Social Icons

31 July 2008

Medical Practice Solutions

Medical Practice Solutions

Practical tools, services, and advice for running an efficient and profitable medical office

Watching Medicare
Why you should never, ever submit a claim at a discounted rate. Read More »

Cardiologists Need IT Solutions as Flexible as They Are
Information technology is catching up to cardiologists' needs, with solutions being developed for inpatient and outpatient uses. Read More »

Telehealth Technologies Could Save More Than $4 Billion
Report finds the benefits of implementing a telehealth system outweigh the costs. Read More »

For Doctors, Financial Health Comes Second to Patient Health
The people in the business of diagnosing disease and bandaging bumps are rarely in it for the money. Read More »

Business Solutions

Business Solutions
AllBusiness is excited to announce our new ?Ask the Experts? podcasts! Submit your burning questions to our resident business experts and hear their responses on their weekly podcast show.


How are SMBs going to survive the recession? What trends should every small business owner watch? Rieva Lesonsky, former editorial director at Entrepreneur magazine, answers your questions about the state of small business today.

Million-mile business traveler Ken Walker addresses this and other questions on his "Ask the Expert" audio show. Find out how he stays safe and sane while traveling like crazy for work.


Hear Keith Rosen talk about how to motivate a sales team in a tough economy. Also, send him your questions about sales management and selling strategies.


Business expert Rieva Lesonsky answers reader questions about the best policies for workplace attire.

AllBusiness Bloggers
Read our experts' blogs: Ken Walker writes about business travel on Traveling Business Class; Rieva Lesonsky writes The Small Business Blog; and Keith Rosen blogs as The Executive Sales Coach.

Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang

Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang
Oleh ARDA DINATA
http://ardaiq.blogspot.com

MEMASUKI MUSIM HUJAN INI, PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) KEMBALI MENEBARKAN ANCAMAN KEPADA MASYARAKAT. ANCAMAN TERSEBUT SEOLAH KIAN MENAMBAH RASA KHAWATIR DAN TAKUT MASYARAKAT YANG PADA SAAT BERSAMAAN JUGA DIBUAT TERCEKAM OLEH ANCAMAN TAK KALAH MENAKUTKAN DARI PENYAKIT FLU BURUNG, MALARIA, FILARIASIS, DAN BEBERAPA PENYAKIT LAIN YANG BERSUMBER BINATANG. BAGAIMANA SEBENARNYA PROSES TERJADINYA PENYAKIT-PENYAKIT TERSEBUT PADA MANUSIA?

TERKAIT DENGAN PROSES TERJADINYA PENYAKIT PADA MANUSIA, JOHN GORDON TELAH MEMODELKAN TERJADINYA PENYAKIT ITU SEPERTI SEBATANG PENGUNGKIT YANG MEMILIKI TITIK TUMPU DI TENGAH-TENGAHNYA. PADA KEDUA UJUNGNYA TERDAPAT PEMBERAT, YAITU A (AGENT ATAU PENYEBAB PENYAKIT) DAN H (HOST ATAU POPULASI BERISIKO TINGGI), YANG BERTUMPU PADA E (ENVIRONMENT ATAU LINGKUNGAN).

MENURUT GORDON, IDEALNYA TERDAPAT KESEIMBANGAN ANTARA A DAN H YANG BERTUMPU PADA E, YANG DIGAMBARKAN SEBAGAI KONDISI SEHAT. MASALAHNYA, KONDISI SEPERTI INI TENTU TIDAK SELALU TERJADI. ADA KALANYA YANG TERJADI ADALAH EMPAT KONDISI DALAM KATEGORI SAKIT. HAL INI DIAKIBATKAN OLEH ADANYA BERBAGAI KONDISI.

PERTAMA, BEBAN AGENT MEMBERATKAN KESEIMBANGAN SEHINGGA BATANG PENGUNGKIT CONDONG KE ARAH AGENT. HAL INI BERARTI AGENT MEMPEROLEH KEMUDAHAN-KEMUDAHAN UNTUK MENYEBABKAN SAKIT PADA HOST. KEDUA, APABILA HOST MEMBERATKAN KESEIMBANGAN SEHINGGA BATANG PENGUNGKIT CONDONG KE ARAH HOST. KONDISI SEPERTI INI TENTU DAPAT TERJADI JIKA HOST MENJADI LEBIH PEKA TERHADAP SUATU PENYAKIT.

KETIGA, KETIDAKSEIMBANGAN TERJADI AKIBAT BERGESERNYA TITIK TUMPU DI ENVIRONMENT (LINGKUNGAN). HAL INI MENGGAMBARKAN KALAU KONDISI LINGKUNGAN TERSEBUT TELAH SEDEMIKIAN BURUKNYA, SEHINGGA MEMENGARUHI AGENT, DAN MENJADIKANNYA LEBIH GANAS ATAU LEBIH MUDAH MASUK KE DALAM TUBUH MANUSIA. KEEMPAT, KONDISINYA MIRIP KONDISI KEDUA, YAKNI KUALITAS LINGKUNGAN TERGANGGU SEHINGGA PENGUNGKIT CONDONG KE ARAH HOST. DALAM HAL INI, HOST MENJADI LEBIH PEKA OLEH KUALITAS LINGKUNGAN TERTENTU.

SISTEM PENULARAN

SELAIN PENGETAHUAN TENTANG PROSES TERJADINYA SUATU PENYAKIT, KITA JUGA PERLU MEMAHAMI BAGAIMANA SUATU PENYAKIT ITU DAPAT MENULAR KEPADA ORANG LAIN. DALAM TULISAN INI, PENULIS MENCOBA FOKUSKAN PADA PENULARAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG. MENYANGKUT SISTEM PENULARAN INI, KITA TAHU BAHWA DI ALAM PERPUTARAN PENYAKIT (PATOGEN) TERJADI ANTARA MANUSIA PENDERITA, PENYAKIT, DAN VEKTOR. DAN KALAU ADA INANG RESERVOIR IKUT BERPERAN, SELAIN PERPUTARAN TERSEBUT, JUGA ADA PERPUTARAN ANTARA INANG RESERVOIR DENGAN VEKTOR.

DALAM HAL INI, MENYANGKUT SISTEM TERSEBUT, MENURUT SINGGIH H. SIGIT (2006), DARI BAGIAN PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI KESEHATAN FKH IPB, SEBENARNYA TERDAPAT LIMA SUBSISTEM. PERTAMA, HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PATOGEN DAN RESERVOIR. KEDUA, HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA VEKTOR DAN RESERVOIR. KETIGA, HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PATOGEN DAN VEKTOR. KEEMPAT, HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA VEKTOR DAN MANUSIA. KELIMA, HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PATOGEN DAN MANUSIA. LEBIH JAUH, DIUNGKAPKAN SIGIT, DI DALAM MASING-MASING SUBSISTEM ITU BIOEKOLOGI MEMAINKAN PERANAN MENENTUKAN. BIOEKOLOGI SANGAT INSTRUMENTAL MENJAWAB BERBAGAI PERTANYAAN MENYANGKUT HUBUNGAN TIMBAL BALIK ITU.

STRATEGI PENGENDALIAN

DALAM UPAYA MENANGGULANGI SUATU PENYAKIT BERSUMBER BINATANG, POLA OPERASIONAL PENGENDALIANNYA HARUS DILANDASI STARTEGI YANG TEPAT. OLEH KARENA ITU, DIPERLUKAN PENGETAHUAN YANG HARUS BETUL-BETUL DIPAHAMI TENTANG PRINSIP DASAR TERJADINYA PENYAKIT DAN BAGAIMANA CARA PENULARANNYA.

APLIKASI DARI MODEL GORDON DI ATAS, SESUNGGUHNYA HAL ITU SANGAT BERGUNA BUKAN HANYA DAPAT MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG TERJADINYA SUATU PENYAKIT, TETAPI JUGA DAPAT MENJADI ACUAN UNTUK MENCARI SOLUSI BAGI KONDISI ATAU PERMASALAHAN YANG ADA. ALASANNYA, PENANGGULANGAN/PENGENDALIAN SUATU PENYAKIT (PENYAKIT MENULAR), DAPAT BERUPA PEMBERATAN PADA PENYEBAB (AGENT), MENINGKATKAN DAYA TAHAN SERTA KEKEBALAN PENJAMU ATAU MANUSIA (HOST), SERTA MEMPERBAIKI KONDISI LINGKUNGAN (ENVIRONMENT).

AKHIRNYA, MENURUT SIGIT, STRATEGI PENGENDALIAN SUATU PENYAKIT BERSUMBER BINATANG SEYOGIANYA DIDASARI DUA HAL UTAMA. PERTAMA, EPIDEMIOLOGI PENYAKIT YANG MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG POLA KEJADIAN PENYAKIT DALAM POPULASI DAN WILAYAH TERTENTU. KEDUA, TITIK RAWAN DALAM KEHIDUPAN VEKTOR DAN RESERVOIR-NYA YANG DAPAT MEMADUKAN KITA MELAKUKAN TINDAKAN PENGENDALIAN YANG EFEKTIF.***

Arda DinataTeknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes.

Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Bandung edisi: 22 Februari 2007.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Pemberantasan Penyakit : http://ardap2b2.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://ardapenulis.blogspot.com

Jurus mencegah penyakit jantung

Jurus mencegah penyakit jantung
Oleh Arda Dinata
http://ardaiq.blogspot.com
Pemerhati masalah kesehatan dan dosen AKL Kutamaya, Bandung.

Jantung adalah alat vital manusia yang sering kali kurang diperhatikan, bila dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Padahal, kalau kita perhatikan, jantung ini berperan dalam kelangsungan hidup manusia.

Jantung manusia dapat diibaratkan sebagai “pompa ajaib”. Alat ini berukuran relatif kecil, kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di atasnyalah nyawa manusia bergantung. Lalu, jantung manusia memiliki berat hanya 10 ons. Setiap kali berdenyut memompa 70 mililiter darah, setiap menit berdenyut 72 kali, selama 70 tahun memompa 2,5 miliar kali atau 2.628.000 liter darah.

Pada setiap kali denyutannya itu, darah selalu mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah selama 24 jam sehari dengan tidak mengenal kata berhenti. Pasalnya, sekali digerakkan --pada awal kehidupan– buat menjalankan fungsinya memompa darah sepanjang hidup manusia, ia hanya berhenti diantara debar ketika bekerja pada waktu menguncup, hingga ia berhenti untuk selama-lamanya.

Secara demikian, seharusnya kita sadar betul atas kondisi jantung yang kita miliki. Salah satu yang mesti dilakukan adalah memberikan perhatian terhadap kerja tubuh dengan kemampuan jantung kita masing-masing. Yaitu dua kali untuk istirahat dibandingkan dengan pekerjaan keras yang dilakukan tubuh kita. Diantaranya, delapan jam buat bekerja, delapan jam buat tidur, dan delapan jam buat makan serta kegiatan bersenang, akan mencukupkan tuntutan tersebut.

Berkait dengan jantung ini, sebenarnya bagaimana kondisi penyakit jantung di Indonesia? Lalu, petunjuk apa yang harus diketahui dalam rangka menjaga jantung kita dan bagaimana jurus-jurus untuk mencegah serangan penyakit jantung tersebut?

Kodisi penyakit jantung

Penyakit jantung saat ini telah menjadi penyebab kematian utama, karena 15 juta orang ternyata telah meninggal akibat serangan jantung atau sama dengan 30 persen dari total kematian diseluruh dunia.

Penyakit kardiovaskuler -–semua penyakit mengenai jantung dan pembuluh darah— ini, ternyata sudah menjadi penyebab kematian terpenting. Berdasarkan jumlah total tersebut, lebih dari 15 juta orang di dunia meninggal karena penyakit sirkulasi darah, 7,2 juta akibat penyakit jantung koroner (PJK), 4,6 juta orang karena stroke, 500 ribu disebabkan demam rematik dan penyakit jantung rematik, serta 3 juta karena penyakit jantung lainnya.

Perkembangan penyakit jantung dan pembuluh darah di negara-negara berkembang telah meningkat dengan tajam. Penyakit jantung di Indonesia sendiri, kondisinya harus diwaspadai oleh setiap kalangan.

Pasalnya, dari acara pertemuan ilmiah tahunan ke-I Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) Cabang Bandung, diungkap bahwa sekarang ini penderita jantung koroner sudah menimpa golongan ekonomi kecil seperti tukang beca, disebabkan kebiasaan merokok. Padahal sebelumnya penderita penyakit jantung koroner menyerang kalangan ekonomi menengah ke atas yang memiliki gaya hidup dengan mengkonsumsi makanan yang enak-enak, rendah serat dan kurang olah raga.

Atas dasar itu, diperkirakan di seluruh dunia, termasuk negara berkembang, PJK akan menjadi penyebab kematian terpenting pada tahun 2020. Hal ini sudah terlihat di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 kematian oleh penyakit kardiovaskuler ialah 9,7%, angka ini meningkat menjadi 16,4% pada tahun 1992 dan meningkat lagi menjadi 24,5% pada tahun 1995. Artinya sejak tahun 1992 penyakit ini telah menjadi sebab kematian utama mengungguli penyakit infeksi dan penyakit paru-paru.

Panca usaha jantung sehat

Memelihara dan menjaga kesehatan lebih murah daripada usaha mengobati dan penyembuhan suatu penyakit. Demikian slogan yang telah lama kita dengar, tetapi kadangkala kurang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan kasus penyakit jantung ---yang disebabkan perubahan pola hidup yang kurang baik--- ini. Ternyata, banyak orang yang mengabaikan mencegah dan menjaga terjadinya penyakit jantung. Padahal, kalau penyakit ini telah menghinggapi dan menyerang tubuh kita, maka tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.

Lebih dari itu, penyakit ini bisa menyerang sewaktu-waktu secara mendadak. Sehingga tidak heran banyak kasus kematian yang menyebutkan, “…. Padahal si A kemarin masih kelihatan segar dan sempat berbincang-bincang dengan saya, eh … tahu-tahu satu jam kemudian ia telah meninggal dunia,” demikian keheranan seseorang atas fenomena penyakit jantung ini. Usut punya usut, ia mendapatkan serangan jantung yang telah dideritanya selama ini.

Untuk itu, apakah anda termasuk orang yang menyayangi dan mengharapkan keadaan jantung yang baik dan sehat? Berikut ini ada beberapa petunjuk dan jurus untuk menjaga jantung agar dalam kondisi baik dan sehat.

Dalam nasehatnya, dr J Dewitt Fox, MD, LMCC, mengungkapkan untuk mencapai kondisi jantung yang baik. Pertama, jangan tergesa-gesa. Kedua, jangan makan berat sebelah (tidak seimbang). Janganlah terlalu gemuk. Ketiga, hindarkan keluh kesah. Keempat, jangan bekerja terlalu keras. Kepenatan selalu dapat membunuh anda.

Selain petunjuk-petunjuk di atas, ada baiknya kita juga mengetahui dan kemudian mempraktikkannya dalam hidup keseharian, berkait dengan jurus-jurus mencegah penyakit jantung ini.

Untuk mencegah penyakit yang lebih banyak menyerang kaum pria dibanding wanita ini, dalam bahasa lain, Dr. Aulia Sani memberi jurus dalam mencegah serangan jantung ini, dengan istilah “Panca Usaha Jantung Sehat”. Yakni pertama, faktor keseimbangan gizi. Kedua, upaya menghindari stres. Ketiga, mengatur tekanan darah. Keempat, melakukan olah raga secara teratur. Kelima, menghentikan kebiasaan merokok. Berhenti menghisap rokok merupakan upaya utama yang harus dilakukan bila serangan jantung ini ingin dicegah.

Akhirnya, membiasakan hidup sehat dalam setiap hari, tetap berpulang pada individu masing-masing. Begitu juga dengan keinginan untuk menjaga kesehatan jantung kita. Hal ini seperti diamanatkan UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal (3) bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.***

*) Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik “Health Journalist Award 2001”.

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

30 July 2008

Blog Make Money Online and Best Articles

You have created a blog and your blog is dedicated to a niche industry. Have you ever thought that the blog could make money for you? We would look here in this article, ways and means, to make money blogging. Lets first have a look at what are the prerequisites for a blog needed to make money:


Best Articles about Making Money Online, Work at Home and Success Entrepreneur
How to Choose a Bank for your Small Home Business Loan
Small Home Business: Unique Free Advertising For Small Business Owner
Small Business Software : What Software Do You Need For Your Small Business
Small Business Software : Banking Software: Do You Need It?
STARTING A BUSINESS? WHAT NEW (AND EXISTING) BUSINESS OWNERS SHOULD KNOW
5 Quickest Ways To Massive Windfalls Of Cash Online
5 keys to making money online
Blog Money : Make Money Blogging
Google Adwords: Here is why it can explode your business
10 Work at Home Niches You Can Use Today
Would You Like To Make Money At Home, Make Money Online - On the Internet?
Business Plans- What Consultants Don’t tell You!http://wisdombusiness.blogspot.com/
9 things you must do to maximize your chances of obtaining a small business loan
20 Small Business Tips, For Success
5 Powerful Ways to Make Money Online with a Website
9 Ways to Make Money On-line

Making Money with Niche Websites
How To Make Money With Articles Directory
Income Ideas and Money Making Magic : Affiliate
You Can Make Money With Ebook
Make Money at Home - Learn the Secrets Before Starting
How to Start Your Home Based Business and Quit Your Day Job
Business Plans - What Do They Include?
Applying for a Loan

Money from Selling Advertising

Money from Selling Advertising

If you would observe the company that delivers the daily paper to your doorstep for a business case study, you will come to learn that the newspaper publisher hires reporters, writers and other important staff to create the contents and deliver the papers to their readers.

In addition to the above mention, the publisher has to invest regularly in heavy duty machineries and tons of papers in printing tons of newspapers on a daily basis.

And in order to ensure that the newspapers are delivered on time, the publisher appoints agents at every part of the covered territory.

So, how does the newspaper company make money? It is obvious that selling a copy of the papers at less than a dollar would not even be able to even fund the operations.

The answer? Selling advertising spaces! You have definitely seen lots of advertisements in the newspaper. The publisher simply sells advertising space in the papers to advertisers who want to leverage their advertising efforts on the paper’s high readership.

On the same analogy, you can make money the exact way from your newsletter: simply by selling advertising space to prospective advertisers!

If your mailing list size exceeds 1,000 (5,000 is recommended) subscribers and beyond, you can start selling advertising space for say, $10.00 per sponsor ad.

In this manner, you turn every issue you send out to your subscribers into a profit-pulling device. And since there is virtually no end to the stream of advertisers as products, services and businesses are cropping every single day in every industry imaginable, so are your money making opportunities.

PAUD: Wadah Mengelola Masa Keemasan Anak

Wadah Mengelola Masa Keemasan Anak
Oleh Arda Dinata
http://paudnews.blogspot.com

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.

Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.
Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.
Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).
Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?

Layanan PAUD
Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.
Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).
Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.
Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).
Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.
Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.

Pengembangan PAUD
Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.
Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.
Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.
Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.
Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.
Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.
Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.

Strategi Peningkatan Akses
Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.
Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.
Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya, memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.
Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.
Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.
Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.
Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.
Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.
Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.
Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.
Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.
Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.
Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.
Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menjadi wadah dalam mengelola masa keemasan anak, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Wallahu’alam.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqra.blogspot.com.

28 July 2008

Koalisi Hati Sebagai Tunas Perdamaian
Oleh: Arda Dinata
http://ardaiq.blogspot.com

BERITA wafatnya Rasulullah Saw., menorehkan rasa kesedihan teramat berat bagi para sahabat, umat, dan keluarga tercinta. Atau siapa pun yang telah dengan setia dan sepenuh hati hidup bersamanya. Namun, apa yang dilakukan Umar bin Khatab berbeda dengan sahabat lainnya. Umar masih terus berbicara lantang pada orang-orang di sekitar masjid. “Barangsiapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah mati akan berhadapan dengan pedangku ini! Rasulullah belum wafat! Ia sedang menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa selama empat puluh hari menemui Rabb-Nya!” teriaknya.

Mendengar suara Umar tersebut, Abu Bakar keluar dari bilik Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Tunggu sebentar, wahai Umar!” panggilnya dengan nada tinggi. Namun, Umar bin Khatab tidak menggubris teguran sahabatnya. Ia terus berbicara lantang.

Lalu, Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan dengan lantang berpidato, “Wahai sekalian manusia. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup dan tidak mati.” Selanjutnya, Abu Bakar membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran: 144, yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun.”

Pokoknya, tersebarnya berita kematian Rasulullah itu memang menggemparkan kaumnya. Kaum Anshar mendatangi Sa’ad bin Ubadah, berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah di rumah Fathimah. Sementara itu, kaum Muhajirin berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan bersama Usaid bin Hudhair di daerah perkampungan Bani Asyhal.

Pada waktu itulah, ada seseorang menemui Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Ia mengatakan, “Kaum Anshar telah berkumpul dengan Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Saidah. Bila engkau berkepentingan dengan urusan mereka, segera temuilah orang-orang itu sebelum semuanya menjadi kacau,” katanya. Sejurus kemudian, Umar berkata kepada Abu Bakar, “Mari kita temui saudara kita kaum Anshar, agar kita bisa melihat apa yang mereka lakukan.”

Ketika Abu Bakar dan Umar tiba di Saqifah Bani Saidah, sebenarnya orang-orang kaum Anshar ini sudah meminta agar kaum Anshar dan Muhajirin mengangkat pemimpinnya masing-masing. Namun akhirnya, kemelut siapa yang menjadi pemimpin di antara dua golongan itu bisa diatasi dengan baik, setelah kedatangan Umar dan Abu Bakar.

Gagasan adanya dua pemimpin itu ditolak. Umar maju memegang tangan Abu Bakar, lantas membaiatnya. Tidak lama kemudian, para sahabat yang hadir pada saat itu secara bergantian membaiatnya. Dan keesokan harinya, orang-orang hadir di Masjid Nabawi dalam baiat umum untuk menyatakan kepada pemimpin mereka yang baru itu.

* *

SEPENGGAL kisah di atas, sesungguhnya telah menuntun kita agar mampu membiasakan diri membangun koalisi hati di tengah-tengah keberagaman umat, lagi penuh aneka warna kehidupan. Seperti tergambar dari kesigapan para sahabat senior itu yang mampu menyatukan aneka kepentingan dari kaum Anshar dan Muhajirin. Dan bisa jadi bila tidak segera diambil keputusan, tentu akan timbul perpecahan yang mendera umat Islam saat itu. Dalam arti lain, kondisi keterpautan hati kedua kepentingan golongan itu, sesungguhnya merupakan sebuah gambaran obsesi kemuliaan dan bagaimana cara memperturutinya. Inilah sesungguhnya sebuah kejujuran akan kedamaian.

Lebih jauh, bila kita tafakuri dalam relung hati yang paling tersembunyi sekali pun, akan ditemui jawaban kejujuran itu. Adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan kehilafan ini. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).

Sehingga pantas Imam Turmudzi mengatakan, “Hidupnya hati karena iman dan kematiannya karena kekufuran. Sehatnya hati karena ketaatan dan sakitnya hati karena terus-menerus mengerjakan kemaksiatan. Kesadarannya hati karena dzikir dan tidurnya hati karena kelengahan.” Jadi, imanlah yang harus menjadi dasar dalam membangun koalisi hati ini. Lebih-lebih realitas kehidupan mengajarkan bahwa sesungguhnya hidup itu dibangun atas keberagaman dalam bingkai “kesatuan keimanan”.

Abu Hamid al-Ghazali mengungkapkan, iman adalah pembenaran dengan hati yang kuat, yang tidak ada keraguan padanya, hingga mencapai derajat yakin. Dan, antitesa iman adalah kufur yang merupakan pembangkangan, pengingkaran, dan pendustaan terhadap Rasulullah dan atas sesuatu yang beliau sampaikan. Sedangkan, iman adalah pembenaran seluruh yang beliau sampaikan dan bentuknya ini bersifat plural sesuai dengan pluralitas tingkat takwil bagi wujud ini.

Di sini, inti yang patut disandarkan dalam perilaku membangun kedamaian hidup adalah tafsir akan kesatuan iman itu tidak berarti kesatuan akan jalan dan perangkat serta teknis yang dipergunakan oleh seorang mukmin dalam menghasilkan keimanan. Aktualisasinya, berarti saat di mana kelompok mukmin dalam kehidupan berbangsa lebih memilih “warna tafsirnya” masing-masing. Maka sesungguhnya, bagi dirinya tidak bisa memungkiri atas kesatuan keimanan yang telah diyakininya. Artinya, ketika usaha mewujudkan kedamaian itu secara fisikal berbeda-beda warna dan ”susah untuk dipersatukan,” maka saat itulah jalan harapan satu-satunya adalah berupa mewujudkan terciptanya “koalisi hati” dalam mengambil keputusan untuk kepentingan umat.

* *

KOALISI hati, adalah kata yang indah dan memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa, bila kita mampu mensinergikannya. Misal, seperti apa yang pernah terjadi di Madinah ketika meletakan bentuk masyarakat Islam pertama setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Disanalah terbentuknya persaudaraan antar kaum mukmin sebagai tonggak pertama untuk menegakkan masyarakat baru. Yaitu dengan mempersatukan mereka ke dalam satu ikatan yang kokoh atas dasar rasa cinta dan kasih sayang, sehingga kaum Anshar (penduduk Madinah) terbuka hatinya dan merelakan rumah tempat tinggalnya dimanfaatkan untuk kepentingan saudara-saudaranya dari Makkah (Muhajirin) walaupun diantara mereka tidak ada hubungan rahim.

Pokoknya, atas dasar kecintaan terhadap saudaranya yang berdasar pada iman dan taqwa tersebut, maka kaum Anshar rela sepenuh hati untuk membantu segala keperluan kaum Muhajirin, sehingga akhirnya mereka bersatu dalam bangunan “masyarakat Islam”.
Jadi, adanya koalisi hati yang dibalut keimanan semacam itu adalah sesuatu yang penting untuk kita kedepankan. Lebih-lebih hal ini diperuntukan untuk kebaikan bersama. Tanpa ada koalisi hati, sesungguhnya tidak mungkin ada perdamaian dalam hidup manusia. Karena, bukankah perdamian itu sendiri merupakan fitrah dari hati manusia?

Sebenarnya, kekuatan koalisi hati tak hanya terletak pada fitrahnya semata-mata. Tapi, lebih dari itu, hati sendiri pada dasarnya merupakan tunas dari kekuatan kedamaian. Dr. Ahmad Faried, menggambarkan bahwa hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Oleh karena itu, semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.

Akhirnya, bisa kita bayangkan betapa luar biasanya bila kekuatan kaum mukmin di Indonesia saat ini mampu dipersatukan melalui “bangunan koalisi hati”? Maka tatanan kedamaian itu, tentu akan menjadi cerita indah tersendiri bagi penduduknya. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk membangun koalisi hati sebagai tunas perdamaian itu, dibutuhkan keahlian dan kapasitas dari orang-orang yang tidak biasa-biasa saja. Dialah sosok manusia yang mampu merealisasikan “bahasa kejujuran” pada hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan penuh kepada Allah, sehingga darinya akan lahir mata air kedamaian yang tidak pernah kering. Pertanyaannya, mau tidak kita mewujudkannya? Wallahu a’lam. [Arda Dinata]. ***

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

27 July 2008

Mengenal Ragam Bahasa Karangan Ilmiah

Mengenal Ragam Bahasa Karangan Ilmiah
Oleh: ARDA DINATA
http://duniawriters.blogspot.com/

PENEGETAHUAN manusia tentang alam itu berbeda-beda, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Hal ini, disebabkan adanya perbedaan dalam cara memperolehnya. Ada yang melalui proses pengenalan sepintas atau alami (disebut pengetahuan); ada yang melalui proses pengenalan secara seksama dan menggunakan cara tertentu yang disebut metode ilmiah atau metode penelitian (inilah yang disebut ilmu). Secara etimologi, makna kedua kata itu (pengetahuan dan ilmu) adalah sama.

Pada dasarnya metode ilmiah menggunakan dua pendekatan, yaitu (1) pendekatan rasional dan (2) pendekatan empiris. Pendekatan rasional berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan kajian data yang diperoleh dari berbagai rujukan (literatur). Pendekatan empiris berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan fakta yang diperoleh dari lapangan atau hasil percobaan (laboratorium). Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu itu merupakan pengetahuan yang sistematis dan diperoleh melalui pendekatan rasional dan empiris.

Manusia sebagai makhluk budaya berusaha melestarikan ilmu yang diperolehnya. Tujuanya ialah khazanah ilmu yang sangat berharga itu dimanfaatkan tidak hanya oleh penemuannya atau sekelompok orang, tetapi dapat dimanfaatkan pula oleh umat manusia, baik manusia kini maupun yang akan datang. Hal ini sesuai dengan salah satu sifat ilmu yaitu universal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibuat dokumen ilmu yang antara lain lazim disebut karya tulis ilmiah (karangan ilmiah).

Jadi, pada hakekatnya karya tulis itu merupakan dokumen tentang segala temuan manusia yang diperoleh dengan metode ilmiah dan disajikan dengan bahasa khas serta ditulis menurut konvensi tertentu. Yang dimaksud dengan bahasa khas ilmiah yaitu bahasa yang ringkas (hemat), jelas, cermat, baku, lugas, denotatif, dan runtun.

Dalam kaitan upaya pemanfaatan ilmu oleh umat manusia secara universal tadi, maka perlu dilakukan penyebarluasan melalui alat komunikasi yang efektif dan efesien. Penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat perlu segera disebarluaskan. Di sinilah arti penting sebuah karya tulis ilmiah.

Adapun karangan ilmiah itu, memiliki beberapa tujuan, antara lain: memeberi penjelasan, memberi komentar atau penilaian, memberi saran, menyampaikan sanggahan, serta membuktikan hipotesa.

Pengertian karangan ilmiah
Karangan ilmiah ialah karya tulis yang memaparkan pendapat, gagasan, tanggapan atau hasil penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keilmuan.

Jenis karangan ilmiah banyak sekali, diantaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Kalaupun jenisnya berbeda-beda, tetapi keempat-empatnya bertolak dari laporan, kemudian diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanyalah dalam kekomplekskannya.

Ciri-ciri karangan ilmiah
Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, antara lain:

Pertama, jelas. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.

Kedua, logis. Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.

Ketiga, lugas. Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.

Keempat, objektif. Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.

Kelima, seksama. Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.

Keenam, sistematis. Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.

Ketujuh, tuntas. Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.

Ragam ilmiah
Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis.

Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut ini.

Pertama, baku. Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.

Kedua, logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.
Contoh: “Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan.”
Ide kalimat di atas tidak logis. Pilihan kata “masalah’, kurang tepat. Pengembangan dakwah mempunyai masalah kendala. Tidak logis apabila masalahnya kita tingkatkan. Kalimat di atas seharusnya “Pengembangan dakwah kita tingkatkan.”

Ketiga, kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Perhatikan contoh di bawah ini:
Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi.
Arti kata kebanyakan relatif, mungkin bisa 5, 6 atau 10 orang. Jadi, dalam tulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kita benahi menjadi Da’i di Gunung Kidul 5 orang lulusan perguruan tinggi, dan yang 3 orang lagi dari lulusan pesantren.

Keempat, tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: “Jamban pesantren yang sudah rusak itu sedang diperbaiki.”

Kalimat tersebut, mempunyai makna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban, atau mungkin juga pesantren.

Kelima, denotatif yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.

Keenam, runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.

Dalam karangan ilmiah, bahasa ragam merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan. Sesuai dengan sifat keilmuannya, bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia), logis, cermat dan sistematis. Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, diantaranya: jelas, logis, lugas, objektif, seksama, sistematis dan tuntas.***

Daftar Pustaka:
1. Dra. Ny. A Subantari R, Drs. Amas Suryadi. Drs. K. Zainal Muttaqin. “Bahasa Indonesia dan Penyusunan Karangan Ilmiah.” Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati, 1998.

2. Drs. Sutedja Sumadipura, Dra. Harmoni Syam. “Mampu Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.” Bandung: 1996.

3. Drs. M.E. Suhendar, M.Pd. “Pengajaran dan ujian Keterampilan Membaca dan Ketrampilan Menulis.”

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

2. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet/ Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

26 July 2008

Menikmati Episode Menunggu Jodoh

Menikmati Episode Menunggu Jodoh
Oleh: ARDA DINATA
Email:
arda.dinata@gmail.com
http://ardaiq.blogspot.com

NIKMAT berarti segala sesuatu pemberian atau karunia (dari Allah), diantaranya berupa kesenangan (hidup). Kesenangan hidup merupakan bagian cerita (yang seakan-akan berdiri sendiri) dalam episode hidup manusia. Dan sebagian kita, memandang nikmat hidup itu, hanya berupa kebahagiaan dan kesenangan semata. Padahal, Allah SWT jelas-jelas menegaskan dalam Alquran bahwa sesuatu apapun yang diberikan-Nya itu adalah kenikmatan hidup di dunia (baca: QS. 42:36).

Betapa kasihannya bagi orang-orang yang kurang iman dan ilmu. Sehingga, hari demi hari yang dilalui dalam hidupnya selalu diliputi kesengsaraan yang datang silih berganti. Kecemasan dan kegelisahan merupakan salah satu indikasi hati manusia jauh dari ketentraman –membuat nikmat yang ada tidak lagi dirasakan sebagai nikmat--.

Kita sependapat kalau dalam hidup ini begitu banyak hal yang tidak diinginkan, tiba-tiba datang menimpa. Permasalahannya, karena kita belum tahu ilmunya, perasaan pun semakin tertekan dan dapat ditebak akan berujung pada penderitaan. Tapi, bagi orang beriman dan tahu ilmunya, tentu hal itu akan diresponya secara bijaksana. Tepatnya, baginya setiap episode hidup selalu diposisikan untuk ibadah. Yakni apabila memperoleh kebahagiaan, dia bersyukur dan sebaliknya jika kesusahan menimpanya, dia bersabar dan tawakkal lagi berusaha menyempurnakan ikhtiar.

Menunggu Jodoh

Jodoh berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju (hatinya dsb). Berkait dengan ini, Allah berfirman dalam QS. Ar Ruum: 21, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.”

Ayat di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (baca: jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.

Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?

Betapa banyaknya, dikalangan Muslim dan Muslimah yang tidak maksimal menikmati menunggu jodoh dengan melakukan hal-hal yang dapat mendukung dalam pembangunan keluarga sakinah yang akan dibentuknya dikemudian hari. Padahal, begitu banyaknya sisi-sisi keilmuan dan keteladanan yang perlu disusun membentuk bongkahan benteng yang siap menghadang serbuan virus-virus penyebar kebusukan dalam ikatan keluarga kita.

Episode menunggu jodoh, juga bukan berarti kita dengan seenaknya menikmati masa-masa itu dengan tergelincir dan tergoda oleh nafsu yang ada dalam dirinya, sehingga melanggar atau menjauh dari syariat yang diwajibkan-Nya. Yakni, pria maupun wanita hendaknya melalui episode menunggu jodoh –masa remajanya—dengan selalu waspada terhadap segala goda dan ujian setan. Rasulullah bersabda, “Wahai pemuda, barangsiapa diantara kamu sanggup membayar mas kawin dan memberi nafkah, hendaklah kawin, karena perkawinan dapat memelihara dirimu. Pemuda yang tidak sanggup kawin hendaklah berpuasa. Puasa itu dapat mematahkan syahwatnya.” (HR. Bukhari).

Berikut ini, hal-hal yang perlu dinikmati dalam episode menunggu jodoh sebagai peletak dasar dalam mempersiapkan bangunan keluarga sakinah. (1) Menikmati dalam membekali diri dengan ilmu-ilmu yang diperlukan/berkait dalam berumah tangga. Kebanyakan dari kita merasa kurang sekali dalam pembekalan yang satu ini. Padahal, ilmu sungguh merupakan modal kesuksesan yang patut kita kedepankan dalam hidup ini –termasuk dalam membangun rumah tangga--. Bukankah hal itu, bisa kita lakukan bila kita telah menikah? Ya, tindakan ini pun tidak salah. Tapi, alangkah tepat dan nikmatnya seandainya ilmu yang berkaitan dengan kerumah tanggaan itu sudah kita miliki jauh-jauh hari sebelum masa perkawinan. Dan tentu, hasilnya akan jauh lebih baik.

Selain itu, bukankah ada sebuah kewajiban maupun kebajikan dalam pernikahan yang menuntut kita untuk memiliki ilmunya, sehingga kita bisa melaksanakan dengan baik dan tidak menyimpang. Misalnya, ilmu yang berkenaan dengan apa yang akan kita lakukan (mengajarkan ilmu agama pada istri dan anak; menasehati istri; mengingatkan suami; dll) dan ilmu tentang bagaimana melakukan (mendampingi suami; menggauli istri/suami; melayani suami; mendidik anak; mengelola keuangan keluarga; dll).

(2) Menikmati dalam mempersiapkan kemampuan memenuhi tanggung jawab suami/istri. Ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh mereka yang sudah menikah, sehingga kadangkala membuat sebagian orang takut menikah. Seorang suami berkewajiban memberi nafkah kepada istri dan anaknya serta menyediakan tempat tinggal sesuai dengan kadar kesanggupannya. Berarengan dengan ini, tentu istri punya kewajiban (pula) untuk menerima tanggung jawab suami dengan hati terbuka. Yaitu tidak menuntut suami untuk memberikan sesuatu yang diluar kesanggupan untuk memberinya. Lebih-lebih jika ketidakrelaan seorang istri tersebut, membuat suami melakukan perbuatan mungkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Di sini, kuncinya tidak lain adalah pentingnya sebuah ilmu.

(3) Menikmati dalam kesiapan menerima anak. Hal ini, tentu perlu dipersiapkan sejak dini bahwa seorang yang siap melangsungkan perkawinan maka sejalan dengan itu, ia harus pula siap untuk menerima kehadiran seorang anak.

Lalu, apa yang perlu dinikmati dalam posisi menunggu jodoh berkait dengan kesiapan menerima kehadiran anak? Yaitu nikmatnya, bila kita mampu membangun keilmuan tentang bagaimana arti seorang anak, mendidik anak, perilaku perkembangan anak, psikologi anak, dll. Dampaknya, dikemudian hari tentu kita tidak menjadi kesal/kaget apabila menghadapi beberapa perubahan anak dalam perkembangn fisik dan tingkah lakunya, karena secara keilmuan kita telah mempersiapkannya.

(4) Menikmati dalam membangun kesiapan psikis. Tanpa dipungkiri, kadangkala kita hanya membayangkan indahnya pernikahan, tanpa berusaha belajar untuk selalu siap menerima kekurangan-kekurangan dari orang yang kelak menjadi pasangan (jodoh) kita. Pada episode menunggu jodoh inilah, kita harus menikmati dengan membangun kesiapan psikis sebagai bekal kelak setelah menikah. Tepatnya, kesiapan psikis –menerima kekurangan pasangan kita—ini tidak berarti lantas kita leluasa untuk berapologi terhadap kekurangan tersebut, sekalipun hal itu memang sepatutnya dimaklumi daripada dituntut untuk diperbaiki.

(5) Menikmati dalam membekali kesiapan ruhiah. Dalam episode menunggu jodoh ini, tentu sangat nikmat kalau kita bekali dengan kesiapan ruhiah. Betapa tidak? Karena bila kesiapan ruhiahnya memang benar-benar baik (jernih), ia dapat membedakan antara hak Adami dan kewajiban kepada-Nya -–sesuai ajaran Islam—sehingga ia tetap dapat memilih.

Dalam hal ini, al-Hasan bin Ali ra. memberitakan suatu ketika, seorang laki-laki berkata kepada cucu Nabi ini, “Saya mempunyai seorang putri. Jika ada yang berniat menikahinya, saya akan nikahkan dia.”

Maka al-Hasan berkata, “Nikahkan putrimu dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah SWT. Jika ia menyukai putrimu, ia pasti akan memuliakannya. Jika ia sedang marah, ia tidak akan menzalimi putrimu.”

Sungguh nikmatnya, bila kita memiliki kebersihan ruhiah dengan ketakwaan kepada-Nya, sikapnya akan tetap terkendali oleh ketakwaannya. Artinya, bila ia menyukai istri/suaminya, kecintaannya itu melahirkan sikap memuliakan.

Pada tataran demikian, kita sudah selayaknya menikmati episode menunggu jodoh dengan hal-hal yang mengantarkan pada terwujudnya keluarga sakinah. Sungguh ini sama sekali bukan kerugian, bukankah Allah telah berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) ….” (QS. An Nuur: 26). Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
· Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

· Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

Tahapan-Tahapan Dalam Mendidik Anak

Tahapan-Tahapan Dalam Mendidik Anak
Oleh: Arda Dinata
http://ardaiq.blogspot.com

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).

Berkenaan dengan peringatan “Hari Anak Nasional” yang diperingati setiap tanggal 23 Juli ini. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.

Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”

* *
Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).

Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.

Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan. Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).

Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).

Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”

Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).

Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).

Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”

Dalam bahasa lain, menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, secara hirarkis pokok-pokok dalam mendidik anak secara Islam itu meliputi tujuh tahapan tanggung jawab yang harus dilakukan orangtua dan pendidik, yaitu: Pertama, tanggung jawab pendidikan iman. Di dalamnya menyangkut tentang membuka kehidupan anak dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah; mengenalkan hukum halal dan haram kepada anak sejak dini; menyuruh anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun; dan mendidik anak untuk mencintai Rasul, keluarganya serta membaca Alquran.

Kedua, tanggung jawab pendidikan moral. Jika sejak masa kanak-kanak, ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, ia akan memiliki kemampun dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, di samping terbiasa dengan akhlak mulia. Sehingga dari sini, anak akan terhindar dari jeratan perilaku suka berbohong, suka mencuri, suka mencela dan mencemooh, serta terhindar dari kenakalan dan penyimpangan yang dilarang agama.

Ketiga, tanggung jawab pendidikan fisik. Tanggung jawab ini dimaksudkan agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah, dan bersemangat. Amanat ini di dalamnya berisi tentang tanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga dan anak; mengikuti aturan kesehatan dalam makan, minum dan tidur; melindungi diri dari penyakit menular; merealisasikan prinsip tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain; membiasakan anak berolah raga; membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larut dalam kenikmatan; membiasakan anak bersikap tegas dan menjauhkan diri dari penggangguran, penyimpangan serta kenakalan.

Keempat, tanggung jawab pendidikan rasio (akal). Orangtua dan pendidik hendaknya mampu membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu agama, kebudayaan dan peradaban. Di sini, anak diusahakan untuk selalu belajar, menumbuhkan kesadaran berpikir, dan kejernihan berpikir (baca: kesehatan berpikir).

Kelima, tanggung jawab pendidikan kejiwaan. Pendidikan ini dimaksudkan untuk mendidik anak berani bersikap terbuka, mandiri, suka menolong, bisa mengendalikan amarah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan jiwa dan moral secara mutlak. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mendidik anak untuk tidak bersifat minder, penakut, kurang percaya diri, dengki, dan pemarah.

Keenam, tanggung jawab pendidikan sosial. Yakni mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama. Di antaranya berupa penanaman prinsip dasar kejiwaan yang mulia didasari pada akidah islamiah yang kekal dan kesadaran iman yang mendalam. Sehingga si anak di tengah-tengah masyarakat nantinya mampu bergaul dan berperilaku sosial dengan baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.

Ketujuh, tanggung jawab pendidikan seksual. Di sini, orangtua dan pendidik hendaknya mampu mendidik tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sejak ia mengenal masalah-masalah yang berkenaan dengan naluri seks dan perkawinan. Sehingga ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan-urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam. ***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

REFERENCE MOTIVATION SUCCESS

Reference for motivate, inspire, stimulate, incite, spur, goad, idea, reason, change, act, etc.

1. Product Catalog Phenomenal Motivation, Success, Health And ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - 29 Long Bridge Drive. 3. rd. Floor. Mount Laurel, NJ 08054. Phone: 609.636.0928. keith.shaw@MindBodySpiritCentral.com. Product atalog ...www.mindbodyspiritcentral.com/downloads/MBSCCatalog62008.pdf -

2. Daily Motivation Success QuotesJenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - 1. 500SelfHelp. FamousQuotes. FamousQuotes. FamousQuotes. to MotivateandInspire. youeveryday! Thisselfhelpbookoffamousquotesisa gift to youfrom: ...www.free-daily-motivational-self-improvement.com/support-files/500-motivational-quotes-free-book.pdf

3. Utilizing Assessment to Improve Student Motivation and Success Amy ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - One method teachers can instigate this positive motivation-success cycle is to ... motivation-success cycle will continue if students witness and reflect on ...www.usca.edu/essays/vol142005/woytek.pdf -

4. BIG HORN MIDDLE SCHOOL STUDENT HANDBOOK 2006-2007 RESPONSIBILITY ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - BIG HORN MIDDLE SCHOOL. STUDENT HANDBOOK. 2006-2007. Sheridan County School. District Number One. P. O. Box 490. Big Horn, Wyoming 82833. (307) 674-8190 ...www.sheridan.k12.wy.us/PDF_files/2006-2007_MS%20Handbook.pdf -

5. CHAPTER 2 THEORIES ABOUT COMPETENCE-MOTIVATION, PERCEIVED ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - from a complex interaction between initial motivation, success-frequency. and modes of valuing and interpreting performances. The latter two are ...dissertations.ub.rug.nl/FILES/faculties/ppsw/1992/e.s.kunnen/c2.pdf -

6. Your Power Within! Confidence - Motivation - Success! jewelcase CD ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Confidence - Motivation - Success! by Beverly Hills Hypnosis. Beverly Hills Hypnosis. Beverly Hills Hypnosis. Your Power Within! Confidence - Moti. ...payplay.fm/pdf/covers/b/h/bhhypnosis11.pdf -

7. CREATE MOTIVATIONJenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Motion creates motivation. Success breeds. success. We might even catch ourselves. having fun. Just give your word—and keep it ...www.fallingawake.com/book/fa/230.pdf -

8. International Cooperation: Motivation, Success Factors and ...Leadership and Cooperation in an international business context. Titel:. International Cooperation:. Motivation, Success Factors and Critical Assessment ...content.grin.com/data/8/43338.pdf -

9. Making Employee Motivation a Partnership Bernard L. Erven ...Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Motivation success requires more than the employer’s sole reliance on satisfaction of. needs. Reinforcement of desired behaviors and cooperation between ...aede.osu.edu/people/erven.1/hrm/motivation.pdf -

10.Learning From The SamuraiJenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - about motivation, success and achievement – ... “...there are commonalities among the great thinkers about motivation, success ...www.jamesrandel.com/samurai.pdf -

24 July 2008

Kesempitan Menjadi Keleluasaan

Kesempitan Menjadi Keleluasaan
Oleh: ARDA DINATA
http://ardaiq.blogspot.com


“Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

* * *
Pada tanggal 14 Agustus 2007, jam 21:48, saya menerima pesan pendek (SMS) dari seseorang yang belum pernah ketemu wajah. Namun, SMS itu baru saya ketahui dan dibaca setelah shalat subuh pagi harinya. Isi SMS itu adalah:

“Saya Hamzah, saya mau tanya Pak.Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah berat, tapi kita ragu dan takut untuk menghadapinya karena merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah itu?”

Begitulah isi SMS-nya kurang lebih. Tadinya, saya langsung ingin menjawab lewat SMS lagi, tapi saya berpikir kayanya jawabannya tidak akan maksimal, apalagi harus pijit-pijit huruf lewat HP kayanya lama sekali dan butuh beberapa SMS. Makanya, saya memutuskan untuk memberi saran atas pertanyaan tersebut lewat tulisan ini. Semoga saudara Hamzah dapat berkenan dan teman-teman yang suka baca blog-ku di: MIQRA INDONESIA, juga dapat mengambil manfaatnya. Amin….

* * *
TIAP manusia, saya yakin tidak bisa terlepas dari masalah dalam hidupnya. Begitu pun yang saat ini lagi dirasakan oleh saudara Hamzah. Pertanyaanya, apa yang meski kita lakukan ketika menghadapi masalah (berat) dalam hidup ini?

Dalam kaca mata Hasan Al-Bashri, masalah itu dipetakan dalam tiga kelompok besar, yaitu: masalah lingkungan hidup, masalah sarana atau kebutuhan hidup, dan masalah teman hidup.

Masalah lingkungan hidup ini, bisa menyangkut tentang masalah kekeringan, kesulitan air bersih, banjir, bencana alam, dan lainnya. Adapun yang menyangkut masalah sarana atau kebutuhan hidup itu biasanya terkait dengan kesulitan mendapatkan penghasilan dan masalah kemiskinan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, menyangkut masalah teman hidup, tidak lain adalah seputar problematika dan romantika dalam usaha mendapatkan pasangan hidup yang halal dan kita perlukan dalam hidup bermasyarakat.

Untuk itu, dalam kehidupan ini seharusnya kita tidak usah takut dan ragu dalam menyikapi suatu masalah. Dan sebaliknya, kita pun tidak boleh meyepelekan suatu masalah yang kita hadapi, sekecil apa pun masalah itu. Pokoknya, bersikaplah secara proposional dan bijaksana.

Di sini, kuncinya kita harus berusaha berfikir secara menyeluruh dan terbuka. Artinya, sesungguhnya masalah itu muncul kepermukaan, pasti sadar ataupun tidak sadar ada pemicunya. Ada sebab musababnya, ada aksi ada reaksi. Dan dari kesadaran inilah, makanya kita harus mencari jalan keluar (jawabannya) dan menyelesaikan masalah tersebut. Bukannya sebaliknya, kita menyerah begitu saja tanpa ada usaha yang berarti. Ingat janji Allah, inna ma’al ‘usri yusran, sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan.

Kiat Menghadapi Masalah

Kalau kita mau jujur, sesungguhnya masalah atau kesusahan itu diapit oleh dua kemudahan sebagai solusinya. Dan di sini, kuncinya tergantung dari sikap kita dalam menyikapi masalah tersebut. Bukankah, Allah itu menimpakan suatu masalah pada umatnya, hal itu sesuai dengan kemampuan umat yang bersangkutan?

Berikut ini ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu masalah dalam hidup manusia, yaitu:

1. Memetakan Masalah

Langkah pertama yang dapat Anda lakukan agar dapat keluar dari suatu masalah adalah dengan melakukan pemetaan terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dengan melakukan pemetaan masalah tersebut, maka kita dapat mengetahui: masalah-masalah apa saja yang sedang kita hadapi, derajat ringan-beratnya dari masalah, apakah masalah itu bersifat pribadi atau umum dirasakan oleh orang banyak, dan lainnya?

Dengan terpetakannya masalah yang kita hadapi, tentu sedikit banyak secara psikologis telah mengurangi beban masalah itu sendiri. Sebab, adakalanya masalah itu muncul dari suatu masalah sebelumnya yang tidak terselesaikan. Untuk itu, segera lakukan pemetaan masalah yang Anda hadapi dalam hidup ini.

2. Mencari Alternatif Penyelesaian Masalah

Saya punya keyakinan, kalau setiap masalah itu ada jalan penyelesaiannya. Di sini, kuncinya tergantung masalah waktu saja. Semakin gigih kita berusaha keluar dari masalah itu, maka semakin cepat masalah hidup itu kita selesaikan. Untuk itu, setelah kita mampu menyusun peta masalah yang kita hadapi, lalu kita coba segera menyusun alternatif-alternatif apa saja yang dapat menjadi jalan keluar dari penyelesaian masalah tersebut.

Apalagi, pada era globalisasai saat ini, sungguh banyak sarana dan referensi yang dapat menjadi inspirasi dan masukkan dalam menyusun alternatif sebagai jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Kuncinya, ada pada mau tidak kita berusaha mencari sumber-sumber solusi tersebut. Lagi pula, dalam hidup ini kita hanya dituntut untuk selalu berusaha, dan hasil akhirnya kita serahkan pada keputusan Allah SWT.

Semakin banyak kita mendapatkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah, maka kita akan semakin optimis untuk keluar dari masalah tersebut dan yang jelas, makin berkurang saja beban (pikiran) kita dari problem masalah tersebut. Bukankah dengan banyaknya alternatif itu, kita bisa mencoba dari beberapa alternatif (yang telah kita susun) itu, mulai dari yang ringan sampai dengan yang tersulit sekalipun.

3. Berusaha dan Bersabar

Langkah ketiga ini merupakan langkah perwujudan dari langkah-langkah sebelumnya. Inilah langkah nyata yang harus dilakukan oleh Anda yang ingin keluar dari suatu masalah. Caranya, berusahalah Anda untuk mencoba menerapkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah yang telah disusun sebelumnya secara sungguh-sungguh. Sebab, melalui usaha sungguh-sungguh itulah suatu perubahan akan didapat. Begitu pun, bila Anda menginginkan keluar dari suatu masalah, maka berusahalah secara maksimal dan sungguh-sungguh untuk ke luar dari masalah yang dihadapi tersebut.

Setelah kita berusaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi, maka tugas kita selanjutnya adalah berdoa kepada pemilik jalan keluar dari masalah itu, yaitu Allah SWT, agar diberi jalan keluar secepatnya. Untuk itu, setelah berusaha dengan keras dan cerdas agar keluar dari masalah, maka kita harus bersabar menerima hasilnya. Karena Allah itu bersama orang-orang yang sabar.

4. Lakukan Istighfar

Langkah selanjutnya, yang tidak boleh dilupakan ketika kita menghadapi suatu masalah dalam hidup ini adalah melakukan istighfar. Yakni mengucapkan “Astaghfirullah”. Inilah amalan baik yang dilakukan setelah kita melakukan amal tercela.

Beristighfar itu perlu dan harus, bukan karena kita sering berbuat khilaf. Namun, karena istighfar itu sendiri memiliki kemuliaan dan punya banyak keutamaan tersendiri, yang barang kali tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan membiasakannya selalu beristighfar.

Pokoknya, istighfar itu selalu memberi jalan ke luar bagi suatu masalah. Islam tidak pernah membiarkan satu lubang kesulitan pada manusia (lebih-lebih hal itu terkait dengan masalah karakter kemanusia yang memiliki banyak kekurangan), lalu lubang itu dibiarkannya menganga tanpa upaya untuk menutupnya.

Akhirnya, beristigfahlah setiap saat, karena ia mengangkat bencana, menghilangkan kesusahan, dan memudahkan rezeki. Untuk itu, bila kita ingin kesempitan (baca: masalah) menjadi keleluasaan, maka beristighfarlah. “Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah sebagai kegembiraan, kesempitan menjadi keleluasaan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

Catatan:
Khusus buat Hamzah dan Pembaca MIQRA Indonesia, semoga penjelasan ini memuaskan dan menjadi jalan kebaikan buat siapa pun yang mempraktekkan. Amin …..

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
· Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

· Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

Berprestasi Melalui Tulisan

Berprestasi Melalui Tulisan
Oleh: Arda Dinata
http://ardawriters.blogspot.com

DUNIA tulis menulis tidak hanya milik kaum wartawan. Siapa pun, kalau mau berlatih, bisa juga jadi penulis. Masalahnya, kadang-kadang kita tidak menyadari potensi yang dimiliki. Melalui tulisan ini, penulis mencoba berbagi pengalaman dalam bidang tulis menulis kepada pembaca MIQRA INDONESIA.

Tujuan utama dalam tulis menulis, adalah dimengertinya setiap kalimat yang kita susun bagi para pembaca. Kalimatnya tepat, jelas, dan tidak membingungkan pembaca. Selain itu, tulis menulis bermaksud untuk mengungkapkan fakta, data, perasaan, sikap, isi hati dan pikiran secara efekif kepada pembaca.

Bagi calon penulis, setidaknya ada tiga tahap yang harus dilalui. Yakni teknik penulisan, muatan atau isi, dan kontinuitas menulis. Barangkali pembaca MIQRA INDONESIA telah menguasai teknik penulisan dan isinya, tetapi malas untuk menulis secara kontinyu. Tentu hasilnya akan tersendat-sendat dikala menuangkan ide ke dalam tulisan. Atau pembaca MIQRA INDONESIA telah memiliki simpanan data, fakta dan ilmu pengetahuan sebagai calon isi tulisan. Tetapi, belum mengetahui teknik penulisan dan tidak secara kontinyu menulis, maka dapat dipastikan lebih sering menghadapi kegagalan. Sebaliknya, teknik dan kontinyuitas telah pembaca MIQRA INDONESIA miliki, tetapi tidak pernah berusaha menambah wawasan dan isi tulisan tersebut. Sehingga tulisan terasa kering, tidak berkembang dan membosankan.

Berdasarkan pengalaman, tidak terlalu banyak syarat sebenarnya untuk memulai menulis. Awalanya, kita harus selalu mencoba menulis, menulis, dan menulis apa saja yang ada dalam pikiran serta banyak membaca. Kemudian hasil dari tulisan itu, kita kirim ke surat kabar tertentu. Tapi, tentunya sebelum tulisan tersebut kita kirimkan, terlebih dahulu kita perlu membaca ulang dan merevisinya beberapa kali. Barangkali, ada kata-kata yang kurang tepat atau rancu. Di sini yang perlu diperhatikan juga adalah masalah ‘selera’ redaksi surat kabar tersebut.

Bagi seorang penulis, buku, membaca dan menulis adalah sebagian dari hidupnya. Penulis tanpa buku, akan menghasilkan tulisan yang hambar dan tidak berbobot. Sehingga ada seorang penulis yang mengatakan bahwa “Berbobot atau tidaknya sebuah tulisan, adalah karena ditunjang oleh banyaknya buku yang pernah dibaca penulisnya.”

Dari aktivitas menulis tersebut, selain kita telah berdakwah lewat tulisan. Kita juga akan mendapatkan imbalan materi. Besarnya honorarium tergantung kebijaksanan redaksi surat kabar yang bersangkutan, berkisar antara Rp. 10.000 sampai 200.000 rupiah per tulisan (puisi, cerpen, artikel, resensi buku, dll), bahkan lebih. Cukup lumayan bukan?

Bayangkan kalau pembaca MIQRA INDONESIA mampu menulis secara produktif. Misalnya, tiap hari mampu menulis satu tulisan, maka dalam satu minggu terkumpul tujuh buah tulisan. Lalu tulisan itu, kita kirimkan ke tujuh surat kabar dan ternyata dimuat, maka berapa pendapatan yang pembaca MIQRA INDONESIA terima? Sungguh luar biasa … bukan! Ini idealnya dan kenyataannya tergantung dari aktivitas dan kreatifitas diri kita sendiri.

Menurut The Liang Gie (1983), ada enam jenis nilai yang akan dilahirkan dalam tulis menulis, yaitu:

1. Nilai kecerdasan (Intellectual value).
Dengan sering menulis yang antara lain berupa menghubungkan buah pikiran yang satu dengan yang lain, merencanakan rangka uraian yang sistematis dan logis serta menimbang-nimbang sesuatu perkataan yang tepat. Maka seseorang akan senantiasa bertambah daya pikirnya, kemampuan hayalnya sampai tingkat kecerdasannya.

2. Nilai pendidikan (Educational value).
Seseorang pemula yang terus menulis, walaupun naskahnya belum berhasil diterbitkan atau berkali-kali ditolak. Sesungguhnya itu melatih diri menjadi tabah, ulet, dan tekun, sehingga akhirnya pada suatu hari mencapai keberhasilan. Setelah menjadi penulis yang berhasil, bilamana ia terus menghasilkan karya tulis, ini berarti ia dapat memelihara ketekunan kerja dan senantiasa berusaha memajukan diri. Itu semua merupakan nilai pendidikan yang sukar diperoleh dari sekolah manapun.

3. Nilai kejiwaan (Psychological value).
Bilamana karena keuletan terus menerus menulis dan akhirnya tulisannya dapat dimuat dalam surat kabar terkenal atau diterbitkan sebagai buku oleh penerbit terkenal. Sehingga, lahirlah pada diri penulisnya kepuasan batin, kegembiraan kalbu, kebanggaan pribadi, dan kepercayaan diri.

4. Nilai kemasyarakatan (Social value).
Seseorang penulis yang telah berhasil dengan karya-karya tulisannya, biasanya akan memperoleh penghargaan di masyarakat. Paling tidak, namanya dikenal oleh para penerbit, pengusaha toko buku dan sidang pembaca tertentu.

5. Nilai keuangan (Financial value).
Tentu saja, jerih payah dari seorang penulis yang berhasil akan menerima imbalan uang dari pihak yang menerbitkan karyanya, seperti yang penulis gambarkan di awal tulisan ini.

6. Nilai filsafat (Philosophical value).
Salah satu gagasan besar yang digumuli para ahli pikir sejak dulu ialah keabadian. Jasad orang-orang arif tidak pernah abadi, tetapi buah-buah pikiran mereka kekal diabadikan melalui karangn yang ditulis. Sampai hari ini, manusia modern mengetahui kearifan Plato melalui naskah percakapannya; kita mengetahui luasnya pemikiran Imam Al-Ghazali melalui karya-karya tulisnya; dll. Dunia Timur menyadari nilai ini dengan pepatahnya, “Segala sesuatu musnah, kecuali perkataan yang tertulis.” Waallahu’alam.*

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

2. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Science critical to climate change action

A leading soil scientist is urging governments to listen to the experts on climate change, and act now.

Dr Ian Porter is an advisor on the Montreal Protocol - the panel that has successfully tackled the hole in the ozone layer.

Dr Porter says scientific advice has been crucial to healing the ozone, and in beginning the work on climate change.

"Now under the Montreal Protocol, the HCFCs are being regulated for phase out and that work has done six times more than the first commitment period of Kyoto will do," he says.

"So there's been a real benefit of the Montreal Protocol, not just for ozone depletion, but also for climate change."

www.abc.net.au

Business Plan

by. wikipedia
This is a summary article that covers many topics related to business plans - their content, how they are used, legal issues, and spoofs of business plans, among others. - please see individual sections for links to detailed discussions of various topics relating to business plans.

1 Business Plan Content

2 Business

2.1 Support services

2.2 Resources for researching facts and figures

2.2.1 Internal corporate records

2.2.2 Free information

2.2.3 Fee-based services

2.3 Strategic Analysis

2.4 Forecasts: Modeling Techniques

3 Presentation Formats

4 Revisiting the Business Plan

4.1 Cost overruns and revenue shortfalls

5 Legal and Liability Issues

5.1 Disclosure requirements

5.2 Limitations on content and audience

6 Open Business Plans

7 How Business Plans are Used

7.1 Venture Capital

7.2 Public Offerings

7.3 Within Corporations

7.3.1 Fundraising

7.3.2 Total Quality Management

7.3.3 Management by Objective

7.3.4 Strategic Planning

7.4 Education

7.4.1 K-12

7.4.2 Higher Education

8 Satires of Business Plans

9 References

10 See also


22 July 2008

knowledge of forestry [Agroperhutanan ........ ]

A former Riau Forestry Service head insisted on a corruption trial in Corruption Crime Court in Jakarta last week that he just signed logging license of Annual Working Plan (RKT) for companies and handed over the responsibility to his subordinates.

Media reports said that Burhanuddin Husin, former Riau Forestry Service Head and now Kampar District Head, told a corruption court in Jakarta last week (4/7/2008) that he had nothing to do with verdict of misusing of logging licenses to clear natural forests which prosecute the Pelalawan District Head Azmun Jaafar.


Agroperhutanan Menjanjikan Kerimbunan Vegetasi
Oleh Arda Dinata
http://pollutionnews.blogspot.com/

Email: arda.dinata@gmail.com

Mungkin Anda pernah melintasi atau berjalan-jalan saat liburan di wilayah pedesaan. Di sana kita bisa menikmati pemandangan rimbunnya dedaunan yang menghijau di sekeliling pemukiman. Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan pemandangan indah menawan. Kondisi seperti ini, tentu sangat susah kita temui di daerah perkotaan.

Pemandangan rimbunnya vegetasi menghijau semacam itu, tidak lain terbentuk oleh tajuk pepohonan yang memenuhi tata guna lahan. Bisa lahan pertanian, pekarangan, kebun, atau talun-kebun. Sehingga, bila dilihat dari kejauhan, kondisi tersebut seperti hutan alami. Dan tata guna lahan tradisional yang membentuk hutan buatan ini, dikalangan para ahli pertanian menggolongkannya ke dalam istilah sistem agroperhutanan tradisional.

Istilah lain yang digunakan berkait agroperhutanan adalah wanatani, agroforestry. Menurut Whitten, dkk., dalam Ekologi Jawa dan Bali, agroperhutanan diartikan sebagai sistem tata guna lahan yang sesuai dengan praktek-praktek budaya dan kondisi lingkungan setempat, yang tanaman semusim atau tahunan dapat dibudidayakan secara bersama-sama atau rotasi, bahkan kadang-kadang dalam beberapa lapisan sehingga memungkinkan produksi yang dilakukan terus menerus karena pengaruh peningkatan kondisi tanah dan iklim mikro yang tersedia di hutan. Sistem ini juga mencakup peternakan.

Keberadaan agroperhutanan ini, sebenarnya dalam tatanan budaya daerah di Indonesia secara nyata telah dipraktekkan jauh-jauh hari oleh masyarakat. Namun, keberadaan pola ini ada yang telah dirubah oleh orang-orang yang hanya berpikir pendek (sesaat). Padahal, kalau kita berpikir bijaksana, keberadaan sistem agroperhutanan tradisional itu dapat beradaptasi terhadap perubahan biofisik dan sosial-ekonomi masyarakat.

Bukti adanya pola agroperhutanan di masyarakat, dapat kita lihat dari tradisi yang pernah dilakukan selama ini. Misalnya, di pulau Jawa, kita mengenal bermacam-macam sistem agroperhutanan, antara lain: sistem pekarangan dan talun-kebun di Jawa Barat; penanaman buah-buahan di lahan ladang (di Jawa Barat dikenal dengan sebutan huma); sistem mixed gardening (kebun campuran) ---masyarakat Purworejo, Jawa Tengah disebut krakal, dan kebun di Malang, Jawa Timur---.

Untuk daerah lain, dikenal pula dengan sistem, seperti: kebun campuran yang disebut dusun di Ambon dan Seram, mamar di Timor, serta porlak di Batak; penanaman kopi di lahan ladang di Sulawesi; penanaman kopi dan damar yang dikombinasikan di lahan ladang di Sumatera; penanaman rotan di bekas ladang di Kalimantan Timur; penanaman karet dan lada di bekas ladang di Kalimantan.

Yang penting diperhatikan dalam pengelolaan sistem agroperhutanan tradisional adalah harus melakukan pendekatan ekosistem atau holistik. Yakni pendekatan yang memandang bahwa unsur-unsur dalam lingkungan tidak berdiri sendiri. Tapi, ia merupakan satu kesatuan integrasi yang terjadi dalam sistem. Artinya akan terjadi interaksi yang nyata/erat antara sistem biofisik dengan sistem sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dampaknya, bila terjadi perubahan pada salah satu komponen sistem lingkungan tersebut, maka seluruh komponen lain akan ikut berubah.

Dalam hal ini, anak cucu kita, tentu tidak akan terkena dampak yang cukup bermakna bila setiap kita melakukan perlakuan terhadap kehidupan ekosistem dan komunitas alam secara agroperhutanan. Dan justru sebaliknya, ia akan menikmati buah perlindungan dari nenek moyangnya.

Dalam konteks ini, tentu cukup singnifikan apa yang dinyatakan Soemarwoto, bahwa agroforestry (agroperhutanan –pen) ini memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan budaya bagi masyarakat pedesaan. Dengan perkataan lain, tata guna lahan tersebut memiliki fungsi ganda. Diantara fungsinya, adalah berupa menahan erosi tanah, mengatur sistem hidrologi, melakukan pencagaran atau konservasi plasma nutfah, dan memberikan efek positif kepada iklim mikro.

Selain itu, fungsi lainnya yang tidak kalah penting adalah memberikan fungsi sosial-ekonomi yang sangat berarti bagi penduduk pedesaan, misalnya berupa menghasilkan produksi untuk menopang kehidupan penduduk, atau menghasilkan produksi komersil dan produksi yang dapat diperjual belikan.

Adapun gambaran tata guna lahan yang menggunakan sistem agroperhutanan (baca: ditanami oleh aneka ragam jenis tanaman, baik tanaman semusim maupun tahunan), diantaranya meliputi bentuk tanaman yang menyusun bagian paling bawah adalah jenis tanaman merambat di permukaan tanah, seperti ubi jalar. Pada bagian atasnya terdapat tanaman semak-semak perdu yang memiliki tinggi kurang dari satu meter, seperti talas, ganyong, lengkuas, jahe, leunca, cabe rawit, dll.

Sementara itu, pada bagian atasnya lagi, terdapat jenis tanaman lain yang memiliki tinggi 1-2 meter, seperti singkong, jagung, dll. Sedangkan di atas tajuk-tajuk tanaman tersebut terdapat tanaman yang memiliki ketinggian 2 – 5 meter, misalnya jeruk, pepaya, dll.

Pada bagian kanopi yang lebih atas ada tanaman buah-buahan, kayu bakar, dan bahan bangunan, seperti: mangga, rambutan, nangka, petai, albasiah, bambu, dll. Adapun di bagian tajuk tanaman yang teratas diisi oleh jenis tanaman yang memiliki ketinggian lebih dari 8 meter, contohnya pohon kelapa dan aren.

Akhirnya, dengan adanya pola agroperhutanan ini, maka akan membuat rakyat di suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lokal yang melakukan hubungan dengan lingkungan alam secara berkelanjutan dan lestari. ***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
• Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

• Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA:
ARDA BLOGGING SUCCESS:
| PULSA KEKAYAAN GRATIS | Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|


| ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia |

MENU ARDA EKLIPING INDONESIA:
| BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN |

MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA:
| Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis |

MENU ARDA PENULIS SUKSES:
| Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis |

MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG:
| Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 |

MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN:
| Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan |

MENU MIQRA INDONESIA:
| Home Inspirasi | Opini | Optimis | Sehat-Healthy | Keluarga-Family Life | Spirit-Enthusiasm | Ibroh-Wisdom | Jurnalistik | Lingkungan-Environment | Business | BooK | PROFIL | Jurnal MIQRAINDO | Reseller News Indonesia |

DAFTAR KORAN-MAJALAH INDONESIA:
| Pikiran Rakyat | KOMPAS | Galamedia | Republika | Koran Sindo | Bisnis Indonesia | Sinar Harapan | Suara Pembaruan | Suara Karya | Suara Merdeka | Solo Pos | Jawa Pos | The Jakarta Post | Koran Tempo | Media Indonesia | Banjarmasin Post | Waspada | Suara Indonesia Baru | Batam Pos | Serambi Indonesia | Sriwijaya Post | Kedaulatan Rakyat | Pontianak POS | Harian Fajar | Harian Bernas | Bangka Post | Harian Surya | Metro Banjar | Pos Kupang | Serambi Indonesia | Kontan | Majalah Gamma | Majalah Gatra | Majalah Angkasa | Majalah Intisari | Majalah Info Komputer | Majalah Bobo | Majalah Ummi | Majalah Sabili | Majalah Parentsguide | Majalah Suara Muhammadiyah | Majalah Amanah | Majalah Tabligh | Majalah Insight |Majalah Annida | Majalah Network Business | Tabloid PC+ | Majalah Komputer Easy | Tabloid NOVA |Loka Litbang P2B2 Ciamis |


MIQRA INDONESIA GROUP
Kantor Pusat
: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396
Telp. (0265) 630058
Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia,
Email : miqra_indo@yahoo.co.id
Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/
Design by Arda Dinata,
Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia