Kita Bukan Orang Gagal
| Kita Bukan Orang Gagal Meskipun pendidikan di sekolah telah gagal mencetak kita menjadi penulis, kita bukanlah orang gagal. Masih ada waktu menempa diri dengan kemampuan menulis—termasuk kemampuan penting pada abad informasi ini. Jikalau saat ini dunia internet memungkinkan kita memiliki fasilitas web pribadi, blog pribadi, bahkan sebuah ruang pribadi bernama friendster atau facebook, apakah Anda bisa mengekspresikan pikiran serta kemampuan Anda tanpa tulisan? Anda benar-benar butuh kemampuan menulis kalau tidak ingin menghadapi banyak kegagalan dalam ekspresi, kreasi, maupun inovasi. Ini baru namanya the dream comes true …. Anda harus memewujudkannya setelah dibangunkan dari tidur lelap bahwa menulis buku itu sulit. Ingat sekali lagi: tidak gampang, tetapi taktis. Tidak sulit, tetapi penuh tekad dan perjuangan. Anda bukan orang gagal, Anda pasti bisa menulis buku. Menulis adalah Seni Menulis adalah seni. Karena itu, kemampuan menulis kerap juga dikaitkan dengan kemampuan sastrawi. Dalam dunia sastra dikenal prinsip dulce et utile yang bermakna indah dan berguna. Karya sastra hendaknya memenuhi prinsip sebagai seni yang indah dan berguna. Ekspresi penulis dengan merangkai atau menganyam kata menjadi sesuatu yang bermakna dari mulai ringan, gamblang, hingga mendalam dapat dikategorikan sebagai ekspresi seni. Ekspresi seni kata-kata ini kalau dikaitkan dalam 8 teori multikecerdasan (multiple intelegences) Howard Gardner masuk dalam kategori kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik ini bisa berkembang sejak kecil sebagai kapasitas berlebih yang dimiliki seorang anak. Karena itu, kita tidak perlu heran jika ada anak masih berusia tujuh atau delapan tahun sudah bisa menulis cerita pendek, bahkan menulis buku! Lebih jauh jika kita masuk pada konsep Neuro Linguistic Programming (Pemograman kata-kata dalam sistem syaraf) yang diperkenalkan Dr. Richard Bandler dan John Grinder pada tahun 1970-an, kita pun menemukan kaitan menulis sebagai seni sekaligus keterampilan hidup. NLP secara ringkasnya menyatakan bahwa apa pun yang masuk ke dalam tubuh seseorang, baik secara verbal maupun non-verbal (baik oleh diri sendiri maupun orang lain), akan menjadi program di dalam syaraf seseorang. Dengan kata lain, sebenarnya perilaku manusia adalah hasil aktivasi dari kebiasaan (habits) atau program yang ada di otak seseorang. Misalnya, jikalau seseorang selalu gagal menulis, lalu kemudian dia berpikiran dalam benaknya sebuah kalimat: "Saya tidak bisa menulis." Kata-kata itu yang secara berulang dipikirkan dan diucapkan akan terprogram menjadi sebuah sifat atau karakter sehingga orang tersebut memang benar-benar tidak bisa menulis sepanjang hidupnya, kecuali dilakukan pemograman ulang. Karena itu, NLP dapat digunakan untuk memprogram ulang (reprogramming) sebagai terapi atau konseling mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik. NLP berasumsi bahwa content mengikut struktur dan bukan sebaliknya—mirip dengan menulis buku bahwa content mengikut outline (kerangka karangan). NLP sendiri karena menggunakan bahasa atau kata-kata dalam praktiknya bagi saya adalah seni programming bahasa seperti halnya menulis (seni merangkai dan menganyam kata). Alhasil, saya pun beranggapan bahwa menulis termasuk sarana mengaktifkan atau mempraktikkan NLP. Namun, buku ini bukan hendak membahas teori atau praktik NLP lewat menulis meskipun pada satu subbab saya coba mengungkap proses kreatif hynoptic writing ala Joe Vitalae. Saya hanya ingin menunjukkan kekuatan menulis sebagai seni (indah dan berguna) yang memiliki kekuatan atau daya ubah bagi seseorang—baik penulisnya maupun pembaca. (Dikutip dari subbab "Taktis Menulis dan Menerbitan Buku" karya Bambang Trim. Terbit segera Februari 2009, Lini Maximalis--imprint Salamadani) Inginkah Anda memilikinya? Diskon 50% jika Anda mengikuti Training Taktis Menulis Buku pada 7 Maret 2009, di Hotel Vue Pallace, Bandung. Don't miss it! |
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!