dll. Begitu seterusnya sampai ke bagian atas bangunan (genteng), mereka tidak saling menonjolkan diri bahwa dirinya yang paling berjasa, tetapi mereka jelas-jelas ikhlas dan saling melengkapi demi suksesnya sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Sungguh luar bisa, jika ummat Islam bisa mencontoh dari sikap komponen-komponen yang membentuk sebuah bangunan tersebut.
4. Diri bagian dari kesuksesan orang lain.
Sungguh beruntung bagi mereka yang memiliki pikiran dan tindakan bahwa dirinya telah berusaha maksimal untuk dapat menjadi jalan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain. Kesuksesan yang sejati adalah apabila orang lain merasakan nikmat dari kesuksesan yang kita raih. Dalam arti lain, diri kita berusha untuk menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
Kita harusnya, berbahagia apabila orang lain menjadi sukses. Bukan sebaliknya, kita berusaha menghalang-halangi terhadap kesuksesan orang lain. Karena sungguh tidak berarti, bila kesuksesan yang kita dapatkan itu hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri. Sukses yang hakiki, tidak lain adalah kesuksesan bersama. Lebih bagus lagi, bila diri kita ini menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
5. Mulai dari diri sendiri.
Perilaku mulai dari diri sendiri adalah sesuatu yang mudah dan aman dilakukan setiap orang, daripada perilaku menyuruh kepada orang lain. Memulai dari diri sendiri, juga berarti ia memiliki inisiatif yang tepat, sebelum memproyeksikannya kepada orang lain. Artinya, kegiatan menyeru kebaikan (baca: membuat ummat bersatu) kepada orang lain dianggap efektif, bila dimulai dengan menyeru berbuat baik kepada diri sendiri terlebih dahulu.
Jangan harap kesuksesan itu tercipta, bila kita hanya menuntut pada pihak lain. Padahal diri kita, sama sekali tidak memulai sendiri dalam hal membangun kesuksesan tersebut. Untuk itu, jangan kita menuntut orang lain untuk membentuk ummat bersatu tanpa diawali dari diri sendiri untuk memulainya. Jadi, ummat bersatu akan lebih cepat terwujud, bila setiap kita memulai mewujudkannya dari diri sendiri, memulai dalam hal-hal kecil, dan melakukannya dari saat ini. Waallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
BERSATU berarti menjadi satu; berkumpul atau bergabung menjadi satu. Sehebat apapun kekuatan, bila tercerai berai, niscaya akan menjadi sangat lemah dan mudah diperdaya. Keadaan suatu kaum tergantung dirinya, bila mereka bodoh, maka akan mudah ditipu. Bila ia lemah, maka akan mudah ditindas. Bila kita tercerai berai, maka akan mudah dijajah.
Untuk itu, silakan renungkan sendiri nasib ummat Islam di negeri ini, yang katanya merupakan ummat Islam terbesar di dunia? Buktinya, kita bisa melihat dan merasakan sendiri keadaan ekonomi, sosial, budaya, politik, ternyata kita demikian lemah sehingga dikuasai oleh pihak yang tidak menyukai kita.
Bagai sebuah lidi yang kecil mungil, bila bergabung dan diikat kuat menjadi satu, niscaya akan bisa menyapu jalanan, bahkan air selokan sekalipun atau mungkin bisa juga dipakai memukul dan mengusir seekor anjing! Artinya, bila kita, yang lemah ini mau saja bertekad untuk bersatu-padu membangun kebersamaan, niscaya akan lahir kekuatan yang akan bermanfaat, tidak saja bagi kita sendiri tapi juga bagi bangsa ini. Dampaknya, bila lahir keadilan maka akan lahir pula kasih sayang dan kesejahteraan.
Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujuraat: 10). Ukhuwah Islamiyah tumbuh dari akar akidah Islam. Dan akidah Islam ini akan menumbuhkan tunas-tunas persaudaraan Islam. Di antara upaya yang bisa mulai kita lakukan, demi suksesnya sebuah ukhuwah ini adalah sebagai berikut.
1. Komitmen membuat bangunan.
Begitu banyak bahan bangunan yang sangat lengkap di etalase toko (khusus) penjual bahan bangunan. Tapi, ia tidak dapat membentuk sebuah bangunan indah, tidak kokoh, padahal semuanya telah lengkap. Penyebabnya adalah karena memang tak ada komitmen untuk menjadi sebuah bangunan.
Kondisi itu, akan berbeda setelah ada tekad untuk membangun rumah yang dirancang oleh ahlinya, lalu secara bertahap bahan bangunan tersebut tersusun dengan rapi pada tempat yang telah direncanakan, saling menguatkan dan memperindah, sehingga hasilnya adalah sebuah bangunan kokoh, indah dan penuh manfaat.
Dengan kata lain, tidak akan pernah ada persatuan yang kokoh, indah dan penuh manfaat, sebelum di antara ummat ada tekad yang kuat, mendalam dan disertai dengan konsep perencanaan yang matang, serta pelaksanaan yang sungguh-sungguh lagi konsisten, istiqomah yang diselimuti dengan kesabaran dan pengorbanan yang tulus demi kesuksesan bersama.
Untuk itu, pada diri kita harus ada semangat bergelora berupa keinginan bersatu dan mempersatukan ummat, selalu terbayang kemaslahatan yang besar, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi generasi mendatang. Mulailah dengan persiapan ilmu yang memadai untuk berproses mempersatukan ummat dan siap dengan pengorbanan harta, tenaga maupun waktu. Tanpa kesadaran yang bergelora seperti itu pada setiap diri ummat, maka memang tipis harapan ukhuwah ini akan terwujud.
2. Perbedaan adalah bagian kekuatan.
Kekuatan akan muncul, manakala ditopang oleh komponen-komponen yang membentuk sebuah kekuatan itu sendiri. Salah satu komponen itu, tentu memiliki perbedaan-perbedaan yang satu sama lainnya saling mendukung terciptanya sebuah kekuatan.
Ibarat sebuah bangunan rumah yang kokoh, maka ia terbangun oleh adanya perbedaan-perbedaan bahan bangunan. Ada pasangan batu, bata, adukan semen, besi, kayu, genteng, dll.yang membuat dirinya berdiri kokoh. Coba kita bayangkan, bila bangunan itu hanya berupa tumpukkan batu, bata atau adukan semen saja, maka bangunan tersebut akan mudah robah dan tidak terlihat indah.
Perbedaan adalah hiasan kehidupan dan membantu orang-orang yang hidup. Ia merupakan fitrah manusia dan bagian terpenting dari beragam sisi primer kehiduan. Kita bisa melihat bahwa perbedaan itu akan terlihat indah, manakala kita dapat menyatukannya sesuai aturan dan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya era pemikiran manusia sekarang ini adalah era kematangan, karena Islam telah menjadi penutup risalah langit yang dikirim kepada manusia, ketika manusia telah mencapai taraf kedewasaan. Islam memandang perbedaan sebagai wujud kemahakuasaan Allah atas ciptaan-Nya dan rahmat yang Allah turunkan bagi makhluk-Nya. Dengan perbedaan, kehidupan menjadi dinamis dan tidak stangnan, karena akan mengantarkan sebuah kompetisi dari masing-masing elemen untuk berbuat yang terbaik.
3. Jangan menonjolkan diri.
Setiap kita memiliki aset dalam membentuk suatu kekuatan ummat. Karena setiap kesuksesan yang kita dapatkan pada hakekatnya terdapat kontribusi peran dari orang lain. Untuk itu, sangat bijaksana seandainya di antara kita dalam membangun kesatuan ummat ini, tidak berusaha saling menonjolkan diri. Biarlah nama kita tidak disebut, asalkan kita benar-benar telah berperan dalam menyukseskan kepentingan ummat. Karena balasan Allah SWT itu tidak akan keliru lagi tertukar.
Sungguh indah, seandainya kita bisa mencontoh kerjasama dari sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Misalnya, bagaimana relanya sebuah batu menjadi pondasi yang tertimbun di tanah untuk mengokohkan bangunan, pasangan bata-bata yang membentuk sekat-sekat bangunan dengan diplester adukan pasir dan semen agar terlihat indah, dll. Begitu seterusnya sampai ke bagian atas bangunan (genteng), mereka tidak saling menonjolkan diri bahwa dirinya yang paling berjasa, tetapi mereka jelas-jelas ikhlas dan saling melengkapi demi suksesnya sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Sungguh luar bisa, jika ummat Islam bisa mencontoh dari sikap komponen-komponen yang membentuk sebuah bangunan tersebut.
4. Diri bagian dari kesuksesan orang lain.
Sungguh beruntung bagi mereka yang memiliki pikiran dan tindakan bahwa dirinya telah berusaha maksimal untuk dapat menjadi jalan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain. Kesuksesan yang sejati adalah apabila orang lain merasakan nikmat dari kesuksesan yang kita raih. Dalam arti lain, diri kita berusha untuk menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
Kita harusnya, berbahagia apabila orang lain menjadi sukses. Bukan sebaliknya, kita berusaha menghalang-halangi terhadap kesuksesan orang lain. Karena sungguh tidak berarti, bila kesuksesan yang kita dapatkan itu hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri. Sukses yang hakiki, tidak lain adalah kesuksesan bersama. Lebih bagus lagi, bila diri kita ini menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
5. Mulai dari diri sendiri.
Perilaku mulai dari diri sendiri adalah sesuatu yang mudah dan aman dilakukan setiap orang, daripada perilaku menyuruh kepada orang lain. Memulai dari diri sendiri, juga berarti ia memiliki inisiatif yang tepat, sebelum memproyeksikannya kepada orang lain. Artinya, kegiatan menyeru kebaikan (baca: membuat ummat bersatu) kepada orang lain dianggap efektif, bila dimulai dengan menyeru berbuat baik kepada diri sendiri terlebih dahulu.
Jangan harap kesuksesan itu tercipta, bila kita hanya menuntut pada pihak lain. Padahal diri kita, sama sekali tidak memulai sendiri dalam hal membangun kesuksesan tersebut. Untuk itu, jangan kita menuntut orang lain untuk membentuk ummat bersatu tanpa diawali dari diri sendiri untuk memulainya. Jadi, ummat bersatu akan lebih cepat terwujud, bila setiap kita memulai mewujudkannya dari diri sendiri, memulai dalam hal-hal kecil, dan melakukannya dari saat ini. Waallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Label:
Inspirasi Sukses,
Inspiring,
MIQRA NEWS,
News and Article
Terhindar dari Ketergantungan Duniawi
Oleh: ARDA DINATA
Dalam kehidupan ini, hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, bukanlah suatu jaminan atas keselamatan seseorang bila ia tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebaliknya, ketiadaannya terhadap kepemilikan kekayaan duniawi tidak akan membuat sengsara, bila kita berepagangan teguh pada tali Allah Swt.
Untuk itu, agar kita terhindar dari ketergantungan akan cinta dunia dan tidak mengabaikan terhadap nikmat dunia tersebut, maka diperlukan adanya keseimbangan dalam memandang kekayaan duniawi ini. Yakni kita harus berperilaku zuhud terhadapnya. Prinsip utama zuhud adalah meninggalkan ketergantungan, tetapi bukan serta merta meninggalkan kepemilikan.
Konsep seperti itulah, seharusnya yang tertanam dalam jiwa seorang muslim. Petunjuk ini dapat kita temukan dalam Alquran. Allah Swt berfirman, “Dan bila telah ditunaikan shalat maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah dari karunia Allah. Dan ingatlah Allah dengan ingat yang banyak, agar kamu semakin beruntung.” (QS. Al-Jumuah [62]:10). Ayat ini dapat menjadi petunjuk akan tidak adanya larangan atas kepemilikan. Namun, pada keterangan lain Allah Swt melarang tegas bagi siapa saja yang sangat tergantung kepada dunia semata dan terkekang oleh perhiasannya. Allah Swt berfirman, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan yang tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. An-Najm [53]: 29).
Berikut ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada kekayaan duniawi.
Tidak meletakan hal-hal duniawi di hati.
Orang zuhud itu akan meletakan dunia di tangan dan tidak meletakannya di hati, serta tidak dengan membuangnya. Ini kunci yang pertama bila kita ingin selamat dengan kekayaan duniawi.
Oleh karena itu, hendaklah ia bersama Allah dan hatinya lebih banyak didominasi oleh nikmatnya ketaatan, karena hati tidak dapat terbebas sama sekali dari rasa cinta (baca: cinta dunia atau cinta Allah). Kedua cinta ini di dalam hati seperti air dan udara di dalam sebuah gelas.
Itulah sebabnya, barangkali mengapa Hisyam bin Hassan pernah berkata, “Tiada seorang yang mengagungkan dirham kecuali Allah akan menghinakannya.”
Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi.
Perilaku hanyut dalam memburu kekayaan duniawi merupakan sesuatu yang membahayakan. Sebab sangat mungkin kesempatan dan keseriusan seseorang dalam memburu kekayaan duniawi akan berakibat manusia lupa akan kewajibannya berdakwah. Sehingga pada ujungnya, hal itu akan membuat hatinya beku dan mengeras serta jiwanya menjadi kering.
Sejarah memperlihatkan kepada kita, betapa banyak jiwa-jiwa suci akhirnya tercemar. Adanya tali ukhuwah yang kuat akhirnya berakhir dengan kebencian dan kehncuran. Hal demikian, tidak lain disebabkan adanya persaingan di antara mereka dalam mencari kekayaan duniawi dan melupakan akhirat. Adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf ra., kedua sosok yang patut dicontoh, karena ia terkenal kaya, tetapi selalu berpikir tentang akhirat.
Tidak menumpuk-numpuk kekayaan duniawi.
Setan sebagai musuh manusia, tentu akan selalu berusaha merayu dan membujuk orang-orang kaya untuk terus menimbun dan menumpuk kekayaannya, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah. Padahal kedudukan kekayaan (harta) dalam pandangan Islam adalah harta Allah sedangkan manusia itu terikat dalam membelanjakannya dengan ketentuan-ketentuan yang disyariatkan-Nya.
Untuk itu, agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikan kekayaan dunia sebagai jalan, bukan satu-satunya tujuan, dan bukan pula sebagai sebab yang dapat menjelaskan semua kejadian. Sehingga patut kita renungkan apa yang dikatakan Al Manawy bahwa, “Harta itu tidak akan tercela dengan sendirinya, maka sesungguhnya harta dunia itu adalah ladang di akherat. Barangsiapa mengambil harta dunia itu dengan memelihara hukum syariat, maka Allah akan memberi pertolongan di akheratnya.”
Jadi, kekayaan harta itu bagaimana orang yang memilikinya, karena ia bisa menjadi jalan kebaikan dan juga bila tidak berhati-hati ia akan memperbudak diri kita.
Segera menginfakkan kekayaan duniawi yang diperoleh.
Perilaku menumpuk-numpuk kekayaan harta akan berakibat mereka melupakan orang fakir miskin. Sehingga untuk menghindari hal ini, kita hendaknya berusaha untuk segera menginfakkan kekayaan yang telah kita peroleh.
Dalam Alquran, Allah Swt memberi petunjuk kepada kita berkaitan dengan membelanjakan kekayaan harta ini, yaitu: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Baqarah [2]: 67).
Lebih jauh, agar kita terhindar dari ketergantungan terhadap kekayaan dunia, maka kita dilarang untuk menjatuhkan dirinya kepada kehancuran. Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2]: 195).
Salah satu bentuk sikap berbuat baik terhadap kekayaan dunia adalah dengan segera menginfakkannya di jalan Allah. Nabi saw bersabda, “Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan untuk berinfak adalah lebih baik bagimu. Dan jika engkau kikir adalah lebih buruk bagimu. Dan janganlah kamu boros terhadap kekayaanmu. Dan bantulah kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim, Turmudzi).
Dalam hadits lain disebutkan, “Jagalah kamu dari sifat kikir, karena sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang sebelum kamu telah binasa, disebabkan kekikiran." (HR. Dawud).
Akhirnya, apabila tujuan hidup kita tujuannya hanya Allah, maka ketika mendapat karunia kekayaan duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Dan sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Allah berikan kepadanya. Jadi, hendaknya dalam diri ini terhujam tekad bahwa dirinya tidak akan rela dan tidak berniat sedikit pun untuk menenggelamkan dirinya dengan kekayaan harta yang dimilikinya di luar tuntunan-Nya. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Dalam kehidupan ini, hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, bukanlah suatu jaminan atas keselamatan seseorang bila ia tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebaliknya, ketiadaannya terhadap kepemilikan kekayaan duniawi tidak akan membuat sengsara, bila kita berepagangan teguh pada tali Allah Swt.
Untuk itu, agar kita terhindar dari ketergantungan akan cinta dunia dan tidak mengabaikan terhadap nikmat dunia tersebut, maka diperlukan adanya keseimbangan dalam memandang kekayaan duniawi ini. Yakni kita harus berperilaku zuhud terhadapnya. Prinsip utama zuhud adalah meninggalkan ketergantungan, tetapi bukan serta merta meninggalkan kepemilikan.
Konsep seperti itulah, seharusnya yang tertanam dalam jiwa seorang muslim. Petunjuk ini dapat kita temukan dalam Alquran. Allah Swt berfirman, “Dan bila telah ditunaikan shalat maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah dari karunia Allah. Dan ingatlah Allah dengan ingat yang banyak, agar kamu semakin beruntung.” (QS. Al-Jumuah [62]:10). Ayat ini dapat menjadi petunjuk akan tidak adanya larangan atas kepemilikan. Namun, pada keterangan lain Allah Swt melarang tegas bagi siapa saja yang sangat tergantung kepada dunia semata dan terkekang oleh perhiasannya. Allah Swt berfirman, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan yang tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. An-Najm [53]: 29).
Berikut ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada kekayaan duniawi.
Tidak meletakan hal-hal duniawi di hati.
Orang zuhud itu akan meletakan dunia di tangan dan tidak meletakannya di hati, serta tidak dengan membuangnya. Ini kunci yang pertama bila kita ingin selamat dengan kekayaan duniawi.
Oleh karena itu, hendaklah ia bersama Allah dan hatinya lebih banyak didominasi oleh nikmatnya ketaatan, karena hati tidak dapat terbebas sama sekali dari rasa cinta (baca: cinta dunia atau cinta Allah). Kedua cinta ini di dalam hati seperti air dan udara di dalam sebuah gelas.
Itulah sebabnya, barangkali mengapa Hisyam bin Hassan pernah berkata, “Tiada seorang yang mengagungkan dirham kecuali Allah akan menghinakannya.”
Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi.
Perilaku hanyut dalam memburu kekayaan duniawi merupakan sesuatu yang membahayakan. Sebab sangat mungkin kesempatan dan keseriusan seseorang dalam memburu kekayaan duniawi akan berakibat manusia lupa akan kewajibannya berdakwah. Sehingga pada ujungnya, hal itu akan membuat hatinya beku dan mengeras serta jiwanya menjadi kering.
Sejarah memperlihatkan kepada kita, betapa banyak jiwa-jiwa suci akhirnya tercemar. Adanya tali ukhuwah yang kuat akhirnya berakhir dengan kebencian dan kehncuran. Hal demikian, tidak lain disebabkan adanya persaingan di antara mereka dalam mencari kekayaan duniawi dan melupakan akhirat. Adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf ra., kedua sosok yang patut dicontoh, karena ia terkenal kaya, tetapi selalu berpikir tentang akhirat.
Tidak menumpuk-numpuk kekayaan duniawi.
Setan sebagai musuh manusia, tentu akan selalu berusaha merayu dan membujuk orang-orang kaya untuk terus menimbun dan menumpuk kekayaannya, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah. Padahal kedudukan kekayaan (harta) dalam pandangan Islam adalah harta Allah sedangkan manusia itu terikat dalam membelanjakannya dengan ketentuan-ketentuan yang disyariatkan-Nya.
Untuk itu, agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikan kekayaan dunia sebagai jalan, bukan satu-satunya tujuan, dan bukan pula sebagai sebab yang dapat menjelaskan semua kejadian. Sehingga patut kita renungkan apa yang dikatakan Al Manawy bahwa, “Harta itu tidak akan tercela dengan sendirinya, maka sesungguhnya harta dunia itu adalah ladang di akherat. Barangsiapa mengambil harta dunia itu dengan memelihara hukum syariat, maka Allah akan memberi pertolongan di akheratnya.”
Jadi, kekayaan harta itu bagaimana orang yang memilikinya, karena ia bisa menjadi jalan kebaikan dan juga bila tidak berhati-hati ia akan memperbudak diri kita.
Segera menginfakkan kekayaan duniawi yang diperoleh.
Perilaku menumpuk-numpuk kekayaan harta akan berakibat mereka melupakan orang fakir miskin. Sehingga untuk menghindari hal ini, kita hendaknya berusaha untuk segera menginfakkan kekayaan yang telah kita peroleh.
Dalam Alquran, Allah Swt memberi petunjuk kepada kita berkaitan dengan membelanjakan kekayaan harta ini, yaitu: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Baqarah [2]: 67).
Lebih jauh, agar kita terhindar dari ketergantungan terhadap kekayaan dunia, maka kita dilarang untuk menjatuhkan dirinya kepada kehancuran. Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2]: 195).
Salah satu bentuk sikap berbuat baik terhadap kekayaan dunia adalah dengan segera menginfakkannya di jalan Allah. Nabi saw bersabda, “Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan untuk berinfak adalah lebih baik bagimu. Dan jika engkau kikir adalah lebih buruk bagimu. Dan janganlah kamu boros terhadap kekayaanmu. Dan bantulah kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim, Turmudzi).
Dalam hadits lain disebutkan, “Jagalah kamu dari sifat kikir, karena sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang sebelum kamu telah binasa, disebabkan kekikiran." (HR. Dawud).
Akhirnya, apabila tujuan hidup kita tujuannya hanya Allah, maka ketika mendapat karunia kekayaan duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Dan sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Allah berikan kepadanya. Jadi, hendaknya dalam diri ini terhujam tekad bahwa dirinya tidak akan rela dan tidak berniat sedikit pun untuk menenggelamkan dirinya dengan kekayaan harta yang dimilikinya di luar tuntunan-Nya. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Label:
Inspirasi Sukses,
Inspiring,
MIQRA NEWS,
News and Article
Menata Ulang Visi Umat
Oleh: ARDA DINATA
DALAM suatu penelitian terhadap orang-orang sukses yang dilakukan oleh para ahli diungkapkan bahwa untuk menggapai tampuk kesuksesan, dalam diri orang itu ditemukan dua ciri yang membuat seseorang itu tangguh, melesat, berprestasi, dan membawa manfaat besar bagi banyak orang. Pertama, memiliki tujuan dan visi yang jelas yang harus ditempuhnya. Kedua, dia sanggup berkorban untuk meraih apa yang dia jadikan visi dalam hidupnya.
Untuk itu, dalam menyikapi dan merayakan hari raya Idul Fitri, setelahnya kita puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka ada yang mesti kita kedepankan untuk menata ulang setiap visi umat Islam dalam menyikapi hari-hari berikutnya. Nabi Saw berpesan kepada kita agar menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Prinsip ini hendaknya telah terhujam dalam perilaku perencanaan hidup dan penentuan visi hidup setiap umat muslim. Lagian, Allah SWT telah memperingatkan kepada kita dalam QS. Ar-Ra’d (13): 11, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Dalam menyikapi dan mengawali kondisi manusia yang fitri (suci) seperti seorang bayi tersebut, maka kita harus menempuh dan mengisinya sesuai dengan fitrah manusia dan hidup bermasyarakat itu sendiri. Artinya ada dua kepentingan yang harus kita tata ulang dalam mewujudkan visi umat sesuai dengan Islam. Pertama, dengan jalan meningkatkan hubungan yang bersifat vertikal dengan Allah SWT (hablum minallah). Kedua, dengan cara meningkatkan hubungan yang bersifat horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).
Hablum Minallah
Dalam rangka meningkatkan hubungan dengan Allah, maka kita bisa belajar dan melihat seperti bagaimana seorang muslim diajarkan di saat sekitar momentum Idul Fitri, yaitu kaum muslim mengumandangkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil. Yaitu Allahu Akbar, wa lillahil hamd, wa la ilaha illallah (Allah Mahabesar, puja dan puji adalah milik-Nya, dan tidak ada Tuhan kecuali Dia).
Berikut ini ada beberapa visi umat yang perlu ditata ulang berkait dengan hubungan yang bersifat vertikal dengan Allah SWT, diantaranya sebagai berikut.
1. Pengulangan Ikrar.
Aktivitas seperti di atas merupakan salah satu dari manisfestasi pengulangan ikrar kita terhadap Allah. Kita harus yakin betul bahwa Allah Mahabesar. Tidak ada yang lebih kuat dan lebih sempurna di kosmos ini, selain Allah SWT. Inilah visi awal yang mesti terbangun kuat di dalam lubuk hati nurani kita.
2. Membulatkan Tekad.
Dalam hidup ini perlu dikuatkan oleh sebuah tekad. Keberadaan kebulatan tekad pada seseorang, secara psikologis akan membuat ringan langkah hidup dan menjalani segala romantika kehidupannya. Di sini, kebulatan tekad yang utama dan pertama yang perlu ditata ulang oleh tiap umat adalah bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak dihormati dan dipuja.
Selain itu, kita juga secara sadar harus mengakui dari kebulatan tekad ini adalah berupa mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya. Di samping tentunya bagi setiap muslim harus ridha dengan qadha dan qadar-Nya.
3. Meminta Pertolongan Allah.
Manusia itu makhluk lemah dan tidak berdaya, bila tanpa bantuan dari-Nya. Untuk itu, setiap muslim hendaknya hanya bermohon meminta pertolongan kepada Allah semata-mata.
Kita harus sadar betul bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberi pertolongan kepada makhluk-makhluk-Nya. Semakin manusia banyak (hanya) meminta pertolongan kepada Allah, maka hati manusia akan menjadi tenang. Dan sebaliknya, bila manusia banyak bergantung pada pertolongan manusia lainnya, maka siap-siap untuk banyak dikecewakannya.
4. Menguatkan Keesaan Ilahi.
Kunci agar kita mampu menjalin hubungan dengan Allah, maka visi yang perlu ditata ulang lainnya adalah berupa menguatkan keesaan ilahi dengan ikhlas dan suci dalam segala sisi kehidupan. Lakukanlah sadaran hidup setiap muslim hanya kepada-Nya dan berusahalah semaksimal mungkin untuk menjauhi segala sesuatu yang dimurkai-Nya.
Hablum Minannas
Dalam rangka menguatkan ukhuwwah yang bersifat horizontal, maka mulai pada hari yang fitri (suci) ini, setiap muslim dianjurkan untuk bersilaturahmi menggalang hubungan harmonis, saling memaafkan dan berusaha mewujudkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing.
1. Menggalang Hubungan Harmonis.
Pada hari yang suci adalah saat yang tepat bagi tiap muslim untuk menata ulang (baca: evaluasi diri) terhadap kuantitas dan kualitas ikatan-ikatan yang telah terbina diantara umat selama ini. Karena umat ini akan bangkit dan menjadi kuat, manakala di antara muslim yang satu dengan muslim lainnya saling bersinergi menggalang hubungan bermuamalah secara harmonis. Itulah dasar kekuatan umat yang tiada bandingnya.
2. Saling Memaafkan.
Setiap manusia, tentu tidak terlepas dari suatu kekurangan, kesalahan dan kekhilafan terhadap manusia lainnya. Sehingga sangat tepat apabila momentum Idul Fitri (kembali kesucian) dijadikan oleh setiap muslim untuk menata kembali aktivitas hati dan perilaku pintu maaf kita.
Bukankah perilaku saling memaafkan antara manusia ini merupakan kunci pembuka dari diterimanya permintaan maaf dan ampunan dari Allah? Artinya Allah akan menerima permintaan taubat, maaf dari kita kepada orang lain yang pernah disakiti, kuncinya adalah manakala orang yang pernah tersakiti itu telah menerima permohonan maaf kita. Bila hal ini belum terlaksana, maka sepanjang itu pula Allah belum menerima permohonan maaf dan ampunan kita.
3. Mewujudkan Nilai Kesetiakawanan Sosial.
Adanya usaha mewujudkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial ini, tentu harus benar-benar menjadi visi setiap umat muslim. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar tidak terjadi kesenjangan sosial di antara umat itu sendiri. Dalam hal ini, bukankah umat Islam itu bagaikan satu tubuh?
Adapun aksi yang harus bisa kita lakukan, terutama dengan cara menyantuni fakir miskin dan kaum dhu’afa. Yakni dengan jalan menunaikan zakat mal (harta) dan zakat fitrah serta membantu terhadap mereka yang membutuhkan melalui amal jariah/ sedekah. Perbuatan demikian, dimaksudkan tidak lain sebagai salah satu jalan dalam memeratakan rezki dan pendapatan di antara umat muslim (baca: perekonomian umat).
Akhirnya dengan melakukan tata ulang terhadap visi umat Islam dalam hal-hal tersebut, maka diharapkan nantinya akan tercipta suatu pola kehidupan harmonis dalam segala sisi perjalanan hidup manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
DALAM suatu penelitian terhadap orang-orang sukses yang dilakukan oleh para ahli diungkapkan bahwa untuk menggapai tampuk kesuksesan, dalam diri orang itu ditemukan dua ciri yang membuat seseorang itu tangguh, melesat, berprestasi, dan membawa manfaat besar bagi banyak orang. Pertama, memiliki tujuan dan visi yang jelas yang harus ditempuhnya. Kedua, dia sanggup berkorban untuk meraih apa yang dia jadikan visi dalam hidupnya.
Untuk itu, dalam menyikapi dan merayakan hari raya Idul Fitri, setelahnya kita puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka ada yang mesti kita kedepankan untuk menata ulang setiap visi umat Islam dalam menyikapi hari-hari berikutnya. Nabi Saw berpesan kepada kita agar menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Prinsip ini hendaknya telah terhujam dalam perilaku perencanaan hidup dan penentuan visi hidup setiap umat muslim. Lagian, Allah SWT telah memperingatkan kepada kita dalam QS. Ar-Ra’d (13): 11, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Dalam menyikapi dan mengawali kondisi manusia yang fitri (suci) seperti seorang bayi tersebut, maka kita harus menempuh dan mengisinya sesuai dengan fitrah manusia dan hidup bermasyarakat itu sendiri. Artinya ada dua kepentingan yang harus kita tata ulang dalam mewujudkan visi umat sesuai dengan Islam. Pertama, dengan jalan meningkatkan hubungan yang bersifat vertikal dengan Allah SWT (hablum minallah). Kedua, dengan cara meningkatkan hubungan yang bersifat horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).
Hablum Minallah
Dalam rangka meningkatkan hubungan dengan Allah, maka kita bisa belajar dan melihat seperti bagaimana seorang muslim diajarkan di saat sekitar momentum Idul Fitri, yaitu kaum muslim mengumandangkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil. Yaitu Allahu Akbar, wa lillahil hamd, wa la ilaha illallah (Allah Mahabesar, puja dan puji adalah milik-Nya, dan tidak ada Tuhan kecuali Dia).
Berikut ini ada beberapa visi umat yang perlu ditata ulang berkait dengan hubungan yang bersifat vertikal dengan Allah SWT, diantaranya sebagai berikut.
1. Pengulangan Ikrar.
Aktivitas seperti di atas merupakan salah satu dari manisfestasi pengulangan ikrar kita terhadap Allah. Kita harus yakin betul bahwa Allah Mahabesar. Tidak ada yang lebih kuat dan lebih sempurna di kosmos ini, selain Allah SWT. Inilah visi awal yang mesti terbangun kuat di dalam lubuk hati nurani kita.
2. Membulatkan Tekad.
Dalam hidup ini perlu dikuatkan oleh sebuah tekad. Keberadaan kebulatan tekad pada seseorang, secara psikologis akan membuat ringan langkah hidup dan menjalani segala romantika kehidupannya. Di sini, kebulatan tekad yang utama dan pertama yang perlu ditata ulang oleh tiap umat adalah bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak dihormati dan dipuja.
Selain itu, kita juga secara sadar harus mengakui dari kebulatan tekad ini adalah berupa mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya. Di samping tentunya bagi setiap muslim harus ridha dengan qadha dan qadar-Nya.
3. Meminta Pertolongan Allah.
Manusia itu makhluk lemah dan tidak berdaya, bila tanpa bantuan dari-Nya. Untuk itu, setiap muslim hendaknya hanya bermohon meminta pertolongan kepada Allah semata-mata.
Kita harus sadar betul bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberi pertolongan kepada makhluk-makhluk-Nya. Semakin manusia banyak (hanya) meminta pertolongan kepada Allah, maka hati manusia akan menjadi tenang. Dan sebaliknya, bila manusia banyak bergantung pada pertolongan manusia lainnya, maka siap-siap untuk banyak dikecewakannya.
4. Menguatkan Keesaan Ilahi.
Kunci agar kita mampu menjalin hubungan dengan Allah, maka visi yang perlu ditata ulang lainnya adalah berupa menguatkan keesaan ilahi dengan ikhlas dan suci dalam segala sisi kehidupan. Lakukanlah sadaran hidup setiap muslim hanya kepada-Nya dan berusahalah semaksimal mungkin untuk menjauhi segala sesuatu yang dimurkai-Nya.
Hablum Minannas
Dalam rangka menguatkan ukhuwwah yang bersifat horizontal, maka mulai pada hari yang fitri (suci) ini, setiap muslim dianjurkan untuk bersilaturahmi menggalang hubungan harmonis, saling memaafkan dan berusaha mewujudkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing.
1. Menggalang Hubungan Harmonis.
Pada hari yang suci adalah saat yang tepat bagi tiap muslim untuk menata ulang (baca: evaluasi diri) terhadap kuantitas dan kualitas ikatan-ikatan yang telah terbina diantara umat selama ini. Karena umat ini akan bangkit dan menjadi kuat, manakala di antara muslim yang satu dengan muslim lainnya saling bersinergi menggalang hubungan bermuamalah secara harmonis. Itulah dasar kekuatan umat yang tiada bandingnya.
2. Saling Memaafkan.
Setiap manusia, tentu tidak terlepas dari suatu kekurangan, kesalahan dan kekhilafan terhadap manusia lainnya. Sehingga sangat tepat apabila momentum Idul Fitri (kembali kesucian) dijadikan oleh setiap muslim untuk menata kembali aktivitas hati dan perilaku pintu maaf kita.
Bukankah perilaku saling memaafkan antara manusia ini merupakan kunci pembuka dari diterimanya permintaan maaf dan ampunan dari Allah? Artinya Allah akan menerima permintaan taubat, maaf dari kita kepada orang lain yang pernah disakiti, kuncinya adalah manakala orang yang pernah tersakiti itu telah menerima permohonan maaf kita. Bila hal ini belum terlaksana, maka sepanjang itu pula Allah belum menerima permohonan maaf dan ampunan kita.
3. Mewujudkan Nilai Kesetiakawanan Sosial.
Adanya usaha mewujudkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial ini, tentu harus benar-benar menjadi visi setiap umat muslim. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar tidak terjadi kesenjangan sosial di antara umat itu sendiri. Dalam hal ini, bukankah umat Islam itu bagaikan satu tubuh?
Adapun aksi yang harus bisa kita lakukan, terutama dengan cara menyantuni fakir miskin dan kaum dhu’afa. Yakni dengan jalan menunaikan zakat mal (harta) dan zakat fitrah serta membantu terhadap mereka yang membutuhkan melalui amal jariah/ sedekah. Perbuatan demikian, dimaksudkan tidak lain sebagai salah satu jalan dalam memeratakan rezki dan pendapatan di antara umat muslim (baca: perekonomian umat).
Akhirnya dengan melakukan tata ulang terhadap visi umat Islam dalam hal-hal tersebut, maka diharapkan nantinya akan tercipta suatu pola kehidupan harmonis dalam segala sisi perjalanan hidup manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Label:
Inspirasi Sukses,
Inspiring,
MIQRA NEWS
Subscribe to:
Comments (Atom)
|
BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA: | PULSA KEKAYAAN GRATIS | Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy| | ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia | |
|
MENU ARDA EKLIPING INDONESIA: | BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN | |
|
MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA: | Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis | |
|
MENU ARDA PENULIS SUKSES: | Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis | |
|
MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG: | Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 | |
|
MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN: | Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan | |
|
MIQRA INDONESIA GROUP Kantor Pusat: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396 Telp. (0265) 630058 Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia, Email : miqra_indo@yahoo.co.id Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/ Design by Arda Dinata, Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia |